NABILA AMELIA
DUA alat menyerupai bolpoin dikeluarkan Bintang dari saku jaketnya. Itu merupakan suntik insulin. Suntik yang labelnya berwarna oranye memiliki keterangan NovoRapid Flexpen.
Gunanya untuk menurunkan gula darah. Satu lagi yang labelnya berwarna hijau bertuliskan Levemir Flexpen, berfungsi untuk menjaga gula darah.
Dua alat tersebut selalu dibawa oleh dia. Termasuk saat ditemui Jawa Pos Radar Malang di kampusnya, Institut Asia Malang, Jumat sore (14/4).
Sudah 10 tahun terakhir Bintang harus rutin menyuntikkan dua alat tersebut ke tubuhnya. Itu menjadi ’ritual’ wajib yang harus dilakukannya sebagai pengidap diabetes mellitus (DM) tipe 1.
Selain DM tipe 1, dia juga memiliki kadar hormon tiroid yang terlalu tinggi (hipertiroid). Karena itu, Bintang juga harus mengonsumsi obat hipertiroid satu kali sehari.
Di bulan Ramadan ini, Bintang tak boleh absen dari obat-obatan itu. Sebab, gula darahnya bisa tak terkontrol.
Baca Juga : Mereka yang Tetap Berpuasa di Tengah Pengobatan Panjang (3).
Dampaknya, dia bisa merasa lapar, lemas, kebingungan, hingga mengalami penurunan kesadaran. Bedanya, selama Ramadan, pola konsumsi obatnya berubah.
Di waktu normal, Bintang menyuntikkan suntik insulin empat kali dalam sehari. Suntik NovoRapid Flexpen disuntikkan sebanyak tiga kali.
Sedangkan yang Levemir Flexpen disuntikkan satu kali. Ditambah obat hipertiroid satu kali setelah makan.
”Kalau puasa, pemberian NovoRapid dilakukan sebelum sahur dan berbuka. Sementara yang Levemir dan obat hipertiroid satu kali setelah sahur,” ujar mahasiswa semester delapan Prodi Teknik Informatika tersebut.
Meski sudah mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter, terkadang Bintang masih harus membatalkan puasa. Terutama jika gula darahnya menurun.
Sebab di posisi itu dia harus makan nasi atau makanan manis sesuai takaran. Tujuannya untuk memulihkan kondisi tubuhnya. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
”Setiap lemas, saya harus mengeceknya dengan alat. Kalau rendah, harus menunggu dua jam sampai kembali normal,” kata bungsu dari dua bersaudara tersebut.
Jika hasilnya tetap rendah, dia bakal membatalkan puasanya. Selain mengonsumsi insulin dan obat, makanan yang dikonsumsi Bintang harus sesuai takaran.
Dia harus makan minimal dua hari sekali, dan ditambah snack. Harus menjalani pengobatan selama satu dekade terakhir, Bintang sering dihinggapi rasa bosan.
Sebab dia tidak bisa sembarangan menyuntikkan suntik insulin ke tubuhnya. Jika menyuntik di tempat yang sama secara berulang, maka tubuhnya bisa berdarah atau bentol-bentol.
”Kalau puasa godaannya pun besar. Jujur, sebagai orang yang suka makanan manis, hidup dengan pola makan yang diatur sangat menantang,” kata Bintang lantas tertawa.
Namun, dibanding sepuluh tahun lalu saat usianya masih 13 tahun, kini dia bisa legawa. Dia sudah berdamai dengan penyakit yang diidapnya.
https://radarmalang.jawapos.com/sosok/14/04/2023/mereka-yang-tetap-berpuasa-di-tengah-pengobatan-panjang-2/
Bintang memang didiagnosis DM tipe 1 pada usia yang masih belia. Itu diketahuinya secara mendadak.
Kala itu, Bintang sedang menjalani perkemahan Sabtu-Minggu (Persami) saat duduk di bangku SMP.
Dia tiba-tiba muntah, merasa mual, lemas, dan mengalami kram pada kakinya. Dia pun diminta beristirahat di rumah.
Setelah istirahat tiga hari, kondisinya tak kunjung membaik. Berat badannya menurun. Gula darahnya naik hingga 500 mg/dl.
Akhirnya, dia harus dirawat satu minggu di rumah sakit. Di momen itu lah dia didiagnosis diabetes. Satu tahun kemudian, hasil pemeriksaan juga menunjukkan jika dia terkena hipertiroid.
Kepercayaan dirinya sempat memudar karena merasa diperlakukan berbeda. Sebab, setiap satu bulan sekali, dia harus kontrol ke rumah sakit. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
”Akibatnya, saya jadi sering tidak masuk sekolah. Orang tua pun memberi penjelasan ke guru. Dari sana saya jadi dapat perlakuan khusus. Itu enggak nyaman,” kisah dia.
Memasuki bangku SMA, perlahan dia mulai mencoba berdamai dengan kondisinya. Dia hanya berpikir bila penyakit bukanlah hambatan untuk hidup dan berkarya. Sejak saat itu, Bintang akhirnya lebih terbuka.
”Saya akhirnya bersemangat lagi dan mencoba aktif di sekolah. Seperti mengikuti kegiatan hingga pertukaran pelajar di Filipina,” tambah putra dari pasangan Didiet Tri Handoko dan Sayekti Mirmaningsih tersebut.
Masalah kesehatan yang dialami Bintang tergolong unik. Sebab, dia mengidap dua gangguan autoimun sekaligus. Namun, Bintang tetap boleh berpuasa.
Asal tetap rutin mengonsumsi obat. Anjuran itu disampaikan dr Rulli Rosandi SpPD KEMD dari Divisi Endokrin RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang.
Rulli menjelaskan, diabetes yang dialami Bintang tergolong DM tipe 1. Sementara diabetes yang banyak dialami masyarakat adalah DM tipe 2.
https://radarmalang.jawapos.com/sosok/13/04/2023/mereka-yang-tetap-berpuasa-di-tengah-pengobatan-panjang-1/
”Penyebabnya adalah kelainan autoimun yang sering disertai dengan gangguan autoimun lain. Kalau pada Bintang kelainannya di kelenjar tiroid,” terang Rulli.
Karena itu, suntik insulin maupun obat hipertiroid harus tetap dikonsumsi Bintang selama puasa. Sebab, meski kedua penyakit yang diidap Bintang berbeda, namun keduanya saling memengaruhi.
”Kalau enggak minum obat hipertiroid, metabolismenya akan meningkat. Saat meningkat, kebutuhan insulin juga meningkat,” lanjut Rulli.
Dia memastikan bila pasien diabetes tetap bisa beraktivitas. Seperti melakukan aktivitas fisik rutin dan berolahraga ringan.
Namun, jika sudah mengalami sejumlah kondisi, Rulli mengimbau agar penderita diabetes segera membatalkan puasa.
Khususnya bila kadar gula darahnya kurang dari 70 mg/dl, atau lebih dari 300 mg/dl. Serta terdapat gejala lain. Misalnya hipoglikemia (gula darah rendah), dehidrasi, atau penyakit akut lainnya. (*/by) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana