Muhammad Ma’ruf, Cosplayer asal Gondanglegi yang Karyanya Diminati Rakyat hingga Pejabat
Yudistira Satya Wira Wicaksana• Rabu, 23 Agustus 2023 | 20:00 WIB
Muhammad Ma’ruf (tengah) menunjukkan karya kostum cosplayer buatannya.
Dua Kali Jadi Bintang Tamu di Televisi Nasional
Muhammad Ma’ruf dan kakaknya, Muhammad Ghofur beberapa kali masuk televisi nasional. Itu karena mereka sukses menjalankan bisnis penyewaan cosplay untuk karnaval.
DANANG PRIAMBODO
RUANGAN berukuran 4x6 meter itu dipenuhi cosplay. Ada yang menyerupai singa, babi, harimau, dan beberapa jenis hewan lain. Di ujung ruangan tersebut, seorang pemuda memperbaiki topeng. Dialah Muhammad Ma’ruf, cosplayer sekaligus pemilik penyewaan cosplay.
Moment perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-78 kemerdekaan RI pada pertengahan Agustus lalu, dia kebanjiran order. Kostum bikinannya banyak disewa masyarakat untuk karnaval. Beberapa pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang juga tidak sedikit yang menggunakan karya dia.
Di ajang Malang Flower Carnival (MFC), cosplay karyanya meraih juara harapan 1, 2, dan 3. Berkat kostum bikinannya, dia dan sang kakak, Muhammad Ghofur menjadi bintang tamu dalam acara di televisi (TV) nasional, bahkan sudah dua kali.
Dalam menjalankan bisnis persewaan, dia tidak sendiri. Pemuda 26 tahun itu dibantu oleh kakak kandungnya, Ghofur. ”Awalnya, saya ikut partisipasi dalam acara Pesona Gondanglegi,” ujar Ma’ruf sembari membetulkan beberapa kostum.
2017 lalu, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang menggelar karnaval Agustusan. Namanya Pesona Gondanglegi. Semua kampung di wilayah Gondanglegi diminta berpartisipasi untuk merayakan karnaval.
Ma’ruf bersama warga di kampungnya membuat kostum untuk karnaval. Bentuknya sangat sederhana. Belum serumit dan sebagus kostum bikinannya saat ini. Misalnya kala itu membuat koteka, panah, dan aksesori lain untuk baju adat Papua.
Total ada 20 unit yang dia bikin bersama warga sekitar. ”Daripada dibuang, selesai acara ya baju itu saya bawa pulang,” kata Ma’ruf yang kala itu rumahnya masih menyatu dengan bengkel modifikasi sepeda motor.
Sembari menjalani kesibukannya sebagai koreografer di sanggar tari, dia merawat kostum tersebut. ”Tahun depannya, tepatnya pada 2018 lalu, saya diminta menyiapkan kostum 70 biji untuk karnaval,” kata dia.
Mulanya Ma’ruf bingung. Dia senang mendapat order, namun merasa kesulitan untuk memenuhi permintaan tersebut. Maklum, dia belum punya pengalaman membuat kostum karnaval hingga puluhan. Sebanyak 20 busana adat yang dia simpan pun bukan karya Ma’ruf seorang diri, melainkan bersama warga sekitar.
Selain itu, dia juga kesulitan modal untuk mempersiapkan bahan-bahan. ”Sempat ingin menolak tawaran, tapi kemudian dibantu kakak,” kata Ma’ruf.
Tentu dia percaya dengan kemampuan kakaknya yang seniman. Kolaborasi kakak-adik ini akhirnya sukses. Ma’ruf bertugas menangani market, mencari orderan dan mengatur keuangan. Sedangkan kakaknya bertugas membuat kostum. ”Sejak saat itu, base camp motor milik kami berubah menjadi tempat kostum karnaval,” tutur pemuda yang kini mempunyai belasan karyawan tersebut.
Setiap tahun mereka membuat kostum dengan tema-tema yang mengundang perhatian publik. Setelah sukses pada 2018 dan 2019, mereka lantas membuat kostum dengan tema Samurai dan Kerajaan. Kostum hasil kreasinya pun mulai rumit dan besar, sehingga menarik perhatian masyarakat.
Awal 2020 lalu, usaha dan kreativitas mereka sempat mandek akibat pandemi Covid-19. ”Dua tahun tidak ada yang menyewa kostum. Baru pada 2022 kembali pulih, kami gebrak dengan kostum baru tema Narnia,” kata anak ke dua dari empat saudara itu.
Pada tahun itu lah mereka diundang beberapa televisi nasional. ”Saat itu Ghofur yang dapat telepon dari manajemen Lapor Pak di trans,” kata dia. Mereka lantas berangkat ke Jakarta sambil membawa dua cosplay kebanggaannya, yakni singa dan babi. ”Kami bangga karena bisa diberi kesempatan untuk memperkenalkan karya kami,” kenang Ma’ruf.
Dalam acara Lapor Pak, kakak beradik Ghofur dan Ma’ruf memakai kostum Singa dan Babi. Keduanya berperan sebagai pengawal tuan putri yang diperankan oleh penyanyi Ayu Ting-Ting. Mereka juga bertemu Andre Taulani, Andika Pratama, Surya Insomnia, Wendi Cagur, dan Raisya Bawazier.
Kini, Ma’ruf dan Ghofur mempunyai sekitar 500 cosplay. Ratusan karya itu sudah disewa pelanggannya dari berbagai daerah di Indonesia. ”Kalau pas Agustus seperti ini, kami bisa melayani penyewaan 70 pelanggan dalam sebulan,” tuturnya.
Untuk tarif sewa terbilang murah. Satu set kostum dibanderol mulai Rp 50 ribu hingga Rp 1 juta. Penentuan harga berdasarkan tingkat kerumitannya saat membuat. ”Ada juga yang membeli. Harganya mulai Rp 1 juta sampai Rp 10 juta per kostum,” ucapnya.(*/dan)