Perjuangan Atlet Tenis Meja asal Turen yang Raih Dua Medali di Jerman
Yudistira Satya Wira Wicaksana• Selasa, 22 Agustus 2023 | 23:00 WIB
M. Zidan Fatoni meraih dua medali dalam kejuaraan Special Olympic World Summer Games di Berlin, Jerman.
Semasa Kecil Jadi Korban Bully, Remaja Ukir Prestasi
Terlahir dengan keterbatasan tak membatasi semangat M. Zidan Fatoni untuk mengukir prestasi. Atlet tenis meja asal Turen, Kabupaten Malang itu mengharumkan nama Indonesia di mancanegara. Itu setelah dia meraih dua medali dalam kejuaraan Special Olympic World Summer Games di Berlin, Jerman.
GALIH R. PRASETYO
GERAKAN tangan Zidan begitu luwes saat bermain tenis meja. Bola yang dia smash melesat ke arah lawan, sehingga atlet berusia 18 tahun itu memenangkan pertandingan.
Kepiawaian atlet asal Turen, Kabupaten Malang dalam bermain tenis meja itu terlihat melalui video yang dia kirim ke Jawa Pos Radar Malang, kemarin (21/8). Dalam video berdurasi 1 menit tersebut, Zidan tampak sigap.
Tak ada tanda-tanda nervous di wajahnya, meski keikutsertaannya dalam kejuaraan internasional tersebut baru pertama kali. Kepercayaan tinggi tersebut akhirnya berbuah 2 medali di ajang Special Olympics World Games (SOWG) 2023 Berlin, Jerman pada 24 Juni lalu.
SOWG adalah pertandingan musim panas kelas dunia yang diikuti atlet penyandang disabilitas dari berbagai negara. Tahun ini tercatat 7.000 atlet yang berpartisipasi. Mereka berasal dari 190 negara. Lalu ada 26 cabang olahraga yang dipertandingkan.
Zidan meraih penghargaan di dua kategori. Yakni medali perak untuk pertandingan di nomor perorangan dan terbaik kedua untuk nomor ganda campuran. Prestasinya yang menyumbangkan dua medali untuk Indonesia itu menarik perhatian publik. Sebab, Zidan merupakan salah satu kontestan termuda. Di ajang tersebut, ribuan atlet lain rata-rata berusia 21 tahun.
Prestasi tersebut diraih tidak dengan mudah. Ada proses yang panjang. Harus melalui jalan terjal dan berliku. Salah satu tantangannya, dia harus melakukan penyesuaian dengan cuaca, menghilangkan nervous, sampai menghadapi atlet-atlet dari berbagai penjuru dunia. Total ada 11 pertandingan yang dia hadapi sebelum mempersembahkan medali perak untuk Indonesia.
Di antaranya melawan atlet asal Italia, Prancis, Ghana, Tiongkok, Thailand, Jerman, dan India. ”Pada partai final lawannya Hongkong,” kata pria asli Malang tersebut.
Dalam laga final melawan Liang Siu Hung asal Hongkong, Zidan kalah dengan skor 0:3. ”Dalam lima babak pertandingan, Liang Siu Hung menang di tiga laga awal,” cerita Zidan.
Sebelum berangkat ke Jerman, persiapan Zidan tergolong minim. Dia hanya punya waktu satu bulan untuk menempa diri di Semarang. Selama waktu itu, hampir setiap hari dia berlatih. Sedangkan untuk mengusir nervous, Zidan selalu membaca surat al-Fatihah. Dia merasa perasaannya tenang setelah membaca surah pertama dalam Al Qur'an tersebut.
Selain itu, dia juga membatasi aktivitas di luar ruangan. Juga meminimalkan bermain media sosial (medsos). ”Hanya tiga sampai 4 jam saja boleh pegang handphone. Tujuan supaya fokus,” katanya. ”Cara itu membuat saya lebih mudah menerapkan strategi yang telah disiapkan,” tambah anak pertama dari tiga bersaudara itu.
Dengan cara tersebut, dia tidak mengalami kesusahan menghadapi situasi lapangan yang dinamis. Misalnya saat melawan atlet asal India di semifinal, dia fokus dan berhasil memenangkan pertandingan, meski skor tipis yakni 11-9.
Selain faktor kerja keras dalam menempa diri, keberhasilannya meraih juara internasional juga tidak lepas dari faktor keberuntungan. Keberuntungan yang dirasakan adalah mendapatkan tiket Special Olympics World Games 2023 setelah rekannya berhalangan berangkat ke Jerman. Alhasil dia ditunjuk sebagai pengganti. ”Saat itu rekan saya diproyeksikan di Asian Para Games 2023,” beber Zidan.
Dia sempat terkejut. Sebab Zidan belum genap setahun tergabung bersama para atlet Pelatih Nasional (Pelatnas). ”Akhir 2022 lalu saya dipanggil, setelah menjadi runner-up di Kejuaraan Nasional Pekan Special Olympic Nasional (Pesonas) 2022 di Semarang,” ungkapnya.
Kala itu, dia sempat terkejut dan ingin menolak. Tapi dia sadar bahwa kesempatan tidak akan datang dua kali, sehingga bersedia berangkat ke Jerman. ”Saya juga berpikir, kalau bisa mengukir prestasi kan bagus. Bisa mengharumkan nama Indonesia di mancanegara,” terang Zidan.
Zidan merintis jalan sebagai atlet tenis meja sejak SD. Mulanya, alumnus SDN 1 Jeru itu sempat dipandang sebelah mata. Banyak yang menyangsikan kemampuannya di bidang tenis meja. Tapi dia yakin bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil. Karena itu dia terpacu untuk semakin mengasah kemampuannya. ”Dorongan kuat yang membuat saya semangat adalah pembuktian,” terangnya.
Dia ingin membuktikan bahwa Zidan kecil yang kerap di-bully adalah orang spesial. Zidan tidak ingin tenggelam dalam bully-an teman-temannya. Bagi dia, pembalasan terbaik adalah dengan mengukir prestasi.
”Alhamdulillah sekarang teman-teman seperti itu (tukang bully, Red) tidak bersuara lagi setelah tahu bahwa saya berprestasi,” terang pria yang menderita disabilitas intelektual sejak kecil itu.(*/dan)