Sempat Diisukan Dilarang Bertanding karena Selalu Menang
Untuk ke empat kalinya, tim Reog Brawijaya meraih juara Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP). Yakni juara tahun 2017, 2018, 2019, dan 2023. Mereka selalu mendominasi, sehingga sempat diisukan dilarang bertanding.
ANDIKA SATRIA PERDANA
ARAH jarum jam menunjukkan pukul 10.00. Para mahasiswi keluar masuk gedung silih berganti. Di sela perkuliahan yang padat, salah satu dosen Fakultas Teknik (FT) Universitas Brawijaya (UB) membagikan kisah keberhasilan tim Reog Brawijaya yang meraih juara Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) 2023, Juli lalu. Dosen itu adalah Denny Widhiyanuriyawan, pembina sekaligus pendiri tim Reog Brawijaya.
Kebanggaan Denny terhadap prestasi tim reog Brawijaya sangat wajar. Maklum, bukan hanya sekali tim besutannya itu meraih juara. Tapi sudah empat kali. Yakni festival 2017, 2018, dan 2019. FNRP 2020 tidak ikut, kemudian 2021 dan 2022 tidak ada pergelaran karena pandemi. Setelah itu digelar pada 2023 dan tim reog Brawijaya meraih juara lagi.
Padahal, Reog Brawijaya baru berdiri pada 2011 silam, di bawah naungan unit aktivitas karawitan dan tari (Unitantri) UB. Dua tahun setelah dibentuk, tim tersebut baru mengikuti FNRP. Mulai berpartisipasi pada 2013, ada fase naik turun yang dijalani Reog Brawijaya.
”Tahun 2013 kami peringkat ke tujuh. Kemudian 2014 tidak mendapatkan peringkat. Baru pada 2015 dan 2016 ada peningkatan. Kami meraih peringkat ke dua,” tuturnya.
Keberhasilan diraih setelah tim melakukan evaluasi. Pada empat kali laga perdana yang tak meraih peringkat, tim yang dipimpin Denny itu melakukan evaluasi. Mereka mencoba menemukan ciri khas dalam berbagai aspek. Seperti tari, gamelan, dan tata panggung.
”Awalnya kami masih mencari bentuk karakter tari. Ada variasi, tapi tidak boleh keluar dari pakem Ponorogo. Gamelan juga seperti itu. Ada berbagai macam bunyian gamelan dari Sunda, Bali, dan Banyuwangi. Kami mencoba menggabungkan tapi porsinya sedikit, lebih banyak khas Ponorogo,” jelasnya.
Aspek tata panggung juga menjadi perhatian, bahkan sejak persiapan. Luas tempat latihan disamakan dengan luas asli panggung lomba. Ini dilakukan agar penari terbiasa menguasai panggung.
Hasilnya, meski panggung FBRP 2023 dengan luas 40 meter x 20 meter itu terbilang besar, namun semua sisi panggung tidak ada kekosongan, karena terisi oleh penari. ”Selain memperhatikan penampilan di atas panggung, sisi manajerial kami juga lakukan perubahan sejak 2017 lalu,” katanya.
Dengan berbagai perbaikan, akhirnya prestasi bisa terwujud. Dalam FNRP 2023 yang digelar 14-17 Juli lalu, Tim Reog Brawijaya berhasil menyapu bersih semua kategori. Mulai kategori penampil terbaik, penata tari terbaik, dan penata iringan musik terbaik. ”Tantangan terberat kami adalah, harus inovasi karena persaingan tiap tahun terus meningkat,” terang Denny.
”Kami juga harus mengombinasikan antara lakon seperti penari jathil, warok, dadak merak, warok tua, bujang ganong dan Klono Sewandono untuk menampilkan visualisasi terbaik,” tambahnya.
Untuk tampil pada ajang tersebut, Reog Brawijaya melakukan persiapan sejak Januari lalu. Tahap pertama, melakukan diskusi untuk menentukan tema tari maupun gamelan. Kemudian persiapan dilanjutkan dengan pembuatan koreografi.
"Dalam persiapan, kendalanya lebih pada mengatur jadwal penari. Karena mereka ada sibuk kuliah. Jadi pertama itu dipisah-pisah. Jathil (penari kuda) latihan sendiri. Kemudian barong (penari singo barong) sendiri. Mereka baru akan disatukan seminggu sebelum lomba, ada dispensasi," jelasnya.
Ada sisi lain dengan keberhasilan empat kali meraih juara secara berturut-turut. Beberapa pihak menganggap Reog Brawijaya terlalu dominan. Karena terlalu mendominasi, sempat ada isu bahwa tim tersebut dilarang tampil di FNRP. Hal itu dikuatkan karena pada 2022 lalu Reog Brawijaya absen di FNRP.
"Kalau isu di-banned (dilarang) itu tidak benar. Pada 2022 lalu kami tidak ikut karena persiapannya terlalu mepet. Itu karena setelah pandemi dan 2020 sampai 2021 festival tidak digelar,” katanya. Tapi memang ada selentingan, Reog Brawijaya kalau ada festival lagi jangan diundang, karena pasti juara," tambah pria asli Ponorogo itu disertai candaan. (*/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana