Selama Ramadan, porsi latihan Jafro Megawanto tidak berkurang. Atlet paralayang asal Kota Batu itu berlatih empat kali dalam seminggu. Itu dia lakukan untuk menyambut Pra-PON September 2023 di Jawa Barat dan PON XXI 2024 di Aceh.
AFIFAH RAHMATIKA FURZAEN
JADWAL latihan Jafro dalam kelas accuracy paralayang sangat padat. Selasa sampai Jumat full latihan sejak pagi hingga sore hari.
Dalam sehari, dia hanya istirahat sekitar 30 menit, tepatnya pukul 12.00-12.30.
”Latihannya memang padat. Saat terbang sore, ya hitung - hitung ngabuburit lah. Bisa menikmati pemandangan sambil menunggu buka puasa," ujar Jafro ditemui di titik Landing Area Paralayang, Jalan Trunojoyo Gang IV, Kelurahan Songgokerto, Batu, Rabu lalu (5/4).
Ramadan ini, porsi latihannya tidak berkurang. Bedanya, saat ini dia berlatih sambil menahan lapar dan dahaga.
Itu karena dia menjalani ibadah puasa. Bagi atlet berusia 27 tahun itu, puasa bukan alasan untuk mengurangi latihan.
Apalagi September depan dia menghadapi Pra-PON 2023 di Jawa Barat. Setelah itu, menyambut PON XXI di Aceh, pada 2024 mendatang.
Baca Juga : Cerita Atlet Malang Raya yang Tetap Beraktivitas di Bulan Ramadan (5).
Agar bisa tampil prima, porsi latihannya tidak boleh berkurang. Caranya, Jafro menjaga staminanya, sehingga mampu berlatih secara maksimal.
Selama dua pekan ini menjalani puasa, stamina tetap terjaga. Itu karena dia rutin mengonsumsi suplemen setiap sahur.
Selain menambah tenaga, fungsi suplemen juga untuk memaksimalkan konsentrasi dalam ketetapan mendarat. Dalam dunia paralayang, accuracy adalah ketepatan mendarat.
Jika tepat dalam mendarat, maja mendapatkan poin dari tim juri. Seorang atlet yang terbang dengan parasut dan mau mendarat, kakinya harus menyentuh lingkaran berdiameter 0 - 22 sentimeter.
"Bagi saya, mendarat di lingkaran kecil ini butuh konsentrasi tinggi, apalagi selama bulan puasa," kata alit kelahiran Batu, 18 Maret 1996 itu.
Tentu saja, tidak semua atlet paralayang mampu mendarat secara tepat. Ibaratnya butuh konsistensi dan jam terbang tinggi. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Dulu Jafro pernah meleset saat landing. Akibatnya, kakinya keseleo dan bengkak. Ini karena dia ingin mengejar poin tertinggi dalam lingkaran tersebut.
"Tapi selama Ramadan ini saya berusaha latihan secukupnya demi menghindari kejadian kaki terluka," katanya.
Tantangan semakin berat ketika cuaca tidak bersahabat. Misalnya hujan, kabut, dan angin kencang.
Biasanya, dia tidak terbang ketika cuaca buruk. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan kecelakaan.
Selain mengonsumsi suplemen vitamin, pola makan juga diperhatikan. Makanannya diusahakan mengandung gizi tinggi, protein, dan sayur.
Minumnya juga tidak sembarang air, diprioritaskan air mineral. "Kalau untuk olahraga ini (paralayang) sih tidak ada pola makan khusus. Tapi pola tidur harus diperhatikan,” katanya.
Baca Juga : Cerita Atlet Malang Raya yang Tetap Beraktivitas di Bulan Ramadan (4).
”Karena setelah sahur, kemudian salat subuh. Lalu jam setengah delapan pagi harus sudah latihan lagi," tambah anak kedua dari tiga bersaudara ini.
Meski sudah mengatur pola makan dan rutin mengonsumsi suplemen, bukan berarti latihannya mulus-mulus saja. Beberapa kali dia masih merasakan lelah dan letih.
Tangannya juga terasa lemas ketika menarik tali parasut hingga latihan penerbangan berulang kali.
Apalagi, setelah mendarat di tempat pendaratan Kelurahan Songgokerto, Jafro harus berjalan kaki menuju mobil pikap dengan membawa parasut ke titik start penerbangan.
Begitu seterusnya. "Rasanya kaki terasa nyeri bolak-balik berjalan. Tapi ini adalah bagian dari konsekuensi. Saya harus semangat latihan selama berpuasa," tutup peraih medali emas Asian Games 2018 ini. (*/dan) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana