GALIH R. PRASETYO
FAJAR belum menyingsing saat Mustakim menjalankan tugas sebagai kitman tim Arema FC, kemarin (14/6). Sejak pukul 04.50, dia sudah mengendarai motor dari rumahnya di Jalan Kemantren II, Kecamatan Sukun menuju mess pemain di Jalan Raya Langsep, Kecamatan Klojen. Setibanya di mess, Abah Takim, sapaan Mustakim, bergegas menuju ruang penyimpanan jersey latihan.
Di ruang berukuran 4 x 4 meter itu, Takim memasukkan jersey ke dalam tas berukuran jumbo. Tak ketinggalan pula kaus kaki dan aksesori pelengkap. Ketika semua perlengkapan sudah dipastikan lengkap, ayah tiga anak itu bergegas menuju Stadion Gajayana, tempat tim Arema FC menjalani latihan.
Suasana di stadion masih sepi. Pemain dan pelatih juga belum tiba di lokasi. Tapi Takim dan kitman lainnya harus tiba di lokasi satu jam lebih awal. Itu karena dia harus mempersiapkan semua kebutuhan pemain dan pelatih dalam menjalani latihan. ”Jumlahnya harus lengkap. Juga harus benar-benar bersih supaya pemain nyaman,” ujar pria berusia 66 tahun tersebut.
Selama Jhon Alfarizi dan kawan-kawan tersebut menjalani latihan, Takim tidak bisa meninggalkan lapangan. Dia harus standby di lokasi. Jika pemain atau pelatih membutuhkan sesuatu, Takim yang bertugas memenuhinya.
Hingga latihan usai, dia masih di lokasi untuk membereskan perlengkapan. ”Perlunya di lapangan untuk membantu membereskan alat seperti ini,” kata Takim sembari menggulung kain putih yang digunakan untuk latihan itu.
Takim baru beranjak dari Stadion Gajayana ketika arah jarum jam menunjukkan pukul 10.00. Meski latihan pemain Arema FC sudah selesai, tugas Takim belum rampung. Setiap selesai latihan, umumnya dia dan tiga kitman lainnya mencuci perlengkapan tim.
Mulai alat-alat latihan, kostum latihan, sampai sepatu para pemain. Juga harus merawat barang-barang tersebut agar tahan lama. ”Mungkin baru benar-benar istirahat setelah jam satu siang,” ucap pria yang menjadi kitman 23 tahun itu.
Aktivitas tersebut dilakukan selama bertahun-tahun, bahkan 23 tahun. Meski setiap hari disibukkan dengan aktivitas seperti itu, baginya hal itu bukan masalah. Berkat kesehariannya sebagai kitman Arema FC, dia mendapatkan banyak manfaat. Misalnya jalan-jalan ke luar negeri mengikuti pertandingan tim Arema FC.
Dia juga bisa mengenal bintang-bintang sepak bola tanah air dan mencanegara. ”Alhamdulillah, dari sini (kitman), saya juga bisa menyekolahkan tiga anak saya sampai jenjang universitas,” papar kitman terlama itu.
Jantung Dipasang Ring, Kepala Terkena Lemparan Batu
Selain karena beberapa manfaat yang dirasakan itu, Takim juga ingin mengabdi untuk Arema FC. Itulah yang membuatnya bertahan hingga 23 tahun, meski saat ini kondisi kesehatannya perlu perhatian. Jantungnya bermasalah, sehingga dia harus dipasangi ring. ”Pantangannya ya tidak boleh kerja yang berat-berat,” katanya.
Pemasang ring dipasang di jantungnya pada empat tahun silam. Tepatnya pada 20 Desember 2019. Tindakan tersebut harus dilakukan lantaran kondisi kesehatannya terus menurun. Mustakim sulit melakukan aktivitas normal. Tubuhnya gemetar dan saat buang air kecil kerap tidak normal.
Hal itu membuatnya sempat vakum selama satu tahun. Saat itu, dia melakukan pemulihan supaya kesehatan bisa terus membaik. Kompetisi Liga 1 2021/2022 menjadi awal beraktivitas lagi. Selama dalam masa pemulihan, dia berdoa setiap hari agar bisa kembali ke tim. ”Ibaratnya, Arema itu rumah. Jadi, harus bisa kembali lagi,” katanya.
Selama bersama Arema FC, banyak asam garam yang dirasakannya. Misalnya gajinya sering telat. Pengalaman lainnya, dia juga sempat berada dalam momen menegangkan karena bus yang ditumpanginya bersama pemain Arema FC dilempari batu oleh suporter.
Kemudian pada 2005 lalu, kepalanya terkena lempar batu ketika mengikuti tim bertandang ke Pasuruan untuk melawan Persekabpas. Momen bus dilempari batu juga terjadi ketika dirinya ikut tim away ke Medan melawan PSMS. ”Bersama tim, saya juga sempat tertahan di Stadion Gelora 10 November lantaran ada rusuh di luar stadion kala itu," ucapnya. (*/dan) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana