Sejak usia 5 tahun, Ilyas pun rajin berlatih bulu tangkis. Bahkan, saat duduk di bangku kelas 3 SD, dia sudah mewakili daerahnya untuk bertanding pada pekan olahraga SD di Jawa Timur.
Setelah itu dia juga rajin mengikuti berbagai turnamen bulu tangkis di berbagai daerah.
”Kompetisi pertama yang saya ikuti adalah Unitri Cup,” ujar pria yang kini berusia 22 tahun itu. Dengan dukungan kuat orang tuanya, juga motivasi yang tepat dari sang pelatih, Ilyas makin serius dalam berlatih bulu tangkis. Namun, klub tempatnya berlatih saat itu sebenarnya bukan khusus untuk penyandang disabilitas. Karena itu, dia sempat merasa kesulitan berkembang karena keterbatasan indra pendengarannya. Selain itu pelatihnya juga tidak mengerti bahasa isyarat.
Namun, Ilyas sudah bertekad untuk terus maju dengan cara apa pun. Berbagai kendala dan keterbatasan tak membuatnya menyerah. Lambat laun, dia bisa beradaptasi dan melalui masa-masa sulit tersebut. “Sekarang sudah terbiasa berlatih dengan membaca gerak bibir pelatih. Pelatih juga sering memberi arahan langsung dengan contoh gerakan,” terangnya.
Ilyas akhirnya makin sering dipercaya untuk mewakili sekolah dan daerah dalam kompetisi tingkat kota, provinsi, hingga dunia. Yang sangat membanggakan, dia berhasil membawa pulang dua medali emas dan satu perunggu dari Asia Pacific Deaf Badminton di Thailand pada September 2022. Ilyas mengaku sempat merasa gugup dalam kejuaraan tersebut. ”Karena saat itu merupakan kali pertama saya mengikuti kejuaraan international di tengah pandemi Covid-19,” kata Ilyas.
Meski demikian, dia tetap mengerahkan segala kemampuan terbaiknya. Berkat perjuangan kerasnya, pemuda yang kini kuliah di Universitas Negeri Malang itu meraih medali emas tunggal putra dan ganda putra. Sementara medali perunggu dia raih dari nomor ganda campuran.
Meskipun begitu, Ilyas mengaku pengalaman paling menegangkan adalah saat melawan Rusia di ajang Word Deaf Championship di Taipei pada 2019. “Rusia adalah lawan yang paling susah dikalahkan selama saya berlaga di berbagai kejuaraan bulu tangkis,” ujar pria yang mendapat bantuan penerjemah bahasa isyarat saat kuliah itu.
World Deaf Championships juga merupakan pertandingan yang paling berkesan bagi Ilyas. Sebab dia berhasil membawa pulang 3 medali emas dari ajang tersebut. Apalagi dia bisa bertemu dengan atlet dari banyak negara. “Saya lebih bisa mengenal karakter pemain dari berbagai negara,” imbuhnya.
Di luar banyaknya prestasi yang dia raih, Ilyas pernah merasa bosan. Sebab, selama bertahun-tahun hidupnya tercurah untuk olahraga tepok bulu itu. Bahkan dia sempat mencoba beralih ke cabang olahraga basket karena terlihat lebih rileks karena dimainkan bersama banyak orang.
Namun peluang untuk berprestasi bagi Ilyas tampaknya memang di olahraga bulu tangkis. Apalagi dia selalu punya impian bertanding di kejuaraan dunia. Lewat badminton, dia bisa mewujudkan impian seperti itu. Bahkan Ilyas ingin mencoba berlaga di kejuaraan umum. ”Kan pertandingan khusus disabilitas masih terbatas. Pertandingan umum juga memerlukan kekuatan fisik yang lebih. Itu yang membuat saya tertantang,” imbuhnya.
Ilyas saat ini sedang menjalani kuliah di Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga Universitas Malang. Pria yang sejak SD menempuh pendidikan di sekolah umum itu mengaku ingin mengetahui lebih jauh tentang olahraga dan kepelatihan. “Usia saya masih usia produktif untuk berprestasi, jadi sebisa mungkin saya manfaatkan waktu muda saya,” terangnya.
Selain itu, tidak adanya pelatih bulu tangkis khusus tunarungu juga membuatnya berkeinginan menjadi pelatih. “Harapan saya, kalau saya kuliah di kepelatihan, nanti bisa membantu teman-teman tuli yang berminat di olahraga,” tutup dia. (*/fat) Editor : Mardi Sampurno