Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Pengalaman Mahasiswa Asing yang Menjalani Ramadan di Indonesia (9)

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Minggu, 2 April 2023 | 03:00 WIB
SENYUM : Sarra Ben Bdira, mahasiswa asal Tunisia yang menikmati ramadan di Kota Malang. (Sarra for Radar Malang)
SENYUM : Sarra Ben Bdira, mahasiswa asal Tunisia yang menikmati ramadan di Kota Malang. (Sarra for Radar Malang)
 
Tiap Hari Makan Pecel, Biasa Berburu Takjil sejak di Tunisia

Menjalani Ramadan perdana di Indonesia membawa kesan tersendiri bagi Sarra Ben Bdira. Selain baru kali ini mengerti rasanya nasi, mahasiswi asal Tunisia yang menempuh S2 di Universitas Brawijaya (UB) itu juga merasakan sensasi ketika buka puasa bersama di restoran.

ANDIKA SATRIA PERDANA

Dengan bahasa Indonesia yang masih terbata-bata, Sarra antusias menceritakan pengalamannya selama menjalani Ramadan di Kota Malang.

Selama sembilan hari berpuasa, mahasiswi S2 Bio Medik Universitas Brawijaya (UB) itu tak pernah merasakan lapar dan dahaga.

Maklum, berpuasa di Tunisia lebih lama daripada di Indonesia. Puasa di Tunisia bisa berlangsung sampai 16-18 jam.

"Sementara di Indonesia hanya 13 jam,” tutur Sarra ditemui Jawa Pos Radar Malang di asramanya kemarin.

Selain itu, cuaca di Bumi Arema juga sejuk. Belum lagi Ramadan kali ini bertepatan dengan musim hujan.
Baca Juga : Pengalaman Mahasiswa Asing Menjalani Ramadan di Indonesia (8).

Sehingga tidak membuat orang merasa haus, meski tidak minum seharian penuh. Di sisi lain, ada beberapa tantangan yang dilalui Sarra selama kurang dari dua bulan di Malang.

Tantangan yang paling terasa adalah soal makanan. Sejak kecil di Tunisia, Sarra tidak pernah mengonsumsi nasi.

”Kalau di Tunisia, makanan pokoknya ya gandum dan roti. Jadi, baru di sini (Kota Malang) merasakan nasi, karena semua makan ada nasinya,” kata dia.

Mulanya, dia belum terbiasa dengan nasi. Setelah makan, perutnya tidak merasakan kenyang, tapi aneh. Tapi lama-kelamaan dia terbiasa.

Alhamdulillah sekarang sudah terbiasa dengan nasi. Bisa setiap hari saya berbuka dengan pecel,” ungkap perempuan yang dua bulan ini tinggal di Malang itu.

Ramadan di Malang, ada moment yang selalu ditunggu oleh Sarra. Yakni ngabuburit atau berburu takjil untuk buka puasa. (Bersambung ke halaman selanjutnya)



Lokasi favoritnya untuk berburu takjil adalah pasar dadakan di Jalan Soekarno-Hatta (Soehat). "Saya mencoba beberapa takjil di sana (Jalan Soekarno Hatta). Mulai dimsum, bubur ayam, dan pecel,” kata dia.

Hampir setiap hari dia berburu takjil. Rupanya, kebiasaan berburu takjil sudah dilakoninya sejak di Tunisia.

Di negara yang masuk benua Afrika itu, berburu takjil sudah menjadi budaya. Ketika rindu dengan keluarga besarnya di Tunisia, Sarra kerap mengobatinya dengan cara berburu takjil.

"Tetapi ada kebiasaan yang berbeda dengan di Tunisia. Ketika berbuka, semua warga (Tunisia) makan bersama keluarga, sehingga jalanan menjadi sepi,” ucapnya.

”Ketika di sini (Malang), saya bisa makan di restoran dengan teman-teman. Ini pengalaman yang menyenangkan bagi saya,” tambahnya.

Dalam pelaksanaan salat tarawih juga ada perbedaan. Ketika di Tunisia, salat sunah 24 rakaat itu bisa berlangsung hingga dua jam.

Sementara di Indonesia, hanya butuh waktu 30-45 menit untuk menunaikannya. "Sehingga saya tidak merasa capek kalau salat tarawih di sini (Malang)," ungkap dia. (*/dan) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
##malangkipa #Takjil #radarmalang ##wisatamalang #Ramadan ##jawaposradarmalang #Puasa ##mediaonlinemalang ##beritamalanghariini ##mahasiswamalang