FINA Mulianastiti aktif dalam kepenulisan sejak menjadi mahasiswa pada 2003 silam. Bergabung dalam UKMP (Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis) membuatnya moncer dalam melahirkan berbagai karya. Sudah lebih dari 10 karya yang berhasil dibukukan dan terbit.
Namun, Fina mulai fokus dalam penulisan cerita anak sejak 2019. Saat itu dia merasa seperti menyelam di dunia berbeda. Dunia kepenulisan cerita anak lebih kompleks. Tidak hanya memikirkan ide yang menarik saja. Melainkan juga menakar sisi-sisi psikologis anak. “Kalau cerita anak kan berjenjang. Menyesuaikan dengan usia dan perkembangan psikologis anak,” ucapnya.
Fina merasa tertolong karena menjalankan peran sebagai ibu sekaligus guru. Setiap kali menulis cerita, dia pasti melibatkan sang anak. Setidaknya untuk membaca ulang karyanya. “Anak saya kan ada yang masih TK, satunya lagi SD. Jadi mereka yang sering memberikan masukan terkait pemilihan diksi dan menariknya cerita,” kisahnya.
Menurut guru Bahasa Indonesia di SMPN 4 Malang itu, masa anak-anak adalah waktu yang tepat untuk membiasakan gemar membaca. Namun, orang tua juga harus selektif dalam memilih bacaan anak. Utamanya disesuaikan dengan usia sang anak.
Meski saat ini merupakan era teknologi, Fina merasa keberadaan buku secara fisik tak bisa digantikan digital. Sebab, hal itu akan berdampak pada kesehatan mata anak. Dengan buku, kontrol filter bacaan lebih bisa dimonitor oleh orang tua.
Baru-baru ini, buku cerita anak Fina berjudul Opak Gadung Mbah Tri berhasil memenangi ajang Gerakan Literasi Nasional yang digelar Balai Bahasa Jawa Timur. Dalam cerita itu, Fina menulis tentang teknologi pangan. Alasan mengangkat gadung adalah upaya untuk mengenalkan makanan jenis umbi-umbian itu kepada anak-anak di Indonesia. Cerita yang ia tulis itu nantinya akan diterbitkan dalam dua bahasa. Yakni dalam Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia.(dre/fat) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana