Sekitar tahun 2003, dia memutuskan untuk mendalami Chinese painting di salah satu klub di Guangzhou, Tiongkok. ”Karena di sana kan aslinya, jadi saya mendalami dasar-dasarnya di sana,” terangnya. Selama proses belajar, dia berangkat ke Guangzhou tiga kali dalam satu tahun. ”Sekali berangkat, saya bisa stay di sana selama satu bulan,” imbuhnya. Proses itu dilakoninya selama empat tahun
Melalui hasil belajarnya itu, dia menyebut ada empat dasar Chinese painting yang harus dikuasai. Yakni bunga sakura yang berarti musim salju, bunga anggrek yang berarti musim semi, bunga krisan yang berarti musim gugur, dan bambu yang berarti musim panas. ”Dalam Chinese painting, tidak boleh membuat sketsa dulu. Jadi, harus langsung pakai cat air,” kata Sutanto. Lelaki yang sebelumnya aktif membuka kelas lukis itu juga mengungkapkan, ada kertas khusus yang digunakan untuk Chinese painting. ”Nama kertasnya xuan zhi.
Dulu, dibuatnya dari pati singkong. Kalau sekarang sudah pakai bambu,” imbuhnya. Tekstur kertasnya sangat tipis. Sehingga, tidak boleh ada kesalahan sedikit pun ketika melukis. Jika terlalu banyak terkena air, kertas itu bisa sobek. ”Makanya tidak boleh ada kesalahan. Sekali salah, harus dibuang dan mulai dari awal,” terang Sutanto. Kuas untuk Chinese painting bernama Mao Bi, artinya stik berbulu. Kuas tersebut terbuat dari bulu serigala atau bulu domba. Demi kualitas terbaik, Sutanto membeli kertas dan kuas tersebut langsung dari Tiongkok. ”Kalau beli di sembarang tempat, gampang rontok,” imbuhnya sambil tertawa. Biasanya, Ketua Yayasan Sosial Hakka Malang itu memadukan lukisannya dengan kaligrafi Mandarin. ”Kalau untuk kaligrafi, biasanya pakai aksara Mandarin kuno yang belum disederhanakan,” kata dia.
Salah satu contoh lukisannya yakni bunga dan kupu-kupu. Lukisan yang dia buat dengan ukuran 2 meter x 1,3 meter itu dia tambahkan kalimat dalam aksara Mandarin. ”Itu tulisannya, bunga lagi mekar, kupukupu datang. Dengan kata lain, manusia kalau sudah sukses, temannya datang,” ujarnya. Alumni SMA Kalam Kudus itu sempat mengungkapkan, lukisan tersebut dibanderol Rp 20 juta. Sedangkan, untuk lukisannya yang terkecil, yakni dalam bingkai persegi dengan ukuran sekitar 20 sentimeter, dia banderol sekitar Rp 5 sampai Rp 6 juta. Sementara untuk kipas yang terbuat dari sutera, dia hargai Rp 350 ribu. Biasanya, Sutanto memasarkan lukisannya secara online. Pelanggannya datang dari banyak daerah. Seperti Jakarta, Bandung, hingga Hongkong. Selain menjual, beberapa lukisannya juga dia sumbangkan ke beberapa tempat.
Seperti Garden Palace Surabaya, Kantor Yayasan Sosial Hakka, dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Dia juga kerap berpartisipasi dalam pameran. Partisipasi terakhirnya dilakukan tahun lalu, dalam pameran bertajuk ’Art Tegar dan Tangguh’ di Hotel Grand Mercure Malang, 31 Desember 2022. Bangga Karya Kaligrafinya Terpajang di Museum China Selanjutnya ada Bonsu Bintarto Mulyo, pegiat seni kaligrafi China, atau biasa disebut Shu Fa. Dia merupakan keturunan ketiga dari kakeknya, yang merupakan pendatang asal China. Meski belum pernah menginjakkan kaki di tanah leluhurnya, salah satu karyanya telah terpajang dipajang di salah satu museum di China. Pria kelahiran 1954 itu mulai mempelajari Shu Fa saat duduk di di kelas 4 SD. ”Karena SD saya adalah sekolah Tionghoa, jadi Shu Fa adalah mata pelajaran tambahan yang wajib saat itu,” kata dia.
Namun, saat Presiden Soeharto menjabat, semua kegiatan ala Tionghoa dihentikan. ”Selama puluhan tahun itu saya tidak belajar lagi tentang kaligrafi ini. Sampai akhirnya Pak Soeharto turun dan Gus Dur naik, mulai lah dihidupkan kembali,” cerita dia. Setelah itu dia mulai bergabung dengan komunitas kaligrafi China, dan mulai mengirim karyakaryanya ke surat kabar berbahasa Mandarin di Surabaya, Xing Zhou Ri Bao. ”Saya iseng mengirimkan, ternyata diterima dan dimuat,” kata dia. Karya-karyanya juga dimuat di surat kabar asal Jakarta, International Daily. Selain menggeluti kaligrafi China, dia juga menekuni seni lukisnya. Saat ditemui Jumat lalu (20/1), dia menunjukkan beberapa karyanya. Termasuk yang pernah terbit di beberapa surat kabar berbahasa Mandarin.
Sampai saat ini Bintarto masih menyimpannya dengan rapi di map berwarna cokelat. Dia juga sempat memperlihatkan karya yang menjadi salah satu favoritnya. Yakni kaligrafi dalam kertas berukuran kecil, sekitar 10 x 25 cm. Tertulis kalimatnya ’seringlah bahagia’ dalam bahasa Mandarin. Beberapa karya darinya juga sempat diikutkan dalam kompetisi.
Salah satunya pada 2004 lalu, dalam kompetisi Shu Fa Shanghai Bang Shu. Saat itu, dia keluar sebagai juara ketiga. ”Yang paling membanggakan terjadi tahun 2012, saat karya saya dipajang di salah satu museum di China,” ujar dia dengan semangat. Karya tersebut dipajang di Museum Zheng He yang berada di Provinsi Fujian, China. ”Kakek saya berasal dari provinsi tersebut. Saya tentu bangga saat menerima kabar itu, meskipun saya belum pernah ke sana,” terangnya. (yun/dur/by) Editor : Mardi Sampurno