Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Tantangan yang Dialami Siti Nurjanah saat Menjadi Pembina Pramuka di Lapas

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Jumat, 18 Agustus 2023 | 22:00 WIB

Siti Nurjanah (tengah) bersama binaannya, anak-anak SKB Kota Malang
Siti Nurjanah (tengah) bersama binaannya, anak-anak SKB Kota Malang

Siti Nurjanah SPd merasakan pengalaman yang tak biasa selama menjadi pembina Pramuka di lembaga pemasyarakatan (Lapas). Misalnya, memandikan anak didiknya pakai air kembang.

FAJAR ANDRE SETIAWAN

SENYUM Siti Nurjanah SPd terus mengembang. Tutur katanya ramah. Nyaris tidak pernah menggunakan kata-kata kasar selama mengajari Pramuka untuk narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas II A Malang (Sukun). Maklum, yang dihadapi adalah orang-orang yang punya masalah dengan hukum. Mulai peredaran narkoba hingga kejahatan lain.

Dia juga membina anak-anak putus sekolah dari keluarga broken home di Sekolah Kegiatan
Belajar (SKB). ”Tentu, metode pengajaran Pramuka yang diterapkan jauh berbeda (dengan siswa pada umumnya). Juga berbeda antara keduanya (SKB dan napi),” ujar perempuan yang akrab disapa Nunung itu.

Nunung dipercaya menjadi pembina di Lapas karena dinilai sudah mumpuni. Kiprahnya di bidang Pramuka juga tidak perlu diragukan lagi. Aktif menekuni Pramuka sejak SMA, perempuan 45 tahun itu sudah mengikuti Jambore internasional dan tiga kali Jambore nasional. “Saya menekuni Pramuka sejak siaga atau usia SD,” katanya.

Sebelum mulai membina napi dan anak broken home untuk Pramuka, setahun sebelumnya dia sudah melakukan observasi. Mulai mempelajari karakter para napi, hingga menelusuri kebutuhan mereka. Hasil observasi itu kemudian menjadi referensi Nunung dalam memilih metode pembinaan. ”WBP kriminal lain lebih tanggap menangkap materi dibanding WBP kasus narkoba,” terangnya.

Bagi Nunung, esensi Pramuka adalah pembinaan etika dan karakter. Dia sadar, esensi tersebut sulit diterapkan untuk siswa SKB maupun napi di Lapas. ”Berbeda dengan di sekolah formal yang sudah tertata dengan kurikulum dan capaian jelas,” terangnya.

Meski begitu, dia tidak menyerah. Justru merasa tertantang untuk membuktikan kemampuannya. Dia yakin, napi maupun anak broken home taat aturan jika metode-nya tepat. Dalam proses pembinaan, Nunung pernah memandikan napi dengan air kembang. Hal itu sebagai simbol pembersihan diri dan batin. “Saya selalu mengolaborasikan antara pembersihan diri dan batin,” ucapnya.

Ketika di SKB, Nunung menghadapi tantangan lain. Siswa yang dididik berasal dari beragam usia dan latar belakang. Background keluarga yang disharmoni juga membuat mereka terlibat dalam beragam permasalahan. Mulai pergaulan bebas, merokok, hingga mengonsumsi minuman keras (miras).

Kini, kehadiran mereka merupakan kado indah bagi Nunung. Meski ada yang datang dengan sandal jepit atau pakaian tak rapi saat mengikuti kegiatan Pramuka. “Melihat mereka pakai hasduk saja saya sudah senang,” cerita Nunung.

Dia menyadari, ketertiban dan kedisiplinan masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan. Tentu saja dengan caranya yang adaptif. Menampung kebutuhan mereka, tapi tetap terarah dan sesuai. Berkat komunikasi yang baik selama proses pengajaran Pramuka, hingga sekarang banyak alumni SKB yang masih menjalin hubungan baik.

Beberapa mantan WBP yang sudah menjalani masa hukuman pun tak sedikit yang menyambangi Nunung. Melalui pembinaan Pramuka, Nunung merasa napi dan siswa WBP menjadi bagian dari keluarganya. Nunung juga mudah diterima masyarakat karena mampu membaur dan adaptif. Tentu hal itu tidak lepas dari pengalamannya menjadi pembina Pramuka di Lapas dan SKB.(*/dan)

 

 

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#lapas malang #Pramuka