4 Tahun Merumput, Tumbangkan Tim dari 4 Negara Besar
Baru empat tahun merumput, Dewananda Daffa sudah dinobatkan menjadi pemain terbaik di ajang Barcelona Football Festival 2023, 27-28 Mei lalu. Penghargaan internasional diraih setelah timnya mengalahkan Norwegia, Irlandia, Prancis, dan Inggris.
FAJAR ANDRE SETIAWAN
WAJAH Dewananda Daffa tampak ceria. Ditemui di rumahnya kawasan Jalan Candi, Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun pada Sabtu petang (3/6), dia menceritakan moment membanggakan ketika dinobatkan menjadi pemain terbaik di ajang Barcelona Football Festival 2023, 27-28 Mei lalu. Penghargaan internasional itu diraih setelah pria 16 tahun itu mengawal Skuad ISA Lombok FC U-16 mengalahkan klub sepak bola lain. Di antaranya menyisihkan tim dari Norwegia, Irlandia, Prancis, dan Inggris. Tim dari empat negara besar itu tumbang, sehingga Merah Putih bisa berkibar di ajang internasional itu.
Mulanya dia tidak menyangka bakal menjadi juara, apalagi terpilih menjadi best player. Selain karena dia baru empat tahun merumput, keinginannya menjadi atlet sepak bola juga sempat ditentang oleh ayahnya, Sukonyoto Prasojo. Sebenarnya, sang ayah juga pemain sepak bola, namun mengalami cedera dan harus istirahat total.
Pengalaman pahit itulah yang tidak ingin menimpa anaknya. ”Saat itu, Ayah mengalami patah tulang fatal di bagian lutut sebelah kiri,” ucapnya lirih. Wajah yang cerita itu mendadak berubah pilu. ”Ayah sempat trauma. Tidak mau kejadian serupa menimpa saya,” tutur anak dari pasangan suami istri (pasutri) Sukonyoto Prasojo dan Anita Puspita Rini itu.
Musibah itu tak hanya menghentikan mimpi Prasojo menjadi pemain sepak bola profesional. Tapi juga sempat menghadang impian Dewa bermain sepak bola. Sejak kecil, pria kelahiran Blitar 4 Januari 2007 itu ingin menjadi pemain sepak bola. Keinginan itu muncul lantaran Dewa kecil kerap diajak sang ayah latihan.
Tapi karena larangan ayahnya bermain bola, Dewa kecil terpaksa mengalihkan hobinya ke olahraga bulu tangkis. Ketika mengikuti kejuaraan bulu tangkis tingkat kota, dia cedera. ”Lutut kanan saya retak,” katanya sembari tersenyum.
Menyadari bahwa cedera bisa menimpa atlet di cabang olahraga (cabor) apa saja, akhirnya Dewa nekat bermain bola. Tepatnya ketika kelas 6 SD. Namun karena takut kepada ayahnya, dia bermain bola secara diam-diam. Kala itu, ada tetangganya yang tergabung dalam klub sepak bola, sehingga Dewa ikut bergabung.
Tak lama kemudian, dia memberanikan diri menyampaikan keputusannya bermain bola ke ayahanda. Rupanya, ayahnya memberi lampu hijau. Boleh jadi, Prasojo sudah mengetahui bahwa tanpa bermain bola pun anaknya cedera.
Ayahnya berpesan agar Dewa menjaga diri dan mengedepankan keselamatan saat berada di lapangan. “Sampai sekarang saya berjanji dengan orang tua saya untuk giat dan semangat berlatih, serta tanggung jawab atas pilihan saya ini,” tegasnya.
Hampir setiap hari Dewa berlatih. Setidaknya, rutinitas wajib Dewa dalam lima tahun terakhir ini adalah berlatih hari. Teknik demi teknik dia pelajari. Kesalahan demi kesalahan diperbaiki.
Hingga akhirnya perjuangannya membuahkan hasil. Siswa kelas X MIPA 4 SMA Laboratorium UM itu tak punya trik khusus dalam bermain bola. ”Hanya berbekal tekad untuk selalu memberikan yang terbaik kepada tim,” katanya.
Selama di Spanyol, Dewa mengikuti lima pertandingan. Tiga pertandingan di babak penyisihan, Dewa bersama Skuad ISA Lombok FC U-16 melawan tim dari Norwegia, Irlandia, dan Prancis. Sementara di babak semifinal, Dewa melawan tim Belgia. Sedang dalam babak final melawan tim Inggris. “Bagi saya, tentu saja yang paling berat saat babak final melawan tim Inggris,” ucapnya.
Perjalanan selama pertandingan tidak mulus begitu saja. Sebab sepekan di Spanyol, Dewa harus beradaptasi dengan cuaca dingin. Cuaca dingin di negeri Matador itu dilawan, sehingga mampu menyuguhkan penampilan prima. Skuad ISA Lombok FC menumbangkan tim Inggris, Ware FC.(*/dan) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana