Berat Badan Turun 50 Kg, Hanya Bisa Makan Bubur Bayi
Hidup Dewi Kusumawati berubah sejak 2020 setelah divonis kanker lidah. Dia tak lagi leluasa mengasuh anaknya yang berkebutuhan khusus. Juga tidak mampu membantu suaminya, yang mengidap penyakit jantung koroner.
NABILA AMELIA
DEWI tampak memasukkan cairan susu ke alat suntik yang tersambung ke selang. Selang tersebut terpasang pada pipi sebelah kirinya, dan tersambung menuju hidung hingga masuk ke dalam tubuh. Berkat selang itu lah hidup Dewi selama satu tahun terakhir terbantu.
Untuk makan, dia juga menggunakan selang tersebut. Namun yang masuk bukan makanan-makanan berat. Hanya bubur bayi saja yang dikonsumsinya. Buah-buahan juga rutin dia konsumsi. Namun harus diolah menjadi jus terlebih dahulu.
Karena mulutnya belum bisa berfungsi, Dewi juga terkendala dalam hal komunikasi. Dia kerap menggunakan alat tulis sebagai alat bantu komunikasi. Cara itu pula lah yang dia lakukan saat berkomunikasi dengan Jawa Pos Radar Malang kemarin (1/6) di kediamannya, di Jalan Sidomulyo Gang 2 Nomor 22, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.
Sejak 2020, Dewi tidak mampu makan dengan lancar karena kanker lidah yang diidapnya. Semua bermula dari sariawan dan panas dalam yang dialami selama satu bulan. Awalnya dia mengira bisa langsung sembuh dengan mengonsumsi minuman pereda panas dalam.
Namun, setelah mengonsumsi tiga macam pereda panas dalam, kondisinya tak kunjung membaik. Karena khawatir, Dewi memberanikan diri ke rumah sakit. Dia lantas dirujuk ke rumah sakit tersier di Kota Malang, yakni RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang.
Di sana, dokter melakukan pemeriksaan dasar, rontgen, hingga pemeriksaan mendalam. Dari sana lah diketahui jika Dewi mengidap kanker lidah. ”Awalnya sempat dibilang tumor oleh dokter,” kenang dia. Pada bulan Juli tahun 2021, dokter meminta perempuan berusia 40 tahun itu untuk kemoterapi. Hingga tahun 2023, Dewi sudah menjalani kemoterapi sebanyak empat kali.
Selanjutnya, pada bulan Mei lalu Dewi harus melakukan operasi karena tulang pipi bagian kirinya patah. Kemungkinan, itu terjadi karena kanker yang merambat, sehingga membuat tulang pipinya rapuh dan kesakitan. Pasca mengidap kanker lidah, kondisi Dewi banyak berubah.
Dia yang biasanya berjualan sembako di rumah sekaligus mengurus anak semata wayangnya yang berkebutuhan khusus, kini hanya bisa terbaring di ranjang. Tubuhnya pun bertambah kurus. Dari yang semula berbobot 96 kilogram, menjadi 46 kilogram, atau turun 50 kilogram. Padahal, berjualan sembako merupakan kegiatan utamanya untuk membantu suaminya yang hanya pekerja serabutan.
Karena kondisi Dewi, ibunya yang bernama Linawati harus turun tangan menjaganya. Sebab, suami Dewi juga pengidap penyakit, yakni jantung koroner. Sementara anak Dewi, yakni Anastasia Margaretha yang berumur 21 tahun berkebutuhan khusus.
Anastasia tidak bisa berkomunikasi maupun beraktivitas secara lancar. Untuk berjalan, Anastasia harus dipapah karena jika berjalan lama, dia bisa roboh. Selain itu, tangannya juga tak mampu digerakkan dengan baik.
Sebagai ibu kandung, Linawati tentu sedih dengan kondisi putri kelimanya itu. Namun, dia berupaya ikhlas dan kuat dalam mendampingi. Terlebih dengan kondisi keluarga Dewi. ”Ya namanya juga anak kandung,” kata dia sembari memandang Dewi.
Demi menjaga kondisi, Dewi juga perlu kontrol setiap dua minggu satu kali. Sehingga selama satu bulan, dia harus dua kali melakukan kontrol. Linawati agak menyesalkan, karena setiap kontrol dokter tidak menjelaskan secara spesifik mengenai perkembangan kondisi Dewi. Setiap ditanya, dokter yang menangani hanya menjawab bahwa beginilah kondisi yang umum diidap pasien kanker.
”Kalau mengecek, saya lihat dokter kurang melakukan secara mendalam. Padahal, untuk kontrol saja kami harus mengantre mulai pukul 07.00,” kata Linawati. Perempuan asal Kalimantan itu mengungkapkan, tak jarang Dewi harus mengganti selang di hidungnya secara mandiri. Karena selang yang dipasang dokter, yang berukuran 15 kerap kebesaran. Itu membuat Dewi kesakitan. ”Sekarang Dewi sering pasang selang sendiri yang berukuran 14,” imbuh Linawati.
Kanker Lidah Masuk Lima Kanker Berbahaya
Spesialis mulut RS Hermina drg Miftakhul Cahyati SpPM menyebut, kanker lidah masuk urutan nomor lima kanker yang berbahaya. Dengan tingkat kematian nomor dua. Sebab, kanker lidah bisa menyerang banyak saraf dan pembuluh darah.
Salah satu kondisi awal yang perlu diwaspadai adalah sariawan. Terutama jika sariawan dirasakan selama dua minggu, dan melebar ke bagian mulut lainnya. Tanda lain yang perlu diwaspadai jika sariawan membesar, sehingga sulit berbicara. Juga ketika ada pengerasan, perubahan warna, dan pendarahan di bagian mulut.
”Kalau dihitung dalam satu tahun, pasien dengan kanker lidah stadium lanjut yang berobat ke saya bisa mencapai 10 orang,” sebut Mifta. Meski begitu, dia menyebut bila kanker lidah bisa disembuhkan. Caranya dengan kemoterapi hingga pemotongan bagian lidah untuk mencegah agar kanker tidak merambat ke bagian lainnnya. (*/by) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana