Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Perjuangan Khoirul Rizky Memberdayakan Disablitas melalui Shining Tuli

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Senin, 24 Juli 2023 | 22:00 WIB
Khoirul Rizky, menunjukkan batik hasil karya Shining Tuli.
Khoirul Rizky, menunjukkan batik hasil karya Shining Tuli.
Jadikan Batik Sithu Identitas Karya Anak-Anak Tunarungu

Awalnya Shining Tuli dibentuk hanya untuk memperdalam bahasa isyarat. Agar memiliki manfaat ekonomi, mereka memutuskan untuk memproduksi batik dengan corak khas. Kini karya mereka sudah mulai dikenal, bahkan pernah dikenakan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono.

MOH. RIZAL

DENGAN tersenyum, Khoirul Rizky menunjukkan sebuah kemeja batik dengan warna dominan pink dan hitam. Tampak gambar sepasang telapak tangan yang diberi ornamen wajah orang tersenyum. Lalu, di bawah gambar itu terdapat tulisan Shining Tuli.

han kemeja itu merupakan kar ya anggota Komunitas Shining Tuli. Sebuah komunitas yang mewadahi aktivitas penyandang disabilitas tunarungu di Kota Batu. Gambar telapak tangan itu juga menyimpan makna khusus. Yakni, berbicara melalui bahasa isyarat. Kemeja itu hanyalah satu di antara banyak karya batik yang sudah dihasilkan anggota Shining Tuli, komunitas yang lahir sekitar tahun 2015 lalu.

Khoirul sebenarnya baru bergabung pada 2016. Namun kini sudah dipercaya sebagai ketua. Saat ini jumlah anggotanya 30 orang. ”Melalui komunitas ini, seluruh anggota bisa membagi pengalaman serta menambah aktivitas sosial,” ujarnya. Pria yang menikah pada 2021 menjelaskan, awalnya kegiatan Shining Tuli lebih banyak berkutat dengan belajar bahasa isyarat.

Belum ada nilai tambah yang bisa dimanfaatkan dari aktivitas tersebut. Hati Khoirul pun tergugah. Dia ingin teman-temannya bisa menghasilkan karya yang memiliki banyak manfaat. Karena sudah punya modal ilmu membatik, Khoirul menawarkan kepada rekan-rekannya untuk berbagi ilmu tentang kriya batik.

”Saya memang pernah belajar mem batik di Semarang. Kemampuan itu yang saya bagikan kepada teman-teman di komunitas,” imbuhnya. Tawaran tersebut langsung disetujui. Khoirul pun tak ingin teman-temannya hanya sekadar belajar. Dia justru ingin karya batik dari para penyandang disabilitas tunarungu di Kota Baru bisa dikenal.

Maka dicarilah nama atau brand yang merepresentasikan komunitas itu. Sampai akhirnya ketemu nama Batik Sithu. Sithu merupakan akronim dari Shining Tuli. Lelaki asal Kelurahan Songgokerto itu rela menjadikan rumahnya sebagai basecamp latihan dan produksi batik. Lokasinya di Jalan Teratai, RT 03/RW 05 Kelurahan Songgokerto, Kota Batu.

Proses belajar dengan intens mulai dilakukan pada 2017. ”Saat itu hanya saya yang bisa mencanting. Teman-teman kebagian ikut mewarnai. Kalau sekarang mereka sudah bisa mencanting,” imbuhnya. Awalnya Khoirul mengajarkan teknik batik yang paling mudah. Yakni cipratan dan jumputan.

Anggota komunitas juga mulai membiasakan diri menggambar berbagai objek di atas kertas. Selanjutnya, secara perlahan anggota komunitas diajari teknik canting. ”Kalau sudah biasa meng gambar di kertas, proses canting lebih mudah. Tinggal meng-copy dari kertas ke atas kain,” tutur pria kelahiran 1995 itu.

Kemampuan anggota komunitas dalam menyerap pelatihan yang diberikan Khoirul berbeda-beda. Ada yang hanya dalam tiga hari sudah bisa mencanting. Ada pula yang butuh waktu berbulan-bulan. Untuk saat ini, dari total 30 anggota komunitas, baru lima orang yang sudah mahir mencanting.

Salah satu pengalaman yang tak terlupakan bagi Khoirul adalah ketika Batik Sithu dipesan oleh Partai Demokrat Kota Batu. Awalnya mereka hanya pesan delapan lembar kain saja tanpa informasi tambahan. Di luar dugaan, batik itu dijadikan kemeja untuk dikenakan Agus Hari murti Yudhoyono (AHY). ”Dari situlah, pamor Batik Si thu mulai naik,” papar Khoirul.

Seiring berjalannya waktu, Batik Shitu mulai ikut beberapa pameran dan fashion show. Kalau ditotal, sampai sekarang mereka sudah pernah mengikuti 10 pameran dan peragaan busana. Salah satunya fashion show di Jalan Soekarno Hatta. Kala itu, para pengunjung takjub ketika diberi tahu bahwa batik bahan busana yang ditampilkan adalah karya anak-anak disabilitas tunarungu.

Khoirul dan rekan-rekannya juga aktif memasarkan Batik Sithu melalui berbagai platform. Salah satunya menggunakan akun Instagram @bathikshitu. Mereka juga menerima pesanan dari siapa pun. ”Kalau untuk produksi nya, kami mampu menghasilkan 10 lembar kain setiap hari. Tapi itu juga bergantung kerumitan desainnya,” terang Khoirul.

Rata-rata kain batik yang diproduksi memiliki ukuran 2x1 meter. Harganya bervariasi. Mulai dari Rp 120 ribu hingga Rp 500 ribu. Batik Sithu juga sudah memiliki tempat di beberapa lokasi. Seperti di Kecamatan Junrejo, Songgokerto, dan di Kota Malang.

Selain mengenalkan produk, tempat-tempat itu juga bisa dimanfaatkan oleh penyandang disabilitas tunarungu untuk belajar. ”Saya terus berharap agar teman-teman konsisten menggeluti batik. Lebih kompak dan solid,” tandas alumnus SLB Eka Mandiri itu. (*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#shining tuli Kota Batu #disabilitas