Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sunardi, Napi Seumur Hidup Ahli Bikin Ukiran Kaligrafi

Mardi Sampurno • Sabtu, 1 Oktober 2022 | 00:41 WIB
HASIL BIMBINGAN KERJA: Sunardi (kanan) didampingi petugas Lapas Lowokwaru menunjukkan salah satu karya kaligrafi, kemarin. (BIYAN MUDZAKY HANINDITO/RADAR MALANG)
HASIL BIMBINGAN KERJA: Sunardi (kanan) didampingi petugas Lapas Lowokwaru menunjukkan salah satu karya kaligrafi, kemarin. (BIYAN MUDZAKY HANINDITO/RADAR MALANG)
AWALNYA UNTUK USIR BOSAN, KARYA DIORDER WAKIL MENTERI

Terali besi penjara tak bisa mengekang kreativitas Sunardi. Di sela menjalani membuat karya berupa ukiran kayu, khususnya kaligrafi. Dia belajar mengukir saat berada di Lapas Klas 1A Malang.

Tiga belas tahun sudah Sunardi menjadi warga binaan Lapas. Tapi dua tahun pertama, sejak 2011-2013, dia ditahan di Lapas Bondowoso dalam kasus pembunuhan. Karena dia memang asal Bondowoso dan didakwa membunuh di kota tape tersebut. Dia baru pindah ke Lapas Lowokwaru pada 2013. Bukan perkara mudah bagi Sunardi menjalani hukuman penjara seumur hidup.

”Musuh” terberatnya tentu rasa bosan. Karena itu dia harus melawan rasa bosan itu dengan banyak berkegiatan. Dia berusaha menjaga semangat hidup dengan memperbanyak merenung dan bertobat. Di sela itu, dia mengikuti banyak aktivitas. Salah satunya menjadi peserta bimbingan kerja. Dia belajar membuat ukiran kaligrafi dari kayu. “Saya 2013 pindah dari Bondowoso, ada dua tahunan saya di sana, sekitar 2011 masuk, sebelum dilayar ke Malang,” terang pria yang akrab disapa Cak Nardi tersebut.

Saat ditemui Jawa Pos Radar Malang kemarin (29/9) siang, dia baru saja melakukan tugas jaga tempat cukur rambut khusus warga binaan pemasyarakatan (WBP) di dalam. Nardi tidak menampik bila menjalani hukuman seumur hidup karena putusan kasasi itu bukan hal yang mudah. Dia awalnya mendapat vonis 14 tahun penjara. Kemudian banding dan hukumannya turun menjadi 12 tahun. Tetapi hasil kasasi jaksa kemudian memperberat lagi menjadi seumur hidup.

Tidak ada yang dia lakukan selama dua tahun berada di Bondowoso. Baru ketika pria asal Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso tersebut pindah ke Malang, dia mendapat kesempatan menata kehidupan. Di Malang, dia merasakan betulbetul bisa bertobat. “Di sini saya setiap habis salat merenungi apa yang sudah saya perbuat dan bagaimana cara saya untuk berubah ke depannya. Itulah saat saya menyadari kalau ke depan harus lebih baik,” imbuh dia. Sambil terus berdoa supaya hukumannyaturun menjadi 20 tahun penjara karena remisi.

Dua bulan berada di blok, dia pun mengikuti bimbingan kerja. Awalnya dia memulai dengan menjadi penjaga cukur rambut. Sambil sesekali ikut menjadi tukang cukur. Baginya itu kesempatan emas. Nardi merasa bila tidak melakukan apa-apa di dalam, dia bisa tidak tenang menjalani hukumannya.

Lalu mencoba ke bimker kayu, dengan membuat miniatur kendaraan seperti bus, sepeda motor besar dan truk sesuai pesanan. Kadang kala membuat furniture seperti kursi dan ranjang. Dia pun sudah tidak menghitung berapa karya miniatur yang sudah dia buat. Namun infonya, sudah tersebar ke banyak Lapas di seluruh Indonesia.

Sekarang kadang-kadang saja mengerjakan karya miniatur. Namun sejak 2019, dia mulai mengukir kayu. “Awalnya itu ada salah satu petugas memberikan gambar tulisan Allah. Ditanya apakah saya bisa membuatnya, saya bilang bisa,” tutur ayah satu anak tersebut.

Sejak itu, dia mulai terkenal sebagai tukang ukir kayu. Dari tahun 2019 tersebut, dia sudah mengukir setidaknya 30 karya yang berkaitan dengan agama Islam. Paling banyak adalah lafal Allah dan Muhammad. Semuanya kebanyakan dari bahan kayu palet dan pinus yang disediakan pihak Lapas. Kepada koran ini, dia menceritakan bagaimana proses pembuatan ukiran tersebut. Untuk lafal Allah dan Muhammad, dia bisa mengerjakan satu unit hanya dalam sejam saja. Nardi juga menunjukkan kaligrafi dengan tulisan Bismillahir Rahmanir Rahim dalam bahasa Arab. Butuh waktu satu hari untuk satu karya berukuran kurang lebih 10 x 5 sentimeter tersebut jadi. Tapi bisa lebih lama jika minta detail kecil-kecil.

Salah satu pencapaian yang dia ingat adalah pada 13 Oktober 2021 lalu. Ialah ketika Wakil Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) RI, Edward Omar Sharif Hiariej meminta membuat karya papan nama ukir dengan tulisan Edward. “Sayangnya agak mendadak (ordernya), kalau dikasih tahu lebih lama lagi saya bisa membuatkan kaligrafi juga,” kata dia.

Namun terlepas dari itu, apa yang dia kerjakan semata-mata untuk bertobat. Karena dia percaya bila mengerjakan sesuatu berlafazkan nama Tuhan akan memberikan berkah. “Intinya mengharapridho dan barokah dari Allah, supaya diberi kesehatan, umur panjang dan tentunya keringanan hukuman,” harap pria 40 tahun itu. (abm) Editor : Mardi Sampurno
#napi #kaligrafi #Sosok