Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Praka Pitono, Prajurit Yon Arhanud 2 sekaligus Petinju Berprestasi

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Rabu, 31 Mei 2023 | 03:00 WIB
UKIR PRESTASI: Praka Pitono menggenggam puluhan medali dan piala sarung tinju di markas Yon Arhanud 2/ Alap-Alap Malang, Minggu lalu (28/5). (Biyan Mudzaky Hanindito / Radar Malang)
UKIR PRESTASI: Praka Pitono menggenggam puluhan medali dan piala sarung tinju di markas Yon Arhanud 2/ Alap-Alap Malang, Minggu lalu (28/5). (Biyan Mudzaky Hanindito / Radar Malang)
Langganan Juara Tinju, Damaikan Konflik di Afrika

Di kesatuan TNI, Praka Pitono tergabung dalam misi perdamaian di Republik Demokratik (RD) Kongo, Afrika. Sedangkan di ring tinju, dia berhasil mengoleksi ratusan medali. Mulai juara Kejuaraan Nasional (Kejurnas), turnamen piala panglima divif, piala wali kota, piala bupati, hingga berbagai pertandingan lain.

BIYAN MUDZAKY HANINDITO

DERETAN medali berjejer di meja salah satu ruangan Batalyon Artileri Pertahanan Udara (Arhanud 2/ Alap-Alap) Malang, Jalan Untung Suropati Selatan, Kelurahan Kesatrian, Kecamatan Blimbing, Minggu lalu (28/5). Medali emas, perak, dan perunggu itu diraih oleh Praka Pitono dalam berbagai kejuaraan.

Di dinding ruangan itu, terpajang piala sarung tinju berwarna emas. Itu piala kejuaraan Panglima Divisi Infanteri (Pangdivif) 1 Kostrad 2022 di Jakarta. ”Masih banyak lagi (medali) di rumah Jombang,” ujar Pitono sembari menunjukkan piagam penghargaan kepada Jawa Pos Radar Malang.

”Ini medali yang dari tahun 2017 lalu. Kalau dihitung, total ya sudah ratusan medali,” tambahnya.

Pitono adalah prajurit yang punya nilai plus. Selain bertempur di kesatuannya, pria 28 tahun itu juga atlet profesional. Banyak pertandingan yang dimenangkan di ring tinju. Ayah dua anak itu memang sudah menggeluti dunia tinju sejak di SMK Mesin, Peterongan, Jombang.

Mulanya, dia tidak bercita-cita menjadi petinju. Terjun ke dunia tinju atas saran dari guru Bimbingan Konseling (BK). Kala itu, Pitono remaja tergolong nakal. Sering terlibat aksi perkelahian. ”Namanya juga kenakalan remaja, suka berkelahi tidak jelas. Saya dipanggil guru BK. Katanya, kenapa tidak disalurkan saja ke olah raga bela diri?,” kenang pria kelahiran Peterongan, Jombang itu.

Di sekolahnya memang ada ekstrakurikuler tinju. Usai mendapat arahan guru BK, dia pun bergabung. Setelah tamat dari SMK, dia masuk TNI. Tugas pertama sebagai prajurit langsung di Malang, 2014 silam. ”Kota Malang adalah ‘punjer’-nya tinju nasional,” kata Pitono.

”Pas di Jombang, lihat lawan dari Malang itu rasanya seperti mau mundur duluan. Pasti kalah, karena reputasinya tidak main-main. Senior-senior di sini beberapa ada yang juara dunia,” tambahnya.

Komandan yang mengetahui potensi Pitono di bidang tinju, langsung menugaskan dia mengikuti berbagai kejuaraan. Berbekal surat tugas tersebut, Pitono memulai karier dari petinju amatir kelas welter hingga melanglang buana ke berbagai daerah.

Di antaranya kejuaraan Piala Bupati, Wali Kota, Kapolres, sampai ke Kejuaraan Nasional (Kejurnas) tinju 2019 di Ternate. Tak lupa turnamen dari internal TNI AD, seperti Cakra Super Fight 2018 dan Pekan Olahraga Angkatan Darat (PORAD) 2018. Banyak dari prestasi itu mendapatkan gelar juara umum untuk cabang olah raga tinju.

Setiap turnamen yang ia ikuti memiliki kisah tersendiri. Salah satunya dalam Kejurnas yang memperebutkan Piala Presiden di Ternate pada 2019 lalu. Kejuaraan itu diikuti atlet tinju dari 27 negara.

Dari sana, dia merasakan perbedaan pukulan petinju dari setiap negara. Yang paling diingat pria yang menjabat sebagai Tamtama Operator Penembak 1 Ton 3 Bravo itu adalah ketika melawan petinju dari India. ”Kencang sekali, sampai terasa ke kepala belakang. Itu pas kena di sekitar pipi dan mulut,” ingat dia. Turnamen terbaru yang diikuti adalah Road To Glory Piala Wali Kota Malang pada Februari 2023 lalu.

Selama menjadi prajurit yang merangkap atlet tinju, Pitono pernah dihadapkan pada pilihan sulit. Tahun 2020 lalu, dia harus memilih antara mengikuti PraPON Papupa atau menerima tugas negara menjadi pasukan keamanan PBB di republik demokatik Kongo, Afrika. Dalam tugas itu, dia bersama pasukan Garuda untuk UNIFIL.

”Berat memutuskannya, satu sisi bisa mengharumkan daerah, tapi satu sisi ini tugas negara yang bisa jadi satu kali dalam seumur hidup,” ucap dia.

Setelah berpikir panjang, akhirnya dia memilih berangkat ke Kongo, Afrika. Dia merasa beruntung mendapat tugas mulia karena sebelumnya ada 5.000 nama dari tiga matra yang diseleksi, kemudian hanya diambil 850 prajurit. Kala itu, terjadi perang sipil di Kongo. “Ibarat kata, kami itu menjadi wasit di sana. Tidak boleh memihak mana pun dan tugasnya mendamaikan,” ucap dia.

Setahun di Afrika, tahun 2021 kembali pulang ke tanah air itu berujung manis. Pitono kembali ke Bumi Arema setelah mendapat piagam penghargaan dari Panglima TNI saat itu, Jenderal TNI Andika Prakasa. Atas prestasinya penyerahan ratusan pucuk senjata 145 pucuk dari milisi, dan menurunkan 349 orang milisi berikut pembebasan sandera.

Sepulang dari Afrika, dia menyabet sejumlah juara umum dari berbagai turnamen. Pada 2023 ini, Pitono menjuarai Wali Kota Malang Cup. Prestasi itu juga menandai Pitono berganti status dari atlet menjadi pelatih tinju. ”Saya dipercaya oleh Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) Kota Malang untuk menjadi pelatih kepala untuk kontingen Kota Malang di Porprov Jombang tahun ini,” katanya.(biy/dan) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#jawa pos radar malang #batu kota #media online malang #berita malang #Mahasiswa malang #radar malang hari ini #berita malang hari ini #malang kota #wisata malang #kuliner malang #radar malang #malang kabupaten #malang kipa