Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kisah Josephine Grace Rondonuwu yang Meraih Juara Catur Internasional

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Jumat, 15 September 2023 | 23:00 WIB
Josephine Grace Rondonuwu difoto sebelum bertanding catur
Josephine Grace Rondonuwu difoto sebelum bertanding catur
Tanding sejak Usia 4 Tahun, Suka Pilih Lawan Senior

Josephine Grace Rondonuwu merupakan pecatur asal Kota Malang yang dua kali juara internasional. Dua-duanya diraih saat turnamen di negeri jiran, Malaysia.

GALIH R. PRASETYO

USIANYA baru 10 tahun, tapi sudah cakap dalam berkomunikasi.

Tutur katanya juga runtut, tidak seperti bocah SD pada umumnya.

Dialah Josephine Grace Rondonuwu, siswa SDK Mardiwiyata 1 Malang yang baru saja dinobatkan menjadi juara catur internasional.

Dalam kejuaraan catur Piala Kemerdekaan di Malaysia akhir Agustus lalu, Josephine mewakili Indonesia.

Di ajang turnamen yang diikuti pecatur dari berbagai negara, bocah yang akrab disapa Opin mendulang medali perunggu.

Bukan kali ini saja Opin meraih juara skala internasional.

Sebelumnya, dia juga mendapatkan medali perunggu dalam kejuaraan Open Catur Junior di Malaysia.

”Saya berusaha tampil lepas saat kejuaraan di Malaysia. Juga terus berdoa agar menang,” ujar Opin saat ditemui di rumahnya, kawasan Bandulan, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Rabu lalu (14/9)

Sebelumnya, atlet Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Kota Malang itu sudah pernah mengikuti kejuaraan internasional.

Yakni kejuaraan catur di Thailand pada 2023 dan Bali, Indonesia pada 2022 lalu.

Tapi dia dua kali gagal membawa pulang medali.

Kegagalan itulah yang sempat membayang Opin kala bertanding di Malaysia.

Dia tidak ingin mengulang kegagalan hingga ketiga kalinya, sehingga mengasah kemampuannya.

Selain itu, dia juga menghilangkan perasaan nervous agar konsentrasinya tidak terganggu.

”Tapi saya yakin, apabila terus percaya dan mengandalkan Tuhan, maka akan diberi pertolongan atau kesempatan untuk berprestasi,” katanya.

Banyak halangan yang dilaluinya, sebelum akhirnya menjadi juara tiga.

”Setelah gagal mengukir prestasi saat kejuaraan di Bali itu, sebetulnya saya hampir menyerah,” ungkapnya.

Kala itu, Opin putus asa.

Maklum, dia kali mengikuti kejuaraan internasional, selalu menuai kegagalan.

Ketika mengikuti kejuaraan di Bali tahun lalu, posisi Opin melesat jauh.

Dia tidak masuk kategori juara, baik satu, dua maupun tiga.

Padahal sebelum tampil di kejuaraan internasional, dia harus berjuang mati-matian dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, lalu menjadi juara nasional.

Si bungsu dari tiga bersaudara tersebut bangkit karena support kedua orang tuanya.

"Jangan menyerah. Hasil yang kurang bagus itu karena kurang berlatih. Ingat, Tuhan pasti akan memberkati segala usaha hambanya,” kata Opin menirukan nasihat kedua orang tuanya kala itu.

Setelah itu, Opin terus berlatih permainan catur untuk meningkatkan performa.

Misalnya bertanding secara online melawan pecatur yang dengan level lebih tinggi.

Tentu lawan yang dipilih juga lebih piawai darinya.

Itu dilakukan untuk mengasah kemampuan dalam menghadapi situasi sulit.

Selain itu, dia juga terus mengembangkan strategi.

Juga mengantisipasi analisis lawan melalui berganti-ganti teknik mengawali permainan atau pembukaan catur.

"Apabila tidak ditingkatkan permainan kita, pasti gampang diketahui oleh lawan," paparnya.

Selama menjalani aktivitas itu, dia juga mengingat lagi cita-citanya mau menggeluti olahraga catur.

Itu digunakan sebagai salah satu alat untuk memotivasi dirinya.

”Kalau mengingat target saya dulu yang ingin mengangkat derajat orang tua, saya semakin bersemangat,” terang dia.

Josephine Grace Rondonuwu (tiga dari kanan) menunjukkan medali dan sertifikat juaranya di kompetisi catur Malaysia
Josephine Grace Rondonuwu (tiga dari kanan) menunjukkan medali dan sertifikat juaranya di kompetisi catur Malaysia

Cita-cita itu muncul ketika perekonomian orang tuanya terjatuh.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ayahnya banting tulang.

"Saya terinspirasi kakak yang mendapatkan hadiah dari permainan catur. Itu digunakan untuk membantu orang tua," paparnya.

Sebagai anak terakhir, dia juga ingin berbakti kepada kedua orang tuanya.

Itulah yang mendasari keinginannya terjun ke dunia catur.

Opin mulai terjun ke dunia catur saat usianya baru 4 tahun.

Kala itu, Opin kecil sering menyaksikan kakaknya bermain catur, sehingga muncul ketertarikan untuk mengikutinya.

”Akhirnya saya masuk sekolah catur," paparnya.

Ilmu yang diperoleh dari sekolah catur itu kerap dipraktikkan bersama pecatur lain yang satu klub.

Dia memilih lawan yang lebih senior dan mumpuni.

Tentu dia juga bisa bermain dengan pecatur lain yang seusianya.

”Kebetulan di klub catur juga sempat juara. Jadi ya senang-senang saja,” terangnya. (*/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#josephine grace rondonuwu #Catur