Mendekati Sea Games 2023 di Kamboja, Atjong Tio Purwanto terus latihan lari halang rintang. Tapi karena sedang berpuasa, porsi latihannya dikurangi.
BIYAN MUDZAKY HANINDITO
PETANG itu, napas Atjong terengah-engah. Suaranya keras, tapi perkataannya terpotong-potong. ”Habis kontrol karena terkena bronchitis. Jalanan dari Bandung juga macet,” ujar Atjong kepada Jawa Pos Radar Malang, Kamis lalu (6/4).
Sejak beberapa bulan lalu, atlet asal Mojolangu, Kota Malang itu berada di Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas), Bandung. Dia giat berlatih untuk menghadapi Sea Games 2023 di Kamboja, Mei depan.
Hari-hari Atjong muda dipenuhi dengan latihan, meski sedang menjalani ibadah puasa Ramadan. Tantangannya semakin berat, karena tubuhnya belum bisa beradaptasi dengan cuaca yang cenderung ekstrem.
Maklum, medan di Kota Bandung berbeda dengan Malang. Secara geografis, Bandung berada 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sementara Kota Malang hanya sekitar 400 mdpl.
Hal itu membuat cuaca di Bandung lebih dingin. Pagi sering berkabut tebal, siang sampai sore hujan deras.
Itulah yang menjadi salah satu faktor pemicu Atjong terkena bronchitis sejak 20 Maret lalu. Akibat penyakit yang diderita itu, dia batal berangkat mengikuti turnamen lari halang lintang 3.000 meter di Australia.
Baca Juga : Cerita Atlet Malang Raya yang Tetap Beraktivitas di Bulan Ramadan (5).
“Saya paksakan latihan, tapi malah tambah parah. Akhirnya batal berangkat,” keluh pria berusia 32 tahun itu.
Selain Atjong, banyak atlet atletik dari daerah lain yang tergabung di Pelatnas Pangalengan, Bandung itu.
Sebelum Sea Games, Atjong akan menjalani kompetisi Pra-Sea Games 2023 terlebih dahulu.
Selama Ramadan, Atjong mengubah porsi latihannya. Dari latihan yang sebelumnya tiga kali dalam sehari, kini dikurangi menjadi dua kali saja.
"Awalnya pagi, siang, dan sore latihan, sekarang pagi dan sore saja,” kata pria yang juga anggota Batalyon Infantri (Yonif) Mekanis 521 / DY Kediri itu.
Pengubahan jadwal tersebut tidak asal. Dia sudah memperhitungkan dengan matang, termasuk menyesuaikan dengan kondisi fisiknya yang sedang menjalani puasa. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
“Latihan berat yang memerlukan banyak tenaga difokuskan pada pagi hari. Sekitar pukul 06.00 sampai 10.00, karena energinya baru diisi ketika sahur,” papar pemegang rekor nasional lari halang-lintang 3.000 meter 8 menit 54 detik tersebut.
Sedangkan latihan sore lebih ringan, sehingga bisa dijalani meski sambil berpuasa. Selain mengatur porsi latihan, juga menata pola makan.
“Diatur saja sesuai kebutuhan dan porsi latihan. Lebih banyak protein seperti ayam, daging, dan ikan. Untuk karbohidrat sedikit saja,” imbuh dia.
Tapi dalam cabang olahraga lari, bukan masalah makan yang utama, melainkan minum. Apalagi jika menghadapi medan latihan yang terkadang berbukit, tentu lebih cepat merasakan dahaga.
Risikonya, puasa batal karena dehidrasi. Karena itu, Atjong mengonsumsi air lebih banyak. Minimal dia menenggak 2 liter air per hari.
Untungnya, selama Ramadan ini latihan lebih banyak dilakukan di lintasan datar.
“Kalau dihitung-hitung, ukurannya tetap sama dua liter. Hanya saja pada saat berbuka tidak boleh langsung minum banyak, diatur ritmenya karena habis itu langsung makan,” kata prajurit angkatan darat dengan pangkat Sersan Kepala (Serka) itu.
Sebab jika buka puasa langsung minum air banyak, dikhawatirkan akan mengakibatkan perut kembung.
Atjong menyiasatinya dengan minum air sedikit, makan atau minum yang manis, kemudian makan sesuai porsi dan dijeda. Setelah itu minum air lagi. Semata-mata menjaga agar badan tetap terhidrasi.(*/dan) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana