Bertanding di Liga 1 dalam keadaan berpuasa bukan hal mudah. Kondisi fisik dituntut prima, sementara asupan makanan berkurang. Itulah yang dialami Arkhan Fikri, pemain Arema FC bernomor punggung 21.
GALIH R. PRASETYO
BELUM sempat berganti kostum, Arkhan Fikri yang baru saja menjalani latihan di Stadion Gajayana langsung menemui Jawa Pos Radar Malang.
Sambil mengusap peluh di pelipis kanannya, pemain 18 tahun itu menceritakan beratnya berpuasa sembari menjalani pertandingan-pertandingan Liga 1.
Meski berat, namun tidak menyurutkan semangat pemain bernomor punggung 21 tersebut untuk berpuasa penuh.
”Tetap berpuasa saat Liga bukan menjadi halangan bagi saya,” ungkap pemain terbaik Piala Soeratin U-15 pada 2019 lalu itu.
Pemain yang pernah di timnas U-20 itu merasa ada yang kurang jika tidak berpuasa. Baginya, Ramadan terasa hambar tanpa merasakan lapar dan dahaga.
Hal itu juga diyakini bisa mengurangi nikmatnya Idul Fitri. Selain itu, si bungsu dari dua bersaudara itu juga berpuasa lantaran banyak panutan.
Baca Juga : Cerita Atlet Malang Raya yang Tetap Beraktivitas di Bulan Ramadan (9).
Pemain-pemain di kompetisi Eropa juga melakukannya. "Jadi, tidak alasan meninggalkan ibadah itu (berpuasa, Red)," kata pemain berposisi gelandang serang itu.
Di antara pemain Eropa yang berpuasa meski terjun lapangan adalah Karim Benzema, Mohamed Salah, Sadio Mane, Achraf Hakimi, dan N'Golo Kante.
Dalam menjalani puasa sembari kompetisi, Arkhan tidak hanya bermodal tekad dan semangat yang kuat. Tapi juga melakukan penyesuaian supaya performanya tidak turun.
Salah satunya dengan mengatur asupan makannya ketika berbuka dan sahur. Ketika berbuka, dia berusaha menyeimbangkan porsi makanan.
Dia menghindari makanan yang terlalu berat atau ringan. Sebab jika terlalu sedikit asupan, maka tubuhnya tidak ada power saat latihan atau pertandingan malam.
Sebaliknya, terlalu banyak mengonsumsi makan berat membuat tubuhnya sulit bergerak. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
"Untuk karbohidrat, saya mencukupinya dengan makan spaghetti. Tapi tidak terlalu banyak," kata pengidola Andrea Pirlo itu.
Makanan tersebut akan ditunjang Arkhan dengan memperbanyak buah dan juga minum air putih. Tapi, umumnya dimulai dengan makan kurma tiga biji.
Selain memperhatikan asupan saat berbuka, Arkhan juga berusaha untuk mengonsumsi makanan yang bagus ketika sahur.
Artinya berusaha mencukupi kebutuhan tubuhnya. Ini karena sahur menjadi modal untuk tubuh kuat berpuasa sampai magrib.
Ketika sahur, pilihan makanan Arkhan lebih kepada kudapan yang berat. Seperti nasi, kemudian ditambah daging atau ikan.
Lalu dia juga berusaha minum air putih yang cukup dan mengonsumsi vitamin. Dengan menyeimbangkan asupan itu, Arkhan berharap bisa tampil prima hingga akhir liga.
Baca Juga : Cerita Atlet Malang Raya yang Tetap Beraktivitas di Bulan Ramadan (8).
Tentu saja, tantangan menjalani pertandingan di bulan Ramadan lebih berat ketimbang bulan biasa. Itu karena para pemain dihadapkan sejumlah tantangan yang tidak ringan.
Mulai pertandingan yang kompetitif, laga malam hari, sampai recovery yang tidak panjang.
Hingga kemarin malam (11/4), Arkhan sudah memainkan tiga pertandingan dalam tempo 11 hari. Artinya rata-rata setiap tiga hari sekali bertanding.
Selama waktu itu, dia tampil full dalam 90 menit pertandingan. Sejatinya, bukan kali ini saja Arkhan puasa sembari terus menjalani aktivitas sepak bola.
Sebelumnya, pada 2022 lalu, dia sempat menjalani pemusatan latihan bersama Timnas U-19 di bulan Ramadan.
Pada waktu itu, tim merah putih melaksanakan training center di Korea Selatan. Puasa di negeri orang membuat Arkhan terpaksa menahan lapar dan dahaga lebih lama. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Mulai sahur pukul 04.48, kemudian baru berbuka pukul 19.00. Tapi, situasi tersebut tidak menghalanginya untuk tetap berpuasa.
"Cuaca di sana (Korea Selatan) ketika musim semi. Jadi enak-enak saja," paparnya. Selain itu, tim pelatih Garuda juga sudah mengatur pola makan para pemain.
Alhasil, meski latihan berat, latihan tetap bisa berjalan dengan maksimal. Tantangan lain yang dirasakan Arkhan adalah jauh dari keluarga.
Dia sering dilanda rindu berbuka dan sahur bersama kedua orang tuanya, apalagi dalam beberapa Ramadan, dia hanya punya waktu tidak lebih 10 hari bersama keluarga.
"Saat di Timnas dulu, baru pulang ke Indonesia H-3 jelang Idul Fitri. Sedangkan tahun ini mungkin H-7 baru pulang," katanya.(*/dan) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana