IPK 3,99 jelas membuktikan betapa serius Hanna Fauziah Habibah menjalani kuliah. Apalagi diwisuda dengan predikat lulusan terbaik Universitas Brawijaya. Semua bisa dia raih meski harus kuliah sambil berjualan kue dan jaga warnet.
FAJAR ANDRE SETIAWAN
BANGKU kuliah terasa mewah bagi Hanna Fauziah Habibah. Bisa merasakan belajar di perguruan tinggi pun dianggapnya sebagai pengalaman mahal. Jika bukan karena tekad dan kerja keras, sudah pasti Hanna tak bisa mengenyam pendidikan tinggi.
Hanna hanyalah anak seorang tukang tambal ban. Ibunya turut bekerja serabutan untuk membantu ekonomi keluarga. Penghasilan mereka kerap tak cukup untuk menghidupi ketiga anaknya. Termasuk Hanna yang punya keinginan kuat untuk kuliah.
Saat duduk di bangku SMA, Hanna hanya berharap ada keajaiban yang bisa membuatnya kuliah. Sebab, biaya pendidikan tinggi saat ini begitu mahal. Apalagi sekelas Universitas Brawijaya (UB). Salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia.
Harapan itu mulai dia gapai dengan prestasi di sekolah. Lewat nilai akademik yang tinggi, dara kelahiran 14 Oktober 2004 itu bisa masuk UB melalui jalur SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Atau dulu yang dikenal dengan jalur undangan prestasi rapor. Dia diterima pada pilihan kedua, yakni Jurusan Teknik Pertanian. ”Dulu pilihan pertama saya adalah Teknik Pengairan,” ucapnya.
Keajaiban seolah datang lagi. Hanna diterima sebagai penerima beasiswa bidik misi (saat ini menjadi KIP-K atau Kartu Indonesia Pintar-Kuliah). Minimal biaya yang harus dibayar ke kampus untuk kepentingan kuliah sudah tidak perlu dipikirkan lagi. Namun kesulitan tetap ada lantaran kuliah juga membutuhkan uang untuk kebutuhan operasional.
Salah satu kesulitan langsung dia rasakan saat mengerjakan tugas-tugas kuliah. Kala itu Hanna belum memiliki laptop. Untuk membeli langsung, jelas tidak punya uang. Akhirnya dia rutin menyisihkan sebagian uang dari beasiswa. ”Setiap bulan saya mendapat bantuan uang saku Rp 700 ribu dari bidikmisi,” ungkapnya.
Butuh waktu tidak singkat bagi Hanna untuk bisa menyisihkan uang hingga cukup buat membeli laptop. Pada saat yang sama, setiap hari dia harus menempuh perjalanan lebih dari satu jam dari rumahnya di Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, menuju kampus. Tentu dia harus mengeluarkan uang untuk biaya transportasi.
”Selama belum punya laptop, saya mengerjakan semua tugas di warnet (warung internet). Jadi setiap pulang kuliah saya langsung ke warnet mengerjakan tugas,” imbuhnya.
Beruntung salah seorang tetangganya memiliki usaha warnet. Nyaris tiap hari Hanna menghabiskan waktu cukup lama di tempat tersebut. Lama-kelamaan, sang tetangga memberi tawaran agar Hanna sekalian menjadi penjaga warnet.
Tawaran itu ibarat angin segar. Tanpa pikir panjang langsung dia terima. ”Sebenarnya bukan kerja. Hanya bantu menjaga warnet. Saya bisa jaga sambil mengerjakan tugas secara gratis,” kenangnya.
Satu lagi pengeluaran bisa dihemat. Tapi Hanna tetap membutuhkan tambahan uang untuk menutup biaya operasional sekolah di luar yang sudah ter-cover beasiswa. Dengan membuang segala rasa canggung, gadis 19 tahun itu memutuskan untuk berjualan kue.
Setiap berangkat kuliah dia membawa bermacam-macam kue untuk dijajakan di kampus. Keuntungan dari berjualan kue cukup memberikan penghasilan tambahan. Akhirnya Hanna bisa membeli laptop pada akhir semester dua.
Selama kuliah, Hanna tak banyak mengikuti kegiatan organisasi di kampus. Alasannya karena waktu. Apalagi Hanna juga aktif sebagai pengajar les privat. ”Tapi saya masih sempat menyisihkan waktu untuk mengasah kemampuan bermain catur. Tahun 2019 lalu bisa mendapat medali perak Kejuaraan Catur Olimpiade Brawijaya,” ujarnya.
Sederet prestasi sebenarnya sudah diukir alumnus SMAN 1 Tumpang itu sejak sekolah. Beberapa Olimpiade Sains Nasional pernah dia menangi. Terutama dalam bidang astronomi. ”Makanya saya sempat jadi tutor di SMA dulu untuk OSN astronomi,” ungkapnya.
Tradisi berprestasi itu terus bertahan hingga lulus kuliah. Hal itu terbukti dengan capaian Indeks Prestasi Kumulatif yang nyaris sempurna, yakni 3,99. Ditambah lagi, Hanna dinobatkan sebagai wisudawan terbaik dalam Universitas Brawijaya pada acara wisuda yang digelar 25 Juni lalu.
Kini dia bisa membuktikan bahwa impitan ekonomi bukan halangan untuk meraih pendidikan tinggi. Yang paling penting adalah niat dan kerja keras. ”Orang tua kemarin pasti bangga ya. Saya percaya jalan satu-satunya mengubah nasib dan ekonomi keluarga adalah melalui pendidikan,” tutupnya. (*/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana