msterdam (HvA) ini punya relasi dari sejumlah negara. Selama di Istanbul, tercatat dua kali wanita berusia 44 tahun itu pindah model agency.
Di kota bekas penaklukan Konstantinopel itu. Tentu keseharian Maia di dunia modeling menyusun jadwal photo shoot atau pemotretan sejumlah model. Sesekali bahkan memberikan briefing atau arahan tema photoshoot yang akan dilakukan.
Pola kerja yang seperti itu dirasakan Maia butuh tantangan lebih. Pada pengujung tahun itu dia memilih keluar dari zona nyaman. Istri dari Malik Atmadipoera itu merasa bisa membuat sebuah perusahaan model agency sendiri. Alasannya hanya satu, setidaknya bisa mengakomodasi model lain yang tidak tertampung di satu agensi. Wanita asli Sawojajar, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang itu akhirnya balik ke Indonesia untuk mewujudkan cita-citanya itu.
Baru pada awal 2014 dia mendirikan perusahaan model agency sendiri yang dinamai Varna Delapan Production. Model agency yang dia bentuk itu bisa dibilang langsung dicap berkelas internasional. Lantaran model yang akan ditawarkan ke klien 100 persen berdarah bule.
“Bukan masalah (model) lokal tidak laku, tapi melihat tren model untuk iklan promosi yang lebih laku justru bule,” katanya.
Wanita yang pernah mengenyam pendidikan di SMA Islam Malang itu memulai perjalanan perusahaan rintisannya penuh lika-liku. Dia harus mengambil pilihan membuka kantor di Jakarta agar memudahkan kerjanya. Tak hanya itu saja, susahnya mencari model bule yang datang ke Indonesia hingga mencari klien yang mau ditawari talent juga dirasakan saat buka beberapa bulan. Tak mau patah semangat, Maia yang punya relasi di Istanbul bisa dimanfaatkan. Bermodal pesan singkat dan telepon saja, sejumlah talent bule pun mau berdatangan ke Indonesia.
Jika dijabarkan, kini Maia punya belasan model bule dari lima negara di dua benua. Dari Benua Eropa ada dari Italia, Ukraina, Rusia dan Estonia. Kemudian dari Benua Amerika ada Brazil. Para model bule yang bisa dibilang memiliki kulit putih, hidung mancung dan tinggi proporsional di atas 170 centimeter menjadi pilihan Maia.
“Bahkan mereka itu tak masalah jika dibayar sama seperti model Indonesia,” jelas Maia.
Berbicara tarif model bule yang dia pegang, rata-rata untuk 8 jam per hari digaji Rp 3 juta. Namun gaji itu masih dibagi lagi sebesar 50 persen untuk akomodasi selama di Indonesia. Bahkan untuk keuntungan yang diambil Maia juga tak seberapa banyak. Terpenting baginya klien puas dengan talent yang didatangkan.
Dari kerjanya itu, talent yang didatangkan sudah mengisi lini masa media sosial produk sejumlah pakaian. Seperti kaos hingga pakaian formal kerap mendominasi permintaan model. Semua model yang dibawa Maia bekerja secara profesional ketika melakukan pemotretan. Ekspresi tegas hingga full senyum sudah menjadi kewajiban para model ketika pemotretan.
Terkait bahasa, Maia tak ada kendala. Dia setidaknya juga menjadi penerjemah ke klien yang dituju. Namun jalan karier Maia itu tak selalu mulus. Mendatangkan model bule juga pasti berurusan dengan pihak imigrasi.
Sebenarnya Maia sudah memberikan penjelasan ke talentnya bisa melengkapi identitas berupa paspor dan kartu izin tinggal terbatas (Kitas) saat datang ke Indonesia. Tapi ada saja oknum pihak kantor imigrasi mencari Maia karena dikira menyelundupkan warga negara asing (WNA).
“Masih ingat beberapa tahun lalu ada empat talent saya datang terus ditahan sama imigrasi karena alasan yang tidak jelas,” kenang Maia.
Untuk bisa lepas, setiap talent bule itu harus ditebus dengan uang Rp 20 juta. Ibu dua anak itu terkejut dan ingin marah. Sebab kali ini penahanan yang dilakukan pihak imigrasi sudah kelewatan. Padahal talent yang dia bawa itu mampu menunjukkan dokumen yang diminta. Alhasil demi bisa lepas, Maia rela mengeluarkan uang tebusan tersebut.
Apa yang dialami Maia itu kini jadi sebuah pelajaran. Apalagi selama dua tahun pandemi Covid-19 kemarin dia sempat sepi job. Namun tak masalah sebab ada sebagian talent pengertian dengan keadaan. Bahkan jika ada klien yang ingin memakai talent bule, Maia memilih talent yang tinggal di Indonesia.
Untuk saat ini, dia fokus membina talent bule di Kota Bandung. Sebab di sana dia ikut dengan sang suami yang turut membantu pemotretan. Meski menetap di kota kembang, dia sesekali juga pulang ke kampung halamannya, Kota Malang. (abm) Editor : Mardi Sampurno