Ayam kampung yang dikembangbiakkan Agus Prayudi bernama Pancamurti. Perkembangan bobot ayam itu lebih cepat ketimbang ayam kampung pada umumnya. Dalam dua bulan, beratnya bisa mencapai satu kilogram.
MOH. RIZAL
Sebelum dikenal sebagai peternak ayam kampung, Agus Prayudi awalnya membuka sebuah bengkel. Bengkel itu melayani perbaikan dinamo untuk skala industri.
Setelah beberapa tahun bergerak di bidang itu, dia mulai melirik bisnis peternakan.
”Awalnya hanya hobi. Seperti orang Jawa pada umumnya, saya juga punya peliharaan unggas,” kata dia kepada Jawa Pos Radar Malang, Selasa 6 Februari 2023.
Singkat cerita, pada 2008 lalu dia mulai menekuni bisnis peternakan. Awalnya dia berfokus untuk memproduksi telur ayam.
”Di awal-awal dulu hanya menghasilkan 200 sampai 250 butir telur per tahun,” kata dia. Agus lantas berkeinginan agar usahanya itu lebih besar lagi.
Baca Juga : Harga Daging Ayam Naik, Omzet Melejit.
Beberapa tahun setelahnya, tepatnya 2013 lalu, dia mulai membuka diri untuk menjalin kemitraan dengan pihak lain. Upayanya itu tak membuahkan hasil.
Sebab beberapa mitranya kurang berkomitmen. Dia juga mengalami kendala kurangnya sumber daya manusia (SDM).
Kerugian pun tak terelakkan. Agus mengestimasi bila saat itu dia sempat merugi sekitar Rp 1 miliar.
Karena kejadian tersebut, pada tahun 2018 dia mulai menghentikan kemitraan dengan pihak lain. Agus mencoba mengembangkan usahanya itu seorang sendiri.
Dia dibantu dua karyawan. Sejak saat itu, dia memproyeksikan untuk mengembangkan usahanya dari hulu ke hilir.
Tepatnya dari awal pembibitan hingga penjualan produk hasil peternakan. Ayam kampung pun dia pilih sebagai komoditas utama. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Ketekunannya itu mendapat perhatian dari beberapa pihak. Pada 2019 lalu, dia sempat diundang badan penelitian dan pengembangan (Balitbang) Provinsi Jatim.
Agus disuruh untuk mempresentasikan metode pengembangbiakan ayam kampung unggulan. Pada 2020 lalu, Agus memutuskan untuk mendirikan CV Pancamurti.
Itu sebagai bentuk keseriusannya dalam mengembangkan bisnis di bidang peternakan ayam kampung. Pusat usahanya itu berlokasi di Jalan Telaga Warna Blok E, Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru.
Sejak saat itu, usahanya terus berkembang. ”Sebelum pandemi, omzet sempat tembus Rp 200 sampai Rp 300 juta,” kata dia.
Namun saat pandemi Covid-19 terjadi, usahanya turut terimbas. Pria berusia 51 tahun itu pun terus memutar otak untuk menemukan formula mengatasi kerugian.
Perubahan fokus pun dilakukan. Agus yang awalnya menjual daging ayam kampung, kemudian beralih untuk fokus memasarkan telur dan bibit DOC (Days Old Chicken).
Baca Juga : Tiga Bulan, 10 Ayam Kampung Terkena Snot.
DOC sendiri merupakan bibit ayam yang baru menetas. Rata-rata usianya baru satu atau dua hari. Bobot anakan ayam itu berkisar di angka 35 gram.
Satu bibit DOC dibanderol Agus Rp 7 ribu. Kandangnya yang memiliki ukuran 150 meter persegi mampu menghasilkan 500 telur per minggu.
”Dengan metode penetasan oven, kemungkinan keberhasilannya mencapai 90 persen,” kata dia.
Pemesan bibit ayam kepadanya datang dari berbagai kota. Mulai dari Gresik dan daerah lain di Jawa Tengah.
Pria kelahiran tahun 1972 tersebut turut memperlihatkan antrean pemesan bibit, yang sudah tersaji hingga bulan April nanti.
Agus turut menjabarkan beberapa keuntungan dari pengembangbiakan ayam kampung. Menurutnya, ayam lokal tersebut lebih tahan terhadap penyakit. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Sehingga penggunaan obat-obatan bisa diminimalisir. Sementara terkait kelemahannya, dia menyebut bila ayam kampung memiliki pertumbuhan yang lebih lambat. Produksi telurnya juga lebih sedikit.
Untuk mengurai kelemahan tersebut, dia sempat berinovasi. Dimulai dengan mencari tahu berbagai jenis ayam lokal di Indonesia.
Dia lantas memilih beberapa ayam yang mempunyai sifat banyak bertelur dan bobot lebih besar.
Awalnya Agus tidak mengerti sama sekali tentang cara penyilangan. Dia hanya mengawinkan ayam-ayam itu berdasar feeling-nya.
Percobaan awalnya sempat gagal. ”Dulu kira-kira ada dana Rp 50 juta yang sudah saya keluarkan,” kata dia.
Meski gagal, Agus pantang menyerah. Dia memutuskan untuk mencari tahu dari berbagai referensi dan jurnal terkait metode persilangan ayam.
Baca Juga : Harga Pakan Melambung, Peternak Ayam Resah.
Hasilnya, metode yang digunakan hampir sama dengan ayam pedaging. ”Ayam pedaging itu ya hasil dari persilangan,” katanya.
Beberapa indukan murni lantas dia silangkan, hingga diperoleh produk finalnya.
Persilangan ayam kampung yang dihasilkan Agus bernama Pancamurti.
Sebagai perbandingan, ayam kampung pada umumnya biasanya memerlukan waktu sekitar enam bulan dalam mencapai bobot satu kilogram.
Sedangkan ayam yang Agus kembangbiakkan bisa mendekati bobot tersebut dalam kurun waktu dua bulan. ”Dalam dua bulan ya bobotnya bisa 9 sampai 10 ons,” tutupnya. (*/by) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana