Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Laris Manis Berkat TKI, Kini Incar Pasar di Sudan

Mardi Sampurno • Jumat, 20 Januari 2023 | 03:27 WIB
BERDAYAKAN PETANI: Yosea Suryo Widodo menunjukkan gatot dan tiwul instan yang sudah dikemas rapi. Tiap bulan ada ribuan bungkus yang dia kirim ke luar negeri. ( Photo By Radar Malang )
BERDAYAKAN PETANI: Yosea Suryo Widodo menunjukkan gatot dan tiwul instan yang sudah dikemas rapi. Tiap bulan ada ribuan bungkus yang dia kirim ke luar negeri. ( Photo By Radar Malang )
Ide Yosea Suryo Widodo untuk memproduksi gatot dan tiwul berasal dari lingkungan sekitarnya. Hasil panen ubi di wilayahnya, yakni di Desa Tlogorejo Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, cukup melimpah. Sayangnya, itu tak dibarengi dengan pengolahan produk. Sehingga harga jual pasca panen tak terlalu tinggi. Berawal dari kondisi itu, Suryo memiliki ide untuk mengolah ubi tersebut sebagai bahan pangan legendaris. Yakni gatot dan tiwul instan. Dia menilai bila makanan tradisional itu semakin sulit ditemui. ”Gatot dan Tiwul ini juga merupakan masakan warisan bangsa yang harus dilestarikan,” kata dia.

Sebagai bentuk keseriusan, di tahun 1994 dia mendirikan CV Riang Java Food untuk produknya. Kata ’riang’ sengaja dimasukkan dalam nama usahanya itu. Maksudnya agar dia melakukan kegiatan usaha dengan sukacita dan selalu gembira. ”Seiring waktu, usaha itu terus meningkat. Kami mulai melengkapi perizinan yang diwajibkan demi kelancaran usaha dan perbaikan kualitas produk,” imbuh Suryo. Dia menceritakan, berkembangnya produk gatot dan tiwul itu tak lepas dari dukungan Pemkab Malang. Melalui dinas terkait, Suryo mendapat pendampingan, bimbingan, dan pengarahan lewat pelatihan, diklat, seminar, atau pameran produk.

Permintaan dari konsumen pun semakin bertambah. Itu membuat kebutuhan bahan bakunya meningkat. Sementara hasil panen di desanya sudah tak mencukupi. Itu membuat Suryo harus membeli bahan baku di daerah lain. Seperti di Blitar, Trenggalek, Tulungagung, dan Gunung Kidul Jogjakarta. Dalam proses produksi gatot dan tiwul, Suryo melibatkan sejumlah pihak. Mulai dari petani, pengepul, dan pedagang. Selain itu, ada tujuh kelompok binaan yang saat ini berada di bawah naungan pria kelahiran 1979 itu. Kelompok binaan itu terdiri dari petani, yang secara khusus sudah diberi bibit ubi untuk ditanam.

Ketika panen, hasilnya akan dibeli Suryo. ”Jadi yang awalnya kami hanya untuk menambah nilai hasil panen ubi yang melimpah, kini ternyata membuka lapangan pekerjaan yang lumayan banyak,” kata dia. Jika ditotal, ada 100-an pekerja yang terlibat dalam produksi gatot dan tiwulnya. Baik dari warga Desa Tlogorejo maupun wilayah lainnya. Dalam sebulan, jumlah pekerja sebanyak itu bisa memproduksi 6.000 pcs gatot dan tiwul. Jumlah produksi itu tak hanya diplot untuk pasar dalam negeri saja. Sebab, beberapa gatot dan tiwul bikinan Suryo juga sudah menembus pasar internasional. Semua bermula di tahun 2016.

Saat itu, produknya dititipkan pada pusat oleholeh khas Kota Batu. Kebetulan, ada pengusaha asal Hongkong yang menjadi langganan di toko oleh-oleh tersebut. Ketika dia mencoba memasarkan gatot dan tiwul buatan Suryo di negaranya, ternyata banyak konsumen yang meminatinya. Pengusaha tersebut lantas mendatangi Suryo untuk melakukan kerja sama pengiriman ekspor. ”Tiap dua bulan atau tiga bulan sekali, saya kirimkan 500 pcs ke sana. Pandemi kemarin ini juga sempat berpengaruh, karena ada aturan pembatasan ekspor, tapi sekarang sudah normal lagi,” beber Suryo. Setelah berhasil merambah pasar Hongkong, di tahun 2019 Suryo melakukan ekspansi ke Malaysia. Ekspansinya di sana bermula dari suatu pameran yang diikuti di tahun tersebut. Ada pengusaha kelahiran Indonesia yang memiliki bisnis di Malaysia.

Pengusaha itu tertarik dengan gatot dan tiwul buatan Suryo. Keduanya lantas bekerja sama. Suryo mengatakan bila Malaysia menjadi negara peminat paling tinggi untuk produknya. ”Setiap bulan bisa sampai 1.000 pcs. Mungkin karena TKI di sana rindu makanan tradisional,” kata dia. Selain Hongkong dan Malaysia, Suryo juga rutin mengirim produknya ke Singapura dan Belanda. Lagi-lagi karena TKI lah produknya banjir pesanan. Tak berhenti di empat negara, Suryo kini membidik negara lain yang jaraknya lebih jauh. Yakni Sudan, di Benua Afrika.

Pada akhir bulan ini, dia mendapatkan kesempatan mempresentasikan gatot dan tiwul di salah satu pameran di negara tersebut. ”Ini sudah diminta mengirimkan sample ke kedutaan. Kalau deal, kami langsung pasok ke sana,” imbuhnya. Menembus pasar internasional bukan tujuan akhir yang ingin dia gapai. Ada satu lagi keinginan besar dari pria tersebut. Yakni bisa menjadikan gatot dan tiwul sebagai alternatif pangan pengganti nasi.

Sebab produk olahan itu juga kaya kandungan karbohidrat. ”Karena kan impor beras semakin banyak dan pemerintah mencanangkan ada makanan pangan pengganti beras. Gatot dan tiwul ini bisa menjadi opsi, karena kandungan karbohidrat juga tinggi, dan harganya tidak terlalu mahal,” paparnya. (*/by) Editor : Mardi Sampurno
#Sosok #Kabupaten Malang #radar malang