Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sempat Diragukan Warga lantaran Tak Berpengalaman di Pemerintahan

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Senin, 19 Juni 2023 | 19:00 WIB
PEMIMPIN DESA: Kades Sumberagung Muzayid menjalani pelantikan di Pendapa Agung Kabupaten Malang, Minggu lalu (13/6).
PEMIMPIN DESA: Kades Sumberagung Muzayid menjalani pelantikan di Pendapa Agung Kabupaten Malang, Minggu lalu (13/6).
Muzayid, Kepala Desa Termuda Se Kabupaten Malang

Usianya belum genap 29 tahun ketika Muzayid terpilih menjadi Kepala Desa (Kades) Sumberagung (Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang). Sempat diragukan warga lantaran tak pernah duduk di pemerintahan, Kades termuda di Bumi Kanjuruhan itu punya segudang pengalaman dari berbagai organisasi.

INDAH MEI YUNITA

PELANTIKAN 56 Kepala Desa (Kades) di Pendapa Agung Kabupaten Malang, Selasa lalu (13/6) berlangsung khidmat. Di antara puluhan Kades berseragam dinas putih yang mengucapkan sumpah dan jabatan tersebut, ada sosok Muzayid.

Usianya belum genap 29 tahun, tapi sudah mengemban amanah sebagai Kades Sumberagung di Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Dia merupakan kades termuda. Bukan hanya di antara puluhan Kades yang menjalani pelantikan, tapi termuda di antara ratusan Kades di Bumi Kanjuruhan.

”Ketika terpilih masih 28 tahun lebih,” ujar Muzayid usai menjalani pengukuhan, Minggu lalu. ”Bisa dibilang ini sebagai hadiah ulang tahun bagi saya,” tambah pria kelahiran Malang, tahun 1994 itu.

Saat menyampaikan niatnya untuk mengikuti bursa pemilihan kepala desa (pilkades) kepada warga beberapa bulan lalu, banyak yang meragukan. Selain usianya masih muda, Muzayid juga belum punya pengalaman di bidang pemerintahan, baik pemerintah desa (pemdes) maupun tingkat lebih tinggi lagi seperti di kantor kecamatan.

Keraguan warga itulah yang makin memotivasi Muzayid untuk menggalang dukungan dari warga. Selama beberapa bulan, dia rutin sambang ke masyarakat. Menyerap aspirasi masyarakat, sekaligus mengomunikasikan keinginan warga.

Tentu saja, awalnya dia merasa berat menghadapi ”keraguan” warga. Tapi dengan keseriusannya yang ingin membangun desa, akhirnya dia mendapatkan hati masyarakat. Hal itu terlihat dari perolehan suara dalam pilkades.

Dia mendulang 2.338 suara, sementara lawannya hanya mengais 1.542 suara. Sehingga dia berhasil unggul 796 suara. ”Saya membuktikan kepada masyarakat dengan cara membangun komunikasi bersama mereka, aktif dalam organisasi tingkat desa, dan kegiatan masyarakat,” katanya. ”Juga merangkul keberagaman dan memfasilitasi pemuda,” tambah pria yang aktif di berbagai organisasi tersebut.

Di antaranya, menjadi pengurus ranting Nahdlatul Ulama (NU) Desa Sumberagung. ”Sekarang aktif di KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) Kabupaten Malang sebagai wakil ketua dan Pengurus Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Malang sebagai wakil ketua juga,” kata alumni Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) itu. Tidak hanya itu, dia juga dipercaya sebagai bendahara umum E-Sport Indonesia (ESI) dan Milenial Utas.

Berbagai pengalaman dalam berorganisasi tersebut sebagai modal untuk membangun komunikasi bersama masyarakat. Terlebih, dia juga menghidupkan Taman Pendidikan Al- Qur'an (TPQ) Darul Khoirot yang sempat vakum beberapa tahun. ”Saya juga aktif sebagai kepala TPQ di sekitar rumah,” ucapnya.

Di TPQ tersebut, dia mengajar bersama sekitar 10 ustad. Hampir setiap hari dia meluangkan waktu untuk mengajar ngaji sekitar 90 santri, mulai pukul 15.00 hingga 16.30. Muzayid memang terlahir dari keluarga pendidikan, baik formal maupun informal. ”Orang tua saya berprofesi sebagai guru. Jiwa mengajar itu berlanjut kepada saya,” lanjutnya.

Kini berhasil terpilih menjadi kades, kedua orang tua Muzayid telah berpulang ke rahmatullah. Pada 2017 ketika dia mengenyam pendidikan di Universitas Kanjuruhan Malang (kini menjadi Universitas PGRI Kanjuruhan Malang), ibunya meninggal dunia. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 2019 giliran ayahnya meninggal.

Meski belum berpengalaman di bidang pemerintahan, Muzayid optimistis mampu menjalankan roda pemerintahan dengan baik. Pengalaman di berbagai organisasi bisa diterapkan dalam memimpin perangkat desa.

Apalagi sebelumnya, dia sudah mempelajari peraturan perundang-undangan. Termasuk mempelajari regulasi-regulasi pemerintahan desa hingga pengaturan dana desa (DD). Dengan pengetahuan-pengetahuannya itu, dia bertekad membawa perubahan desa ke arah yang lebih baik. Utamanya pembangunan infrastruktur dan pengembangan Sumber Daya Masyarakat (SDM). ”Karena wilayah selatan, (desa) kami sedikit tertinggal di bidang pembangunan infrastruktur,” kata dia.

”Potensi SDM-nya bagus, khususnya pemuda juga banyak. Hanya saja, belum memiliki ruang untuk menunjukkannya," imbuh pemimpin utama media Warta Cakrawala itu.

Sebagai pemimpin desa, dia berkeinginan memberikan ruang kepada pemuda itu untuk menunjukkan potensinya agar berperan sebagai agen perubahan. Salah satunya melalui kegiatan-kegiatan kepemudaan.

Bagi dia, langkah pertama untuk memimpin desa yakni merangkul masyarakat, baik yang mendukungnya maupun pendukung lawannya. Sebab, pada akhirnya mereka tetap keluarga yang tergabung dalam satu desa. ”Strategi merangkul perlu sekali. Agar tercipta kamtibmas (keamanan dan ketertiban masyarakat). Apalagi, desa itu politik yang paling panas. Fanatisme masyarakat sangat terlihat,” pungkasnya. (*/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#jawa pos radar malang #media online malang #berita malang #radar malang hari ini #berita malang hari ini #radar malang #malang kabupaten