Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kisah Hariadi, Pengusaha Bioskop Keliling yang Sukses pada Masanya

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Selasa, 4 Juli 2023 | 22:00 WIB
Hariadi memutar film menggunakan proyektor lawas di rumahnya, Jalan BS. Riyadi, Kelurahan Oro-Oro Dowo, kemarin.
Hariadi memutar film menggunakan proyektor lawas di rumahnya, Jalan BS. Riyadi, Kelurahan Oro-Oro Dowo, kemarin.

Jejak kejayaan Hariadi sebagai pengusaha bioskop masih tersisa di Museum Indonesia Old Cinema, Jalan BS Riyadi, Oro-Oro Dowo. Hampir semua daerah di Indonesia pernah mengundang dia untuk pemutaran film. Usahanya itu sempat dikunjungi oleh menteri penerangan RI Harmoko.

DUROTUL KARIMAH

DERETAN poster film lawas menempel di dinding ruangan selebar 2×6 meter. Mulai dari film Romantika Remaja di SMA, Jaka Sembung, Buaya Putih, Jaka Tuak, Bunga Cinta Kasih, Aladin, hingga Suzana. Artis-artis lawas yang menjadi bintang terpajang, seperti Rano Karno, Meriam Bellina, dan Paramita Rusady. Selain desain, warnanya yang mulai pudar menambah kesan jadul pada poster-poster tersebut.

Proyektor lawas untuk memutar film terpasang menghadap salah satu sisi dinding. Kondisinya masih terawat. Demikian juga gulungan film lawas tergeletak di meja. ”Satu detik film itu berisi 24 gambar. Tinggal dikalikan saja berapa durasi filmnya" tutur Hariadi sembari mengambil salah satu gulungan film ukuran 16 mm, kemarin.

Kemudian dia menyambungkan beberapa colokan, lalu film tersebut berputar. Putaran film tersebut menimbulkan suara 'tek tek tek' sebelum akhirnya muncul cahaya dari lensa dan muncul gambar di layar lebar. Sahur Sepuh, judul film yang diputar Hariadi. ”Ini film populer tahun 1980 an," terang pria 75 tahun itu saat ditemui di rumah sekaligus Museum Indonesia Old Cinema itu.

Tampilan filmnya sudah berwarna dan ada titik-titik hitam di sepanjang film. Tidak terlalu jauh berbeda dengan film zaman sekarang. ”Film Sahur Sepuh itu sebelumnya merupakan serial drama dalam radio, kemudian difilmkan,” kata dia . 

Museum Indonesia Old Cinema tersebut masih dalam penataan sebelum dibuka lagi. Sejak berdiri pada 2017 lalu, museum tersebut terletak di Jalan Soekarno Hatta. Namun tahun ini Hariadi memindahkannya ke rumahnya di Jalan Brigjend Slamet Riyadi. Alasannya karena dekat dengan kawasan Kajoetangan Heritage.

Mulanya Hariadi tidak berniat memajang koleksi pribadinya tersebut di museum, namun seorang kerabat menyarankannya. ”Katanya, daripada sayang terbuang," ungkapnya.

Karena barang-barang tersebut juga merupakan saksi perjalanan usaha layar tancap miliknya dulu. Ya, Hariadi merupakan pengusaha layar tancap sebelum tahun 2000. Sekitar tahun 1970, Hariadi bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Departemen Penerangan RI. Saat itu, dia bertugas memutar film-film Keluarga Berencana (KB) untuk sosialisasi ke kampung-kampung di Malang.

”Yang datang ribuan penonton. Jadi, saya berpikir apabila ditarik uang pasti akan menguntungkan," ungkapnya.

Dari sana lah muncul ide membuat usaha layar tancap. Dia dan istrinya akhirnya membeli proyektor dari salah seorang kenalannya seharga Rp 750 ribu. Dia sempat ragu akan berhasil, terlebih dia hanya memiliki sepeda ontel.

 Akhirnya, istrinya, Endang Maherowati menjual seluruh perhiasannya untuk dibelikan motor. ”Saya dengan istri setiap malam sewa lapangan, pasang gedek.  Saya muter film, istri saya jualan karcis," ungkapnya.  Untuk itu, usahanya tersebut diberi nama Cinedex yang merupakan singkatan dari Cinema Gedex. 

Dalam usahanya tersebut, Hariadi bekerja sama dengan karang taruna atau remaja masjid. Harga karcis dibanderol Rp 150. Setiap kali pemutaran film Cinedex ditonton 2 ribu hingga 5 ribu orang. Sekali pemutaran bisa sampai 3 film. Mulai pukul 19.00 hingga 23.00. ”Biasanya kita jeda setiap 45 menit untuk penjual kacang jagung," tambahnya. 

Bagi Hariadi, perjalanan bisnis tersebut tidak selalu mulus. Kendala yang dialami Hariadi adalah film putus saat pemutaran berlangsung. Hal itu sering terjadi.

Ribuan penonton sempat mengamuk dan berteriak agar uangnya dikembalikan. ”Balik duwek, balik duwek (uang kembali, uang kembali)” kata Hariadi menirukan teriakan ribuan penonton kala itu.

Teriakan penonton tersebut sempat membuat Hariadi resah. Dia pun melakukan berbagai upaya agar film tidak putus saat pemutaran berlangsung. "Saking paniknya, saya sampai pakai tai ayam untuk lem film agar tidak putus," kenangnya.

Setelah 9 tahun berjuang, Hariadi mulai menambah proyektor dan mempekerjakan orang. ”Saat itu kami punya 45 unit proyektor. Pemutarannya sampai ke Sulawesi," ungkapnya. 

45 unit proyektor tersebut disebar ke berbagai daerah di Jawa Timur, seperti Jember, Bojonegoro, dan Pasuruan. Hingga 1995 silam, karyawan Cinedex menembus 400-an personel. 

Setelah sukses, dia hanya mengendalikan karyawan dari Malang. Pada puncak kejayaannya, Cinedex milik Hariadi dikunjungi oleh Menteri Penerangan RI H Harmoko. Bisnis layar tancap mulai menurun ketika televisi berkembang. Yang semula hanya TVRI, kemudian bertambah menjadi SCTV dan RCTI. Kemudian disusul Indosiar dan berbagai saluran televisi baru.

Untuk mengenang kejayaan Cinedex, barang-barang lama milik Hariadi dipajang di museum Indonesia Old Cinema. Dengan cuma-cuma, pengunjung dapat bernostalgia di dalam museum tersebut. ”Nanti setelah buka lagi, akan kami buat seperti bioskop. dengan tiket masuk Rp 10 ribu atau Rp 15 ribu saja pengunjung bisa nonton film lawas dan dapat minuman makanan,” pungkasnya. (*/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Pengusaha #Bioskop