Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ja’far Rais Abdurrahman, Mahasiswa Malang yang Dievakuasi dari Perang Sudan

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Rabu, 3 Mei 2023 | 03:00 WIB
SELAMAT : Ja
SELAMAT : Ja
 

Perang saudara di Sudan membuat Ja’far dan mahasiswa lain terisolasi di rumah susun (rusun). Tanpa listrik dan air, sementara persediaan makanan terbatas. Mereka diimbau tidak keluar rumah agar tidak terkena peluru nyasar atau ledakan bom.

FAJAR ANDRE SETIAWAN

SUARA dentuman ledakan bom masih terngiang di telinga Ja’far Rais Abdurrahman. Dalam sehari, tidak terhitung berapa puluh kali bom meledak di Khartum, ibu kota Sudan. Di kota itulah Ja’far dan mahasiswa lain asal Indonesia tinggal. ”Kami diimbau tidak keluar rumah, agar tidak terkena peluru nyasar. Suasananya sungguh mencekam,” tutur Ja’far saat ditemui di kediamannya di Singosari, Kabupaten Malang kemarin (1/5).

Ja’far memang sudah dievakuasi dan berhasil pulang ke kampung halamannya dengan selamat. Tapi sulung dari empat bersaudara itu masih trauma. Dia merasa masih dibayang-bayangi suasana perang di Sudan.

Maklum, sejak perang pecah pada April lalu, dia terisolasi di rumah susun (rusun) yang ditinggali bersama mahasiswa lain asal Indonesia. Selama sepekan lebih dia tidak keluar rusun. Itu sesuai imbauan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Sudan.

Berada di tengah-tengah medan perang membuat Ja’far di antara hidup dan mati. Sebab, apa pun bisa saja terjadi. Misalnya risiko peluru nyasar, ledakan bom mengenai rusun, hingga bahaya lain yang mengakibatkan kematian.

Untuk bertahan hidup, Ja’far dan teman-temannya mengandalkan makanan yang tersisa di rusun. Listrik dan air PDAM juga mati. Tentu saja, dia memilih makan seadanya daripada belanja dengan risiko terkena peluru nyasar atau terkena ledakan bom.

Bertahan dalam kondisi itu selama sepekan membuat Ja’far hafal kapan saat-saat yang pas untuk keluar rumah. Biasanya usai subuh hingga terbit matahari adalah waktu-waktu nihil serangan. ”Memang tidak selalu, tapi sering begitu (nihil serangan). Mungkin saat-saat itu mereka mulai siap-siap penyerangan lagi,” ucapnya.

Di masa sepi itulah Ja’far kerap memanfaatkan waktu untuk membeli beberapa bahan makanan. “Kami membeli pun dengan harga tidak biasanya. Karena bahan makanan benar-benar terbatas, sehingga harganya mahal,” kisahnya.

Untuk memasak, Ja’far berbagi tugas dengan teman-temannya. Sehingga sekali masak bisa digunakan makan beramai-ramai. Itu pun dalam porsi yang sangat sedikit. “Bahan makanan yang ada harus dihemat agar bisa digunakan selama mungkin,” ucapnya.
Disambut Pemerintah Arab Saudi

Hidup dalam suasana mencekam itu berlalu setelah Ja’far bersama teman-temannya dievakuasi pemerintah. “Ketika diberi tahu oleh KBRI bahwa besok pagi akan ada evakuasi, maka kami siap-siap,” kata dia.

Namun karena dia menyadari kondisi genting, dia hanya membawa barang seadanya. Misalnya satu pasang baju dan beberapa dokumen penting. “Ternyata masih banyak dokumen penting yang tidak terbawa. Tapi ya sudahlah, memang saat itu dalam keadaan panik,” imbuhnya.

Setelah berkumpul di lapangan yang ditentukan oleh KBRI pada Minggu lalu (23/4), bus evakuasi datang. Ada delapan bus yang datang saat itu. Setelah itu, Ja’far bersama rombongan menuju Port Sudan selama 15 jam. Kemudian mereka menginap 2 hari untuk menunggu jadwal keberangkatan kapal menuju Jeddah, Arab Saudi.

Di Jeddah, dia bersama mahasiswa dari negara lain disambut oleh pemerintah Arab Saudi. Masing-masing diberi hadiah bunga dan cokelat oleh militer Arab Saudi. ”Saya takjub dengan sambutan pemerintah Arab Saudi yang begitu baik,” ucapnya.

Setelah itu mereka dibawa ke Indonesia, dan Minggu lalu (30/4) tiba di Malang. Dia merasa bersyukur bisa pulang dengan selamat, meski ada beberapa yang disesalinya. Misalnya, Ja’far pulang tanpa membawa Ijazah, padahal kuliahnya rampung sejak 2022 lalu. “Sebenarnya sudah selesai, tinggal menunggu ijazah saja,” kata dia.(*/dan) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#jawa pos radar malang #media online malang #berita malang #Mahasiswa malang #radar malang hari ini #Pemkab Malang #Pemkot Malang #berita malang hari ini #malang kota #wisata malang #dishub #kuliner malang #radar malang #pemkot batu #malang kipa #parkir liar