Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ars Ramdha, Pembuat Kostum Cosplay, Mayoritas Karyanya Dipasarkan ke LN

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Jumat, 17 Februari 2023 | 03:00 WIB
PASSION: Ars Ramdha memamerkan tiga senjata cosplay yang kadang diproduksi terpisah sesuai pesanan. (DOKUMEN PRIBADI ARS RAMDHA)
PASSION: Ars Ramdha memamerkan tiga senjata cosplay yang kadang diproduksi terpisah sesuai pesanan. (DOKUMEN PRIBADI ARS RAMDHA)
 

Dunia kerja kerap tak segaris dengan latar belakang pendidikan. Itu pula yang kini dijalani Ars Ramdha. Lulusan Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Brawijaya itu malah tertarik untuk menjadi pembuat cosplay. Bahkan karyanya sudah dipasarkan ke lebih dari 20 negara.

ANDIKA SATRIA PERDANA

ARS mengenal dunia kostum karakter di perguruan tinggi. Bukan dalam konteks materi kuliah, melainkan tertarik untuk bergabung dengan komunitas cosplay.

Melihat fakta belum banyak penyedia kostum, Ars menganggap kondisi tersebut sebagai peluang usaha.

Di komunitas itu pula, Ars mulai belajar cara pembuatan kostum. Mulai dari bahan yang digunakan, teknik pembentukan, hingga pengecatan.

Ketika sudah mulai mahir, kostum itu dijual kepada teman-teman mahasiswa satu angkatan.

Ternyata karya Ars banyak mendapat pujian. Lama-kelamaan pesanan mulai datang. Bahkan dari luar kampus.

”Pertama iseng membuat kostum itu awal 2009. Ternyata, dari mulut ke mulut, banyak orang yang suka,” tuturnya.
Baca Juga : Perajin Kostum Menggeliat Lagi.

Sarjana jurusan hubungan internasional itu makin bersemangat membuat kostum saat mendapat pesanan dari luar kota. Awalnya dari Surabaya.

Kemudian melebar ke kota-kota lain, termasuk Jakarta.  Ars pun makin percaya diri untuk memperluas jangkauan pasar produknya melalui Facebook.

Pada 2012, Ars mulai mengirim karyanya ke luar negeri. Kebetulan saat itu memang ada pesanan dari Malaysia dan Singapura.

”Saya terbantu dengan adanya komunitas cosplay yang anggotanya dari beberapa negara. Sampai saat ini mayoritas yang memesan lebih banyak dari luar negeri dibanding lokal,” ungkapnya.

Selain Malaysia dan Singapura, Ars sudah pernah mengirim karyanya ke Amerika Serikat, Belgia, Inggris, Italia, Prancis, China, dan Jepang.

Setiap bulan rata-rata dia bisa memproduksi empat kostum yang utuh. Mulai dari topeng, badan, kaki, hingga senjata. (Bersambung ke halaman selanjutnya)



Kadang juga ada pembeli yang pesan per item. Misalnya, topeng atau senjatanya saja.

Banyaknya pesanan membuat pria yang kini berusia 34 tahun itu mengaku kewalahan. Bahkan, pesanan kostum dari luar negeri sudah penuh hingga Oktober mendatang.

”Sampai perayaan Halloween sudah full pesanan. Setelah itu sudah ada yang mulai memesan untuk akhir 2023 dan awal 2024. Sementara di-pending dulu, karena mau menyelesaikan pesanan yang sekarang,” jelasnya.

Pria yang berdomisili di Kecamatan Lowokwaru itu mengatakan, harga kostum yang dia jual bervariasi. Untuk yang komplet, harganya mulai Rp 5 juta hingga Rp 30 juta.

Banderol itu tergantung tingkat kesulitan pembuatannya. Semakin detail akan semakin mahal.

”Kalau kostum yang paling susah itu biasanya karakter robot atau monster. Detailnya banyak,” bebernya.
Baca Juga : Persewaan Kostum Agustusan Banjir Order.

Sementara bahan yang biasa digunakan untuk pembuatan kostum ada tiga pilihan. Yakni busa, karet, dan plastik. Semua tergantung pesanan konsumen.

Kadang ada konsumen yang sudah membeli bahan sendiri, kemudian meminta Ars untuk membuatnya menjadi sebuah kostum.

”Menurut orang luar negeri, kenapa banyak yang memilih saya,  karena saya jual dengan harga murah, tapi kualitas bisa bersaing,” tandasnya.
Ingin Bangun Sekolah yang Mengajarkan Pembuatan Kostum

Seperti dunia bisnis lainnya, Ars juga merasakan pukulan pandemi Covid-19. Pesanan dari Eropa menyusut drastis. Bahkan pernah kosong alias nol pesanan.

Menurutnya, kondisi itu juga merupakan dampak dari perang Ukraina dan Rusia. Daya beli masyarakat di benua biru itu ikut menurun.

Beruntung, lanjut Ars, permintaan dari Amerika Serikat tidak ikut turun. Meski pandemi melanda, pesanan dari negeri Paman Sam itu tetap normal.

Photo
Photo
BANYAK DETAIL: Salah satu kostum karya Ars Ramdha yang mengadopsi karakter kamen rider black atau satria baja hitam.(DOKUMEN PRIBADI ARS RAMDHA)

Seolah tidak ada efek apa pun. ”Kalau dari pasar lokal malah tidak ada pesanan. Karena jarang ada event saat pandemi,” kata dia.

Ke depan, Ars tak ingin berhenti sampai di tahap mengirim ke luar negeri. Dia masih punya mimpi yang ingin diwujudkan. Yakni mendirikan sebuah sekolah informal.

Di lembaga itu, Ars ingin melatih anak-anak yang kurang beruntung agar memiliki keterampilan membuat sebuah kostum. Harapannya, kehidupan anak-anak itu bisa terangkat. (*/fat) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#cosplay #Superhero ##beritamalang #manga #radarmalang #anime #kostum ##jawaposradarmalang ##beritamalanghariini