Di balik pencapaian Depri Satriawan membangun Komunitas Freeletics Malang, ada tantangan yang luar biasa. Semua berawal dari ketidaknyamanan memiliki berat badan hingga 100 kilogram.
AFIFAH RAHMATIKA FURZAEN
KAWASAN Idjen Boulevard menjadi tempat latihan olahraga freeletics, setiap gelaran Car Free Day (CFD). Minggu pagi (25/6), Depri memandu puluhan orang berolahraga freeletics. Pengunjung CFD yang ingin berolahraga boleh bergabung secara gratis, bahkan mendapat wawasan tentang pola hidup sehat dan menurunkan berat badan.
Freeletics berasal dari kata ”bebas” dan ”atletik”. ”Olahraga ini tidak menggunakan alat apa pun. Cukup mengandalkan berat badan sendiri dan bisa dilakukan di taman, kos-kosan, dan lain-lain,” ujar Depri usai memandu olahraga freeletics.
Sebelum mendirikan komunitas Freeletics Malang, pria 33 tahun itu punya pengalaman pahit soal soal berat badan. Pada 2009 silam, semasa menjadi mahasiswa Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Brawijaya (UB), berat badannya mencapai 100 kilogram.
Berat badannya membengkak dalam waktu yang relatif singkat lantaran dia tidak bisa mengendalikan pola makan. Bagi dia, sajian makanan di Kota Malang lebih lezat dibanding daerah asalnya, Sumbawa. Selain itu, harganya juga lebih miring.
”Saya mengakui bahwa dulu suka kuliner porsi banyak. Pas jam makan siang atau makan malam, sering beli kulit ayam crispy. Saat makan juga selalu pakai kerupuk, dipadu minumnya es teh manis,” beber pria kelahiran 26 Desember 1990 ini.
Padahal, makanan tersebut mengandung kalori yang tinggi. Yang terdiri dari minyak, tepung, dan penyedap rasa.
Rutinitas makan Depri selama kuliah tak terkontrol. Misalnya, baru makan tengah malam hingga waktu istirahatnya berkurang. Akhirnya berat badanya mencapai 100 kilogram. ”Ternyata gemuk itu tidak enak. Setiap kali jalan di kampus, rasanya ngos-ngosan,” kata dia. ”Apalagi saya anak teknik arsitektur yang harus banyak gerak di luar ruangan,” imbuhnya.
Suatu ketika, Depri ingin mengubah hidupnya menjadi lebih sehat. Namun permasalahannya dia tak punya budget untuk fitness. Kemudian dia mencari cara dengan searching di YouTube tentang olahraga yang sesuai dengan budget mahasiswa. Ada salah satu postingan yang membahas freeletics.
Seketika itu, Depri langsung tertarik mempelajari olahraga asal Jerman tersebut. Baginya, gerakan olahraga freeletics cukup mudah. Misalnya lari pendek atau sprint, push up, leg lever (berbaring lalu mengangkat kedua kaki ke atas), dan sebagainya. ”Ternyata freeletics bisa menurunkan berat badan dan membuat tubuh jauh lebih fit," jelasnya.
Biasanya, dalam waktu 2 bulan bisa menurunkan berat badan sekitar 3-5 kilogram. Sedangkan bulan keempat konsisten berolahraga freeletics dapat menurunkan berat badan 10 kilogram.
Berkat hasil tersebut, pada 2013 lalu Depri membangun komunitas yang diberi nama Freeletics Malang. Tentu tak langsung diikuti banyak orang. Awal berdiri hanya beranggota 3 sampai 5 orang, tapi kini mencapai 70 orang. ”Saya ingin orang-orang hidup sehat. Melalui Freeletics Malang, masyarakat bisa rutin berolahraga tanpa harus mengeluarkan budget," tutur warga yang berdomisili Sawojajar, Kota Malang ini.
Berbekal fasilitas publik, yakni Lapangan Rampal dan area CFD, dia mulai mengembangkan komunitasnya. "Sering kali usaha saya dianggap remeh oleh orang lain. Tapi saya harus bisa membuktikan bahwa olahraga freeletics bisa membantu banyak orang," terangnya.
Selama kurang lebih 10 tahun ini dia telah membantu puluhan orang untuk menurunkan berat badan. Ada yang ibu rumah tangga hingga mantan narapidana ikut bergabung dengannya. ”Pada intinya, saya tak pernah membedakan latar belakang orang lain. Siapa pun boleh ikut berolahraga freeletics. Siapa tahu orang tersebut berpotensi menjadi pelatih freeletics," tutup ayah anak satu itu.(*/dan).
Editor : Yudistira Satya Wira WicaksanaSumber : Radar Malang