Kepanikan pada saat terjadi gempa di Turki, 6 Februari lalu, juga dirasakan Naufal dan Robi. Dua pemuda asal Malang yang sedang menempuh pendidikan tinggi itu tinggal tak jauh dari pusat gempa. Naufal tinggal di Kahramanmaras, sementara Robi berada di Diyarbakır. Beruntung keduanya berhasil dievakuasi tm dari KBRI.
NABILA AMELIA
Naufal Diminta Pulang, Robi Memutuskan Menetap
KESADARAN Naufal Hazza Arif Abrar belum sepenuhnya terkumpul saat salah seorang kawan membangunkannya dari tidur.
Demikian pula dengan lima orang yang lain. Masih berat membuka mata lantaran jarum jam menunjuk angka 04.00.
Semuanya kelelahan setelah sepanjang sore bermain salju. Namun, guncangan keras gempa yang tak kunjung berhenti memaksa mereka bangkit untuk mencari tempat yang lebih aman.
Hanya bermodal sarung dan sweater, tujuh pemuda Indonesia itu turun dari lantai 3 sebuah kiralık evi (rumah sewa atau kos) di Marash.
Marash merupakan bagian dari Kota Kahramanmaras. Marash juga menjadi titik terparah yang diguncang gempa dengan kekuatan 7,8 sampai 7,9 Skala Richter (SR).
Gempa itu menewaskan lebih dari 36 ribu orang yang berada di Turki dan Suriah. Termasuk dua Warga Negara Indonesia (WNI).
Baca Juga : Komunikolog Mohon Jokowi Berteriak soal Bantuan Suriah-Turkiye.
Selama sekitar 2 menit, tujuh pemuda itu bertahan di luar rumah hingga gempa mereda. Saat itu, suhu udara minus 2 derajat celsius.
Karena tak kuat menahan udara dingin, mereka kembali ke dalam rumah. Tujuannya untuk mengambil barang-barang penting, seperti ponsel, dompet, dan kaus kaki.
Khawatir terjadi gempa susulan, tujuh pemuda tersebut segera keluar rumah setelah mendapatkan barang-barang yang mereka cari.
Benar saja, tidak lama berselang, gempa kembali mengguncang.
”Bedanya, durasi gempa kedua tidak sampai 1 menit. Tapi kekuatannya hampir sama,” cerita Naufal saat dihubungi Jawa Pos Radar Malang melalui sambungan WhatsApp.
Naufal merupakan mahasiswa S1 jurusan teologi di Kahramanmaras Sutcu Imam University.
Dia menjelaskan, kebanyakan mahasiswa Indonesia sebenarnya lebih memilih tinggal di sekitar kampus. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Namun dia dan beberapa kawannya memilih tinggal di dataran tinggi Marash. Sebab di tempat itu ada rumah yang bisa menampung banyak orang.
Saat mendengar kabar ada salju yang longsor, para pemuda asal Indonesia itu memutuskan untuk pergi ke Aliya Izzet Begovic Park.
Yakni taman yang terletak di dataran rendah. Sebagai orang-orang asing yang tidak memiliki kendaraan, mereka harus berjalan kaki sepanjang 2 km dan membutuhkan waktu 15 menit.
Apalagi kendaraan umum seperti bus tidak beroperasi. Sepanjang perjalanan menuju taman, Naufal melihat beberapa bangunan mengalami kerusakan.
Bahkan, ada pula bangunan-bangunan yang runtuh. Saat tiba di sana, kondisi taman benar-benar sepi.
Untuk menghangatkan diri, Naufal bersama enam kawannya membuat api unggun dari ranting kayu yang mereka kumpulkan.
Baca Juga : Museum Panji Hadirkan Musisi Sufi asal Turki.
”Waktu itu saya belum mengirim kabar ke keluarga di Indonesia agar mereka tidak khawatir. Jaringan internet juga mulai menghilang. Hanya menyisakan sambungan via seluler saja,” terang mahasiswa berusia 21 tahun itu.
Beberapa saat kemudian, mereka mendapat arahan dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Kahramanmaras untuk pergi ke kampus masing-masing.
Sebab, gedung semua kampus dibangun dengan fasilitas tahan gempa. Lagi-lagi Naufal dan enam kawannya harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki.
Padahal, jarak dari taman menuju kampus sekitar 7,2 kilometer. Beruntung ada warga Turki yang lewat menggunakan kendaraan dan mau memberi tumpangan.
Dalam waktu 13 menit mereka tiba di kampus. Selanjutnya mereka mendapat kabar bahwa Kedutaan Besar RI (KBRI) Ankara akan melakukan penjemputan.
”Kami dijemput pihak KBRI pukul setengah 11 malam. Perjalanan dari kampus menuju Wisma KBRI sekitar 10 sampai 12 jam menggunakan minibus," katanya.
"Saat sampai di KBRI, saya langsung mengabari keluarga,” terang putra pasangan Dyah Rani Ayu dan Arif Zainudin tersebut. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Naufal menuturkan, keluarganya sangat khawatir lantaran berita tentang gempa di Turki sangat mencekam. Mereka pun meminta Naufal pulang ke Indonesia begitu ada kesempatan.
Namun Naufal masih belum mengambil keputusan apakah segera pulang atau masih menetap. Dia juga menunggu kebijakan dari kampusnya mengenai proses transfer nilai.
Menurut Naufal, KBRI sudah menginformasikan bahwa Turki memerlukan pemulihan selama 6 bulan. Sampai sekarang, kondisi di Kota Kahramanmaras belum sepenuhnya membaik.
Masih banyak korban yang terjebak dalam reruntuhan. Belum lagi gempa yang tidak terasa mencapai 271 kali.
Selama menumpang di Wisma KBRI Ankara, Naufal bertemu dengan Muhammad Abdurrobi. Robi sapaannya, merupakan mahasiswa S1 jurusan manajemen penerbangan sipil di Dicle University.
Berbeda dengan Naufal, Robi tinggal di Diyarbakır. Kota ini juga merupakan satu di antara lima kota di Turki yang terdampak gempa.
Baca Juga : Mahasiswa UIN Wakili Indonesia ke Turki.
Lima kota tersebut adalah Kahramanmaras, Gaziantep, Diyarbakır, Hatay, dan Malatya. Karena Diyarbakır agak jauh dari pusat gempa, dampaknya tidak terlalu besar.
”Sama seperti di Kahramanmaras, gempa di Diyarbakır juga terjadi pukul 4 pagi. Karena tidak ada gempa susulan, pukul 7 pagi imbauan sudah ditarik oleh pemerintah. Sehingga kami bisa masuk ke rumah,” jelas Robi.
Gempa baru kembali terasa di Diyarbakır pada pukul 14.00, meski tidak kencang. Total pada hari itu Robi merasakan gempa sebanyak empat kali.
Guncangan itu mengakibatkan sekitar 20 apartemen di dekat tempat tinggalnya runtuh. ”Kalau apartemen yang saya tempati hanya mengalami beberapa kerusakan,” terangnya.
Karena khawatir terjadi apa-apa, Robi bersama tiga kawannya mengungsi ke tengah kota. Di hari kedua, mereka dievakuasi KBRI Ankara.
Saat perjalanan ke Ankara, dia melewati Kota Malatya. Dampak gempa di kota itu lebih parah.
Jalan-jalan utama banyak yang retak dan longsor. ”Kami harus menempuh perjalanan berputar hingga 18 jam,” tutur pemuda berusia 29 tahun tersebut. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Seperti halnya Naufal, Robi baru berani memberi kabar pada keluarga setelah posisinya aman. Meski demikian, kedua orang tuanya sudah mengetahui jika Turki dilanda gempa.
Ke depan, pemuda yang sudah hampir dua tahun di Turki itu berencana untuk menetap. Ini karena Diyarbakır tidak terdampak besar.
Di samping itu, program pendidikan di tempatnya berkuliah tidak ada di Indonesia.
”Kebetulan tanggal 6 Februari ada edaran dari Presiden Turki agar kegiatan belajar kampus dilakukan secara daring. Tapi belum tahu kapan mulai dilakukan dengan kondisi demikian,” tandasnya. (mel/fat) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana