Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kisah Diyah Rahmawati yang Lolos dari Maut Berkat Rutin Konsumsi Sayuran Organik

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Sabtu, 24 Juni 2023 | 02:00 WIB

Diyah Rahmawati menunjukkan sayuran organik yang disuguhkan setiap ada kunjungan di Kelurahan Cemorokandang, Kecamatan Kedungkandang.
Diyah Rahmawati menunjukkan sayuran organik yang disuguhkan setiap ada kunjungan di Kelurahan Cemorokandang, Kecamatan Kedungkandang.
Dinobatkan Jadi Duta Petani Milenial sekaligus Perempuan Inspiratif Jatim

Merasa diberi kesempatan untuk hidup yang kedua, Diyah Rahmawati getol mengampanyekan pentingnya mengonsumsi sayuran organik. Pada 2020 lalu, dia dinobatkan menjadi Duta Petani Milenial Kementerian Pertanian (Kementan) sekaligus Perempuan Inspiratif Jawa Timur.

DUROTUL KARIMAH

WAJAH Diyah Rahmawati terlihat lelah. Lipatan hijabnya yang kusut dan tidak rapi menandakan bahwa perempuan 38 tahun itu sudah beraktivitas selama berjam-jam di luar rumah. Sejak dinobatkan menjadi Duta Petani Milenial oleh Kementerian Pertanian (Kementan) pada 2020 lalu, waktu Diyah lebih banyak dihabiskan untuk mengurus sayuran organik.

Tentu, aktivitas tersebut dilakukan bukan karena ibu tiga anak tersebut didapuk menjadi Duta Petani Milenial. Melainkan karena Diyah menyadari betapa besarnya manfaat mengonsumsi sayuran organik.

”Saya pernah koma selama kurang lebih empat hari,” tutur Diyah mengawali kisahnya, saat ditemui di rumahnya, Jalan Slamet Temboro, Kelurahan Cemorokandang, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, kemarin (22/6).

Secara medis, Diyah bisa meninggal ketika koma. Kalau pun sembuh, proses penyembuhannya membutuhkan waktu yang relatif lama. Tapi berkat rajin mengonsumsi sayuran organik, dia lolos dari maut. Proses penyembuhannya juga berlangsung cepat, bahkan sempat membuat tim dokter yang merawatnya heran.

”Saya sempat dijadikan bahan penelitian oleh para dokter. Ternyata setelah diusut, itu terjadi karena saya rajin mengonsumsi sayuran organik,” ungkap perempuan kelahiran Ponorogo, 1985 silam.  

Saat mengandung anak kedua pada 2013 lalu, Diyah sering kejang hingga tidak sadarkan diri. Setelah dibawa ke rumah sakit, dokter memvonisnya menderita eklampsia. Secara medis, eklamsia adalah komplikasi kehamilan yang ditandai tekanan darah tinggi dan kejang sebelum, selama, atau setelah persalinan. Kondisi tersebut bisa mengancam nyawa ibu dan janin yang dikandungnya. Satu-satunya cara agar selamat adalah dengan melahirkan dini.

Dalam persalinan tersebut, Diyah selamat. Tapi janinnya yang baru berusia 7 bulan tidak tertolong. Sebenarnya, tanda-tanda eklampsia sudah muncul di awal masa kehamilan. Namun dia tidak menyadari karena kurangnya pemahaman.

Saat bangun dari koma, Diyah sempat lupa pada anak pertamanya. ”Waktu itu saya masih di RS. Suami saya masuk dengan menggendong anak usia tiga tahun. Saya tanya, itu siapa yang kamu gendong?," ucap Diyah.

Selain memulihkan kesehatan dan mencerna keadaan tersebut, Diyah juga perlu membangun lagi memorinya. Dokter menyarankan Diyah agar istirahat dalam waktu lama jika ingin sembuh. Namun dalam waktu sekitar 20 hari, dia sudah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang. Hal tersebut membuat para dokter heran, kenapa pemulihan Diyah dapat terjadi dengan cepat.

Selain itu, dokter juga menyarankan Diyah agar tidak hamil lagi. Sebab, eklampsia kambuh lagi jika pengidapnya hamil. Kemungkinan besar kambuh lagi pada usia kehamilan yang sama. Namun Diyah dan suami sudah bertekad untuk menambah anak.

Setelah hamil anak kedua, kondisinya baik-baik saja. Eklampsia yang pernah dideritanya itu tidak kambuh lagi, bahkan kini Diyah sudah mengandung anak ketiganya. Dia yakin berhasil melewati dua kali proses persalinan itu lantaran berkat mengonsumsi sayur organik.

Kebiasaan mengonsumsi sayuran organik berawal pada 2010 silam. Setelah melahirkan anak pertama, Sarjana Pertanian Universitas Brawijaya (UB) itu memutuskan berhenti bekerja. Tapi karena Diyah terbiasa berkegiatan sejak mahasiswi, pada tahun itu pula dia bergabung dengan Kelompok Tani Wanita (KTW) di Cemorokandang.

Dari sana lah ia kenal dengan sayuran organik dan rutin mengonsumsinya. Dalam mengonsumsinya, Diyah tidak mengolah sayuran. Tapi mengonsumsinya dalam bentuk smoothies. ”Hanya dengan mengganti pola sarapan dengan smoothies,” ungkap anak ke 2 dari 5 bersaudara itu.

Tiga tahun kemudian dia mengidap eklampsia. Kebiasaannya mengonsumsi sayuran organik berperan besar terhadap proses kesembuhannya. Menyadari begitu pentingnya sayur organik bagi kesehatan, pada 2015 dia menyewa lahan seluas 200 meter persegi untuk ditanami sayuran organik. Dia juga menciptakan ”abang sayur organik” untuk memasarkan secara online di Instagram.

Hingga kini, Diyah sudah memiliki 19 petani mitra yang memasok sayuran organik. ”99 persen pembeli merupakan ibu-ibu yang memiliki masalah kesehatan," lanjutnya.

Namun tak jarang juga anak-anak muda yang mulai sadar kesehatan juga menjadi pelanggannya. Baginya, bisnis bukan sekadar profit, tetapi juga menghasilkan manfaat bagi sekitar. 

Tidak hanya menjual, dia juga memberikan pelatihan kepada mahasiswa maupun masyarakat yang ingin belajar menanam sayuran organik. Mahasiswa magang berdatangan dari penjuru Indonesia untuk belajar di tempatnya.

Kemudian pada 2015 itu juga dia mendapat pendanaan program Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP) dari Kementan RI. Lalu pada 2020 dia dinobatkan menjadi Duta Petani Milenial Kementan. Dan tahun ini dinobatkan menjadi Perempuan Inspiratif Bidang Pertanian oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. (*/dan)

 

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#sayur organik #konsumsi