Tiap Hari Luangkan Waktu Empat Jam untuk Latihan
Usianya baru 16 tahun, tapi Rifqi sudah meraih juara POBSI Cup Pelajar dan Mahasiswa 2023 pada 15 Agustus lalu. Itu tidak lepas dari kerja kerasnya menjalani latihan.
GALIH R. PRASETYO
PANDANGAN mata Rifqi Mubarok tertuju ke arah bola di meja biliar. Setelah berancang-ancang, atlet 16 tahun itu langsung membidik. Tepat sasaran. Dari sembilan bola di meja biliar, dua di antaranya langsung masuk lubang.
Setelah pukulan pertama berhasil, dia melanjutkan memasukkan bola-bola lainnya. Mulai nomor 2, 3, 4, 5, 6, 8, sampai akhirnya 9. Dia hanya butuh waktu dua menit untuk sapu bersih semua bola.
Begitulah gambaran aksi Rifqi saat babak final Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (POBSI) Cup tingkat Pelajar dan Mahasiswa, 15 Agustus lalu. Siswa SMKN 2 Malang itu lantas dinobatkan menjadi juara dan membawa pulang medali emas. ”Saat awal pertandingan, saya sempat nervous. Tapi perlahan-lahan saya bisa mengendalikan diri,” ujar Rifqi ditemui di rumahnya, Jalan Mawar, Kota Malang.
Tak semua atlet biliar mempunyai pukulan presisi seperti Rifqi. Itu karena anak pertama dari dua bersaudara tersebut fokus dan konsentrasi. Selama tampil di kejuaraan tersebut, ada kebiasaan yang dia lakukan untuk memperkuat mentalnya. Yakni bersalawat mulai awal sampai akhir pertandingan.
”Tidak tahu sudah berapa kali salawat saya baca dalam hati. Alhamdulillah bisa membantu lebih fokus dan konsentrasi," kenang alumnus SMP Gaya Baru, Sumberejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang itu.
Dia tahu, dua aspek tersebut sangat diperlukan dalam olahraga biliar. Jika ingin menang, seorang atlet harus berpikir cepat, menerapkan strategi yang tepat, dan pintar membaca situasi di lapangan. ”Juga jangan membuat kesalahan. Karena bola bisa langsung dihabiskan lawan,” paparnya.
”Jika tidak yakin bisa memasukkan bola, ya harus bisa membuat kuncian,” tambahnya. Dengan kata lain, jika tidak bisa memasukkan bola, maka lawan juga jangan sampai berhasil memasukkan. Itu strategi umum yang dipahami semua peserta pertandingan.
Prestasi Rifqi meraih juara nasional biliar diraih melalui perjalanan berliku dan menantang. Sejak Januari lalu, dia giat berlatih. Hampir setiap hari. Setiap latihan, Rifqi meluangkan waktu minimal empat jam.
Selama persiapan, tidak peduli panas atau hujan dia wajib latihan. Situasi tersebut membuat hari-hari Rifqi berbeda dengan teman-teman seusianya. Belum lagi pola makan yang diatur. Tidak boleh sembarangan.
Meski begitu, Rifqi tidak mengeluh. Atlet kelahiran 14 September 2007 merasa wajib berjuang lantaran jalan menjadi atlet biliar sudah dirintis sejak duduk di bangku SD. Kala itu usianya masih 10 tahun.
Ketertarikannya bermain biliar lantaran sering melihat pamannya bermain bola sodok. "Saking ingin bisa biliar, saya sampai pakai kursi tambahan untuk memainkannya," kenangnya.
Berawal dari iseng-iseng itulah, lambat laut Rifqi perlahan-lahan mulai bisa memainkan olahraga tersebut. Lewat kemampuan itulah Rifqi dipandang orang tuanya mempunyai bakat. Saat masuk kelas 6 SD dia diikutkan kursus biliar.
Untuk kursus tersebut dia harus menempuh jarak pulang pergi sepanjang 24 kilometer. Itu karena tempatnya berlatih ada wilayah Gondanglegi. ”Setiap hari bapak mengantarkan naik motor. Sepulang sekolah langsung latihan," katanya.
Dalam waktu meniti karier sebagai atlet, Rifqi kecil belajar banyak hal. Salah satunya tentang perjuangan. Di mana itu didapatkan lantaran perjalanan ke tempat latihan tidak selalu mulus. Terkadang ban bocor. Lalu menuntun beberapa kilometer. Kini setelah meraih juara nasional, dia merasakan buah dari perjuangannya.(*/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana