Pilihan Patrice Eugenia Fauzi menekuni renang sejak usia 5 tahun bukan keputusan keliru. Dia sudah mampu berprestasi pada usia 6 tahun. Bahkan pada 10-18 Juni lalu, bocah kelahiran 4 Mei 2011 itu mampu meraih 10 medali dalam ajang Festival Akuatik Indonesia (FAI).
GALIH R. PRASETYO
SABTU, 24 Juni 2023, Patrice sedang melahap menu latihan fisik di Lapangan Rampal. Selain untuk memperkuat endurance atau daya tahan, fokus latihan hari itu adalah menambah kelincahan atau agility. Keringat pun tampak bercucuran di wajah bocah 12 tahun tersebut. Sesekali dia mengambil napas panjang, seperti sedang mengembalikan semangat untuk menyelesaikan program yang diberikan pelatihnya.
Hari itu Patrice melakukan latihan fisik bersama klubnya, Tirta Nirwana SC. ”Dalam seminggu, latihan seperti ini (fisik, red) biasanya dilakukan satu kali. Tiap Sabtu,” ujar atlet renang yang berdomisili di Kecamatan Blimbing itu. Sedangkan latihan di kolam renang rutin dilakukan Senin sampai Jumat.
Kali ini Patrice memang menjalani program latihan yang sangat padat. Sebab, dia sedang menghadapi kejuaraan renang SEA Age Group 2023 Agustus nanti. Ajang itu mempertemukan atlet renang kelompok usia se-Asia Tenggara.
Untuk bisa lolos menuju kejuaraan itu juga tidak mudah. Kabar yang diterima wartawan koran ini dari pegiat renang di Malang Raya, calon peserta harus memenuhi syarat limit waktu khusus, yakni sekitar 1 menit 100 meter untuk gaya bebas. Mereka juga harus bersaing dengan 1.500 perenang dari penjuru daerah di Indonesia.
Patrice mendapatkan limit untuk tampil SEA Age Group 2023 di nomor gaya bebas 100 meter dengan catatan 1 menit 01 detik. Kesempatan untuk mewakili Indonesia di ajang tersebut juga dia dapatkan seusai mendulang sejumlah medali pada ajang Festival Akuatik Indonesia (FAI) baru-baru ini. Yakni 8 medali emas, 1 medali perak, dan1 medali perunggu. Prestasi itu dia raih setelah tampil impresif di nomor individu dan kelompok.
Sebelumnya Patrice juga mengoleksi tiga medali emas ajang Indonesia Open di Jakarta pada akhir Desember 2022. Lalu pada Maret lalu, dia memborong 6 medali emas di Kejurda Jawa Timur 2023.
Dalam setiap meraih medali, perjuangan yang dilakukan Patrice tidak pernah mudah. Contohnya saat bertanding di Festival Akuatik Indonesia. Anak pertama dari pasangan Amin Fauzi dan Martha Tilova itu harus disiplin menjaga pola makan dan istirahat. Dia tidak diperbolehkan makan daging, gorengan, atau yang mengandung tepung-tepungan dan pemanis.
Menu makanan yang dia lahap setiap hari kebanyakan direbus. Contohnya untuk asupan karbohidrat, dia cukup dengan makan kentang rebus. Sedangkan untuk waktu istirahat, pukul 20.00 wajib tidur. ”Pelatih juga memberi saya menu latihan tambahan setiap hari,” ungkapnya.
Latihan tambahan biasanya ditujukan untuk menguatkan otot. Contohnya melakukan squat jump dengan beberapa pengulangan. Alhasil, dia kerap berlatih dua kali dalam satu hari.
Sedikit mundur ke belakang, Patrice mulai mendulang prestasi pada 2017. Ketika itu usianya masih 6 tahun. Yang pertama dia bawa pulang adalah medali di kejuaraan renang di Kediri. ”Dari nomor gaya bebas juga,” terang alumnus SD Brawijaya Smart Schools tersebut.
Medali pertama itu seolah menjadi obat dari pengalaman pahit saat dia mencoba bertanding pada usia 5 tahun. Kala itu Patrice sempat menjadi bahan olok-olok seisi GOR Renang di Kota Malang. Dia gagal finish saat tampil di nomor gaya dada. Sampai tengah lintasan, Patrice malah berbelok lantaran tidak kuat melanjutkan lomba akibat nervous.
Momen pada kejuaraan pertama itu masih membekas sampai saat ini. Patrice juga ingat, sejak sebelum lomba dia sudah menangis lantaran takut. Itu karena penonton yang datang ke GOR Renang Stadion Gajayana benar-benar penuh. ”Sampai sekarang masih merinding kalau ingat kejadian itu,” kenang pelajar SMP Kalam Kudus Kota Malang tersebut.
Sebelum menekuni renang, Patrice memang bukan anak yang mudah bergaul. Dia kerap pindah-pindah sekolah dan hanya mempunyai satu teman saja. Itu pun tidak terlalu akrab. ”Dulu, saya kerap merasa dada sesak kalau bertemu orang baru,” katanya.
Renang justru bisa mengatasi masalah seperti itu. Malah, sekarang Patrice memiliki jaringan pertemanan yang sangat luas. Dia kenal banyak sekali atlet renang di Malang maupun dari daerah lain.
Di luar kolam renang, Patrice juga pernah merasakan tekanan dari lingkungan sekitar. Misalnya, orang-orang yang memandang sebelah mata terhadap dunia renang. Banyak yang mempertanyakan mengapa Patrice tidak memiliki cita-cita menjadi dokter, arsitek, atau setidaknya PNS. Mereka menganggap pekerjaan-pekerjaan semacam itu lebih menjanjikan dibanding menjadi atlet renang.
Tidak gampang bagi Patrice untuk menghadapi tekanan seperti itu. Di usia yang masih bocah, pertanyaan-pertanyaan tentang pekerjaan bukan hal mudah untuk dicerna. Beruntung kedua orang tuanya selalu memberi dukungan penuh. Mengubah pandangan miring menjadi motivasi untuk terus berprestasi.
Kini, Patrice semakin jatuh hati pada olahraga renang. Bertemu dengan air selalu menjadi momen yang menyenangkan. Dia sangat betah berlama-lama di air untuk berenang. ”Waktu masih kecil dulu, saya sering menangis kalau disuruh keluar dari kolam renang,” imbuhnya.
Padahal, kecintaannya terhadap kolam renang bukan berawal dari diri sendiri. Semua berasal dari trauma sang ayah yang temannya meninggal akibat tenggelam. Bahkan sang ayah memberikan Patrice pelatihan khusus renang di tempat privat saat masih usai 4 atau 5 tahun. Dia baru bergabung klub renang pada 2016 lalu.
Tak perlu waktu lama bagi Patrice untuk menguasai teknik renang yang diajarkan pelatih privatnya. ”Misalnya untuk gaya dada. Saya bisa menguasai gaya itu setelah latihan dalam dua minggu,” tandas penyuka novel fantasi tersebut. (*/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana