Kisah M. Imron, Satu-satunya Pelukis asal Malang yang Tergabung dalam International Zervas Art
Yudistira Satya Wira Wicaksana• Kamis, 24 Agustus 2023 | 23:00 WIB
GO INTERNATIONAL: Muhammad Imron menunjukkan beberapa lukisan di rumahnya, Jalan Kolonel Sugiono VB, Mergosono, Kota Malang.Satu Lukisan Ditawar Orang Polandia
Muhammad Imron menjadi satu-satunya pelukis asal Malang yang tergabung dalam International Zervas Art. Itu merupakan forum pelukis internasional dari 140 negara.
NABILA AMELIA
TIGA lukisan besar menyambut ketika Jawa Pos Radar Malang memasuki rumah Muhammad Imron di Jalan Kolonel Sugiono VB, Mergosono, kemarin. Sekilas, lukisan berukuran sekitar 120 sentimeter persegi itu bermotif burung merak. Tapi jika diamati, lukisan tersebut menggambarkan pikiran manusia.
Imron lantas mengajak koran ini melihat studio lukis di lantai dua rumahnya. Di sana juga terdapat lukisan-lukisan lain yang secara sekilas menyerupai cat-cat yang ditimpakan secara ekspresif ke dalam kanvas.
”Rata-rata lukisan saya menggambarkan hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam semesta,” kata Imron sembari menunjukkan beberapa karyanya.
Lukisan tersebut tidak lepas dari pengalaman hidup Imron. Sebelum menjadi pelukis, seniman berusia 53 tahun itu bekerja sebagai Human Resources Services (HRS) di sebuah perusahaan di Surabaya. Hampir sama dengan HRD, yakni berhubungan sumber daya manusia (SDM). ”Namun lebih kompleks karena mencakup infrastruktur dan standardisasi lain pada perusahaan,” ujar pria kelahiran 19 Juli 1970 itu.
Dia bekerja sebagai HRS selama 11 tahun. Pada tahun keenam bekerja, dia merasakan pergolakan dalam hatinya. Timbul pergolakan batin bahwa dirinya sebenarnya adalah seorang kreator. Tepatnya pada 2010 silam.
Imron kemudian iseng membeli dua kanvas berukuran 80 sentimeter x 120 sentimeter. Dia lantas melukis pada kanvas tersebut dengan warna-warna dasar secara tak beraturan. Setelah diamati, hasil coretan iseng itu justru membentuk gambar. Seperti beberapa wajah orang dan lafadz Al-Qur'an. Dari sana, dia semakin tertarik di bidang melukis.
Meski sudah mapan di pekerjaannya, Imron memutuskan untuk melepas jabatannya dan beralih menjadi pelukis. Keputusannya tersebut dicemooh banyak teman kantornya. ”Ada yang menganggap saya gila, karena melepas kemapanan demi menjadi pelukis,” kenangnya.
Imron mulai aktif melukis hingga menghasilkan lebih dari 50 lukisan. Dia juga sudah tiga kali menggelar pameran tunggal. Pameran pertama digelar di gedung Dewan Kesenian Malang (DKM). Lalu di Bali dan satu lagi pameran online di simposium lukisan Internasional Zervas Art.
Zervas Art adalah organisasi seni terbesar di dunia. Di dalamnya tergabung seniman dari 140 negara dengan 80.000 anggota. Namun, di Malang baru Imron yang bergabung. "Perkenalan saya dengan Zervas Art terjadi secara tidak sengaja," kata dia.
Ini setelah seorang kurator dari Zervas Art menemukan lukisannya di Facebook. Semula, dia tak menanggapi sang kurator karena mengira penipu. Namun kurator tersebut berhasil meyakinkan Imron.
Setelah berkenalan dengan Zervas Art, puluhan karya Imron dipajang di situs pameran lukisan Internasional tersebut. Setelah dikenal para seniman internasional, lukisan Imron sempat ditawar 10 euro (Rp 165 juta) oleh orang Polandia. Namun Imron menolaknya.
Melalui Zervas Art, Imron juga mudah mempromosikan lukisan dan menjualnya. Nilai jualnya bisa mencapai Rp 400 juta untuk satu lukisan. (mel/dan)