Dulu Tanding di Pasar, Kini Rajin Sabet Medali Internasional
Sejak usia 6 tahun, l Fernanda Agus Saputra sudah sering main catur di Pasar Bunul. Melawan orang-orang yang usianya jauh lebih tua. Kebiasaan itu sangat bermanfaat untuk membangun mental bertanding.
GALIH R. PRASETYO
PUTRA tampak serius menatap layar ponsel di atas meja Perpustakaan Universitas Brawijaya. Jarinya naik dan turun seperti mencari sesuatu di smartphone tersebut itu. Saat didekati, ternyata dia sedang membaca e-book tentang catur.
Salah satu bab yang sedang dia pelajari adalah strategi bertahan Sicilian Defense. Bab itu menyajikan banyak angka-angka rumus. Yang tentu saja hanya bisa dibaca oleh penggemar atau atlet catur.
Bagi Putra, mengisi waktu luang dengan membaca hal-hal terkait catur merupakan kebiasaan sejak duduk bangku sekolah dasar. Momen seperti itu dianggap menyenangkan karena bisa mendapatkan ide-ide dan strategi baru dalam bermain catur. ”Menggeluti dunia catur itu merupakan proses belajar yang tidak pernah berhenti,” ungkap atlet yang kini berusia 21 tahun tersebut.
Menurutnya, strategi dalam permainan catur terus berkembang. Setiap atlet dituntut terus mempelajari hal-hal baru. Termasuk tentang regulasi maupun teknis permainan. Jika berhenti belajar, lawan akan mudah membaca permainannya.
”Sekali bertanding orang pasti akan mengenal atau menandai ciri dan strategi lawan. Akan sulit untuk survive apabila tidak berusaha berkembang,” terangnya.
Putra juga menganggap belajar sebagai cara untuk melatih pikiran dan memeras otak. Bahkan, saat bertanding catur, dia lebih menyukai berhadapan dengan lawan yang levelnya lebih tinggi. Kebiasaan seperti itu bahkan sudah melekat sejak usia enam tahun. Putra tidak pernah merasa puas jika hanya menang dalam pertandingan catur di pasar.
Sejak kecil Putra memang sering di suruh orang tuanya main catur di Pasar Bunul, Kota Malang. Selain untuk menguji hasil latihan, hal itu juga untuk mengasah mental dan psikologis bungsu dari tiga bersaudara itu. Permainan catur orang-orang pasar sangat dinamis. Rata-rata mereka belajar secara otodidak dan tidak mengenal hal-hal teknis.
Kondisi itu justru membuat Putra harus siap dengan segala kondisi. ”Alhamdulillah, dari latihan di pasar itu bisa menguatkan mental bertanding,” papar mahasiswa Statistik Universitas Brawijaya tersebut.
Saat berusia 7 tahun, Putra memberanikan diri untuk mengikuti kejuaraan resmi di tingkat Malang Raya sampai Provinsi Jatim. Namun saat itu dia tidak langsung bisa menyabet gelar juara. Malah, Putra kecil harus sering pulang dengan tangan kosong. Contohnya saat mengikuti Kejurprov U-8 yang diselenggarakan di Blitar pada 2009.
Kegagalan mendulang prestasi itu tak membuatnya menyerah. Putra terus mengasah keterampilan, termasuk bertanding-dengan orang-orang yang jauh lebih tua.
Prestasi akhirnya datang pada usia 10 tahun. Alumnus SMP N 3 Malang itu menyabet juara 3 Kejuaraan Catur Tingkat Provinsi di Tulungagung. Sayangnya, setelah itu Putra kembali seperti pada kondisi awal. Tidak pernah mengantongi medali atau trofi dalam waktu hampir delapan tahun.
Pemuda yang tinggal di Jalan Kumis Kucing, Kota Malang itu bahkan kerap mempertanyakan apa yang kurang darinya. Termasuk metode apa yang perlu dilakukan untuk membuat permainan lebih solid. Kerap kali dipikir, solusinya tak kunjung ketemu.
Putra memutuskan untuk meningkatkan intensitas latihan. Dari dua kali menjadi tiga kali dalam sehari. Dalam seminggu hanya libur sehari. Waktu bermain bersama teman pun dipangkas. Berganti dengan mempelajari e-book yang berkaitan dengan catur. Aktivitas semacam itu juga kerap dia lakukan pada saat jam istirahat sekolah.
Menonton pertandingan pecatur dunia juga menjadi salah satu metode belajar Putra. Yang paling sering dia tonton adalah permainan Bobby Fischer, juara US Chess Champions saat baru berusia 14 tahun dan menjadi grand master pada usia 15 tahun.
Latihan dan belajar keras itu akhirnya membuahkan hasil. Pada 2018, Putra meraih medali perak Kejurprov di Sumenep, Madura. Prestasi itu membuat dia masuk tim Porprov Catur Kota Malang pada 2019. Sekaligus mengumpulkan satu demi satu gelar juara bersama rekan-rekannya.
Misalnya saat mengikuti Porprov pada 2019. Dia membawa pulang 2 medali perunggu dan 1 medali perak. Pada tahun yang sama Putra juga meraih medali emas Kejurnas di Ambon dan Tulungagung.
Pada Februari 2020, Putra mendapatkan kesempatan tampil di kejuaraan catur internasional Asia Junior. Dia menjadi bagian dari tim nomor beregu Putra dan meraih 2 medali. Yakni medali emas di catur klasik dan perunggu di nomor catur cepat.
Meski kategori beregu, namun pertandingan diselenggarakan secara individu. Putra menang 5 kali dalam 9 pertandingan di nomor catur klasik. Kemudian menang 7 kali dari 9 pertandingan di nomor catur cepat.
Rentetan hasil positif itu membuat Putra semakin sering mendapatkan panggilan untuk tampil di kejuaraan internasional. Baik bersama tim yang membawa nama Indonesia maupun Universitas Brawijaya. Contohnya pada Mei 2022, dia bersama tim Universitas Brawijaya tampil pada kejuaraan catur di Malaysia. Saat itu Putra sukses meraih medali emas.
Putra juga sempat bermain di kejuaraan internasional dengan merogoh kocek pribadi. Misalnya, memanfaatkan bonus dari kampus untuk mengikuti kejuaraan terbuka di Singapura pada Desember 2022. Saat itu dia menempati peringkat 4 dari 18 peserta. Hadiahnya SGD 1.000 atau Rp 11.290.440.
Hal serupa juga dilakukannya pada April lalu. Saat itu Putra mengikuti turnamen terbuka di Singapura dan finish pada urutan ke 9 dari sekitar 30 peserta. ”Inspirasi saat itu mencoba tantangan baru dan tergiur hadiah kejuaraan yang tinggi, yakni 22.000 Dollar Singapura,” ujarnya.
Semua keperluan dia urus sendiri. Mulai dari paspor, tempat menginap, sampai makanan penunjang performa. ”Tantangan ikut kejuaraan seperti itu malah urusan administrasi. Saya sempat tertahan di kantor imigrasi lantaran tidak membeli tiket pulang. Dikira mau jadi pekerja,” tandasnya. (*/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana