Yudistira Satya Wira Wicaksana• Kamis, 3 Agustus 2023 | 20:00 WIB
BRAND LOKAL: Galuh Tri P. memakai tas merek Reven Leather miliknya, kemarin (2/8)
Perjuangan Galuh Tri Pamungkas Memasarkan Brand Malang hingga Go International
Usianya masih muda, tapi Galuh Tri Pamungkas sudah menjadi pengusaha sukses. Pria 29 tahun itu membuat fashion berbahan kulit dengan brand lokal Malang. Kini pemasarannya tembus beberapa negara, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, hingga Tiongkok.
GALIH R. PRASETYO
PULUHAN pekerja di kantor Reven Leather, Jalan Pahlawan, Bululawang, Kabupaten Malang sibuk menjalankan tugas masing-masing. Ada yang packing produk, menerima telepon dari pemesan, memotret produk, meeting, dam mengutak-atik media sosial (medsos) sebagai bagian dari pemasaran.
Di antara mereka, tampak seorang pemuda mengarahkan pekerja. Dialah Galuh Tri Pamungkas, bos sekaligus pemilik Reven Leather. ”Kantor ini menjadi tempat tumbuh bersama,” ujar Galuh mengawali pembicaraan dengan Jawa Pos Radar Malang, kemarin.
Reven Leather adalah produk fashion berbahan dasar kulit. Produknya berupa jaket, tas ransel, dompet, hingga ikat pinggang. ”Di Rumah Reven Kreatif Industri ini kami saling support,” kata pengusaha 29 tahun itu. Hampir semua karyawannya adalah anak muda. Usia 17-24 tahun.
Dia sengaja memberi kesempatan anak muda untuk berkarya karena Galuh ingin anak-anak semakin kreatif. Dia mengawali bisnis fashion kulit sapi juga saat masih muda, yakni usia 20 tahun. Mulanya, ayah satu anak itu berjualan via online. Dia memotret barang-barang milik orang lain, kemudian dipasarkan lewat market place.
Produk yang dijualnya secara online merupakan produksi dari toko-toko kulit di area Bululawang. Kala itu, wilayah tersebut merupakan salah satu rujukan orang saat mencari produk fashion berbahan kulit di Bumi Arema. Setiap produk yang laku dibagi hasil dengan perajin. ”Waktu itu saya masih semester empat. Modal saya kamera handphone jadul dan kertas mika,” paparnya.
Agar tidak mengganggu kuliahnya, kala itu Galuh hanya berjualan setiap Sabtu dan Minggu saja. ”Hari-hari biasa saya fokus kuliah,” kata alumnus Fakultas Ilmu Olahraga Universitas Negeri Malang (UM) itu.
Galuh muda harus bekerja sembari menyelesaikan kuliah karena tidak mendapatkan kiriman financial dari orang tuanya. ”Saat itu ibu sakit setelah pulang dari luar negeri selama tiga bulan,” kenang anak pekerja migran itu.
Sementara ayahnya sering ganti pekerjaan lantaran bisnisnya bangkrut. Galuh merasa wajib mencari uang sendiri agar kuliahnya tidak telantar. Tentu saja, kuliah sambil bekerja bukanlah hal yang mudah. Apalagi beberapa kali dia mengalami cobaan. Misalnya ketika lapak-lapak online mulai laris, tiba-tiba produknya di take downe-commerce.
Selain itu, juga ada pembeli yang tidak membayar. Nilainya mencapai jutaan rupiah. Momen tersebut terjadi ketika dia melakukan jual beli secara offline. “Sempat kehilangan uang juga saat mau stok barang,” terangnya.
Meski hambatan bertubi-tubi, Galuh tidak menyerah. Pesan orang tuanya agar Galuh menjadi sarjana menjadi motivasi untuk bertahan. Kemudian pada 2017, permintaan fashion berbahan kulit mulai meningkat. ”Pernah, dalam satu hari ada 200 permintaan. Padahal estimasi kami, laku 200 produk dalam sepekan,” tambah alumnus SMKN 10 Malang itu.
Ketika bisnisnya mulai menguat, dia diuji dengan isu plagiasi. Produk orang lain yang dipasarkan Galuh dianggap menjiplak brand ternama. Harganya juga lebih miring. ”Akhirnya pada 2019 memberanikan diri membuat brand sendiri yakni Reven Leather,” ucapnya.
Dengan brand sendiri, bisnis Galuh terus tumbuh. Selain sudah mempunyai jaringan, produk yang dipasarkan juga bervariasi, sehingga bisa melayani banyak permintaan. Mulai jaket kulit, tas, sepatu, sampai ikat pinggang. Keluwesan dalam menghasilkan produk fashion tersebut membuat usaha Galuh stabil.
Belakangan, produknya tembus pasar internasional. Setiap bulan, dia bisa mengirim berbagi jenis produk fashion dari kulit ke berbagai negara di Asia Tenggara. Seperti Malaysia, Singapura, Thailand, hingga Brunei Darussalam. ”Alhamdulillah, saat ini produk kami terjual 5000-10.000 setiap bulannya,” terangnya.
Dalam menjalankan usaha, Galuh menggandeng perajin tas berbahan kulit di berbagai daerah di Jawa Timur. Seperti Mojokerto, Jombang, Tuban, dan beberapa kecamatan di Malang. Misalnya Sumberpucung dan Kepanjen. Saat ini Galuh dan Reven berencana invasi ke pasar yang lebih luas lagi.
Pada 26-30 Juli lalu, dia sempat menggelar pameran di luar negeri. Ada 19 brand lokal tanah air yang dilibatkan. Dalam mengikuti even tersebut, mereka mencatat penjualan yang lumayan untuk brand fashion lokal yang baru pertama ikut pameran se-Asia di Macau, Tiongkok.
Di mana produk yang dibawa Galuh laku 50 item. Saat di pameran Macau, produk Reven yang mendapatkan perhatian adalah tas kulit yang terlihat vintage. Nantinya, dia ikut pameran di Korea Selatan dan Singapura. ”Tujuan kami mengikuti kegiatan itu ya untuk melihat permintaan pasar luar negeri,” katanya.
Lantas, bagaimana Galuh dan Reven bisa mengikuti pameran di luar negeri? Awalnya dia mendapatkan informasi dari pengusaha interior di Kota Batu. Setelah itu, mendaftarkan diri pada event pameran ada di Macau. Setelah proses verifikasi berjalan satu bulan, Reven Leather menjadi salah satu wakil Indonesia.
Dalam perjalanannya, Galuh bersama Reven Leather tidak hanya berjualan. Lebih jauh juga melakukan aktivitas sosial. Seperti berbagi sepatu gratis kepada orang-orang di Malang sampai tenaga pendidik di sekolah-sekolah. (gp/dan)