Tangani Trauma Bocah 8 Tahun yang Tiap Hari Cari sang Paman di Reruntuhan
Suasana kembali mencekam saat terjadi gempa susulan di Turki pada Senin, 20 Februari 2023. Rumah Sakit Lapangan yang dibangun Emergency Medical Team (EMT) Indonesia pun penuh pasien. Zakarija dan Fery menjadi bagian dari tim yang menangani trauma dan dokumentasi dampak bencana tersebut.
FAJAR ANDRE SETIAWAN
UDARA dingin minus 2 derajat celcius serasa menembus pakaian tebal yang digunakan Zakarija Achmat dan Rindya Fery Indrawan saat tiba di Kota Adana, Turki, 13 Februari 2023.
Lelah juga masih terasa lantaran keduanya baru saja menjalani 14 jam penerbangan dari Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta.
Namun, hal itu tak mengurangi semangat mereka untuk menjalankan misi kemanusiaan. Menolong korban gempa berkekuatan 7,8 skala richter yang melanda Turki sejak 6 Februari lalu.
Zakrija dan Fery merupakan relawan asal Kota Malang yang berangkat bersama 105 anggota EMT Indonesia lainnya.
Hingga kemarin (26/2), keduanya masih berada di Turki untuk membantu para korban gempa yang membutuhkan perawatan medis.
Udara dingin benar-benar menjadi tantangan bagi dua pemuda itu. Selain tidak terbiasa, Zakarija dan Fery sempat salah kostum.
Baca Juga : Kisah Dua Pemuda asal Malang yang Merasakan Gempa Turki.
Sebenarnya, dinginnya Turki sudah sempat terbayang sebelumnya. Namun, mereka tidak mengira akan menghadapi suhu ekstrem hingga minus 2 derajat.
Padahal jaket tebal yang mereka bawa hanya bisa menahan dingin hingga 6 derajat celcius.
Beruntung pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Turki segera mengirimkan jaket tebal yang lebih cocok dengan suhu lokal.
Saat tiba di Turki, Zakarija dan Fery tak langsung menuju ke lokasi gempa. Mereka menginap lebih dulu di hotel seadanya di Kota Adana.
”Kami tiba sudah cukup malam, sekitar pukul 21.00,” ucap Zakarija melalui sambungan telepon kepada wartawan Jawa Pos Radar Malang kemarin (26/2).
Keesokan hari, barulah rombongan EMT Indonesia melakukan survei lokasi untuk pendirian rumah sakit lapangan. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Tim memutuskan untuk membangun rumah sakit lapangan di Kota Iskandarun. Lokasi itu pun memberikan tantangan lagi. Khususnya dalam hal keamanan.
Sebab, kota tersebut berbatasan langsung dengan Suriah. Untungnya militer Turki berjaga selama 24 jam di kota tersebut.
Kota Iskandarun dipilih karena berbagai alasan. Di antaranya, suhu di kota itu tidak terlalu ekstrem dibanding kota lain.
”Tapi tetap saja dingin karena suhu udaranya antara 3 sampai 6 derajat celcius,” ucap Zakrija.
Pertimbangan lainnya, dampak gempa di kota tersebut tidak terlalu parah dibandingkan kondisi di pusat gempa.
Meski demikian, sebelum mendirikan rumah sakit lapangan, tim EMT Indonesia tetap perlu meratakan tanah. Sebab di lokasi tersebut banyak reruntuhan bangunan.
Baca Juga : Mahasiswa UIN Wakili Indonesia di Turki.
EMT Indonesia yang dikirim ke Turki merupakan tipe satu. Yakni EMT yang hanya bisa melakukan rawat jalan. Mereka tidak bisa melakukan tindakan operasi maupun rawat inap.
Hanya dalam kondisi mendesak atau terpaksa, EMT Indonesia menyediakan ruangan khusus untuk rawat inap.
Di atas lahan seluas sekitar 200 x100 meter, EMT Indonesia membangun tenda yang membentuk beberapa ruangan.
Di antaranya, ruangan triase IGD (Instalasi Gawat Darurat), ruang opgyn, ruang psikososial, dapur umum, ruang logistik, dan beberapa ruangan lainnya.
Selama bertugas, Zakarija sudah menangani berbagai dampak psikologis korban gempa.
Namun, salah satu yang paling membekas di hati adalah cerita seorang ibu tentang anaknya yang begitu kehilangan sang paman. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Nada bicara Zakarija terdengar lirih saat berkisah tentang bocah berusia delapan tahun tersebut.
”Sepeninggal pamannya yang tertimpa reruntuhan bangunan, setiap hari bocah itu mendatangi makam pamannya,” cerita Zakarija.
Sebelumnya, dengan tangannya yang mungil, sang bocah ikut mengangkat tumpukan material bangunan tempat pamannya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.
”Itu merupakan bentuk respons kehilangan yang sangat dalam. Anak tersebut harus menjalani terapi tertentu,” ungkap Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu.
Saat terjadi gempa susulan Senin (20/2), Zakarija ikut merasakan guncangan berkekuatan 6,4 skala richter. Kepanikan warga kembali pecah.
Rumah sakit lapangan yang dibangun EMT Indonesia kebanjiran pasien. Rata-rata sudah mengalami trauma.
Baca Juga : Komunolog Mohon Jokowi Berteriak soal Bantuan Suriah-Turkiye.
Banyak sekali pasien yang datang dan menunjukkan luka bekas operasi. Sampai-sampai Zakarija dan tim mengaku kewalahan.
Bahkan ada ibu hamil yang mengalami kontraksi akibat panik saat terjadi gempa. Padahal hari perkiraan lahirnya masih sangat jauh.
”Beruntung ibu tersebut bisa kembali tenang dan kandungannya bisa dipertahankan,” imbuh pria yang juga menjadi pembina Maharesigana (Mahasiswa Relawan Siaga Bencana) UMM itu.
Sementara itu, Fery datang ke Turki mengemban tugas dokumentasi. Karena itu, dia memiliki banyak rekaman-rekaman humanis tentang korban gempa.
Salah satunya ketika merekam kebersamaan anak-anak yang menjadi korban gempa Turki dengan mahasiswa Indonesia.
EMT Indonesia memang melibatkan 40 mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Turki. Tugas mereka menjadi penerjemah bahasa Turki ke Bahasa Indonesia. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
”Posko kami kan di kota kecil yang agak jauh dari kota. Sehingga tidak banyak orang yang bisa Bahasa Inggris,” ucapnya.
Para Mahasiswa itu juga berperan menghibur anak-anak korban gempa. Apalagi hingga saat ini pemerintah Turki masih belum mengizinkan warganya tinggal di dalam rumah.
Banyak di antara mereka yang terpaksa tidur di teras-teras rumah, termasuk anak-anak. Sebagian lainnya tinggal di tenda pengungsian karena apartemen mereka sudah runtuh.
Fery dan anggota EMT Indonesia lainnya juga hanya bisa menjalankan ibadah salat di teras masjid. Beruntung toko-toko yang menjual makanan sudah mulai buka.
”Hingga saat ini sudah ada lebih dari 1.300 pasien yang ditangani di rumah sakit lapangan miliki EMT Indonesia,” tandasnya. (*/fat) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana