Ramadan tahun ini sangat berbeda bagi Joko Budianto. Belum genap 10 hari menjalankan ibadah puasa, tiba-tiba dia terkena penyakit jantung. Setelah menjalani pemasangan ring dan istirahat selama empat hari, Joko memutuskan untuk melanjutkan puasa.
NABILA AMELIA
RABU siang (12/4), Joko tampak duduk santai di ruang tengah rumahnya. Menemani sang istri, Robiyati, yang sibuk membungkus kue kering.
Kondisi pria berusia 48 tahun itu sudah lebih baik dibanding saat Jawa Pos Radar Malang mengunjunginya pada 5 April lalu di RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA).
Kue kering yang dipersiapkan Robiyati merupakan pesanan orang. Harganya antara Rp 15 ribu sampai Rp 30 ribu per setengah kilogram.
Hasilnya lumayan untuk menambah pendapatan rumah tangga. Terlebih, sudah satu pekan terakhir Joko belum bisa bekerja setelah terkena serangan jantung.
Joko baru mengetahui bahwa dirinya mengidap penyakit jantung setelah mengalami serangan pada 2 April lalu. Kala itu dia baru saja selesai makan sahur.
Sambil menunggu azan subuh, Joko merokok sebentar, dilanjutkan dengan mandi. Tak lama setelah mandi, pria yang tinggal di Mergosono itu merasakan sakit di beberapa bagian badannya.
Baca Juga : Cerita Atlet Malang Raya yang Tetap Beraktivitas di Bulan Ramadan (10).
”Awalnya nyeri di punggung. Kemudian menjalar ke bagian dada. Setelah itu napas terasa sesak,” ujarnya.
Karena tidak kuat menahan rasa sakit, sesak, bercampur lemas, Joko dilarikan ke rumah sakit terdekat, yakni RS Panti Nirmala.
Setelah itu dia dirujuk ke RSSA untuk mendapat penanganan lebih lanjut. Di RSSA, Joko ternyata harus menjalani operasi pemasangan ring jantung.
Tujuannya untuk melancarkan aliran darah dan oksigen di pembuluh darah yang mengalami penyempitan atau penyumbatan.
Karena operasi itu pula, Joko absen berpuasa selama empat hari untuk menunggu kondisinya pulih.
Bapak empat anak itu mengaku sedih lantaran kehilangan empat hari untuk berpuasa di bulan Ramadan. Sesuatu yang tidak pernah dia lewatkan sebelumnya. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
”Jujur baru kali ini sampai sakit. Padahal sebelumnya tidak pernah. Paling hanya terasa nyut-nyutan di dada, tapi itu sebentar saja dan tidak sering,” ungkap pria yang biasa bekerja sebagai pengemudi ojek online itu.
Joko mengaku punya kebiasaan kurang baik, yakni merokok. Kebiasaan itu sudah dia lakukan sejak 1992.
Setiap hari, pria kelahiran 1975 itu bisa menghabiskan 12 batang rokok. Kecuali saat Ramadan, biasanya tiga hari baru menghabiskan 12 batang rokok.
Selebihnya Joko memiliki pola hidup yang biasa. Namun, pekerjaan sebagai pengemudi ojek online membuatnya sering terpapar angin.
Apalagi dia juga berusaha menambah penghasilan dengan menjadi penjaga parkir di SMP Negeri 7 Kota Malang.
”Kalau sudah begini, ya terpaksa saya harus berhenti merokok total. Saya tidak ingin seperti kakak yang perokok berat dan akhirnya meninggal karena serangan jantung,” tuturnya.
Baca Juga : Cerita Atlet Malang Raya yang Tetap Beraktivitas di Bulan Ramadan (9).
Joko baru bisa menjalankan ibadah puasa lagi pada 6 April lalu. Namun, dia belum diperbolehkan untuk bekerja oleh dokter hingga Lebaran.
Dokter mewajibkan konsumsi obat selama dua kali sehari dan menghabiskan empat jenis obat, tidak beraktivitas berat dulu, serta makan makanan bergizi.
Sang istri, Robiyati, membantu pengobatan Joko dengan mengganti menu masakan dengan makanan sehat. Seperti sayuran dan makanan yang dikukus selama puasa.
Di tempat lain, dr Cholid Tri Tjahjono MKes SpJP menjelaskan bahwa penyakit jantung yang diidap Joko jelas terjadi karena rokok.
Sebab pasien tersebut tak memiliki riwayat penyakit hipertensi. Untungnya kondisi jantung yang bersangkutan masih bagus.
Untuk mencegah terjadinya perburukan, tim dokter langsung memasang ring pada jantung Joko. Sebab, pembuluh darah Joko tersumbat karena ada kerak yang pecah. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Sehingga menyebabkan penggumpalan dan menutup aliran darah. Meski demikian, Joko masih boleh berpuasa.
Dengan catatan obat-obatan tak boleh putus dikonsumsi. Makan pun harus diatur.
Dia juga tidak boleh bekerja terlalu keras. Terlebih lagi, jantung Joko masih memar.
”Untuk pasien jantung, jika mengalami sesak dan bengkak, itu tanda-tanda perburukan. Kalau sudah seperti itu wajib menghentikan puasa,” tandasnya. (*/fat) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana