Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Perjuangan Atlet Panahan Disabilitas asal Gondanglegi Malang yang Kerap Menyandang Juara Nasional

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Jumat, 22 September 2023 | 23:00 WIB

 

Bintang Riviasasti Yudhistira membidik sasaran saat latihan di Ngebruk, Sumberpucung, Kabupaten Malang.
Bintang Riviasasti Yudhistira membidik sasaran saat latihan di Ngebruk, Sumberpucung, Kabupaten Malang.
Tak Pernah Mendengar Aba-Aba Wasit, Andalkan Kode Ayah

Terlahir dengan dua organ yang tidak berfungsi, Bintang Riviasasti Yudhistira berhasil mengukir prestasi. Atlet panahan asal Gondanglegi, Kabupaten Malang itu dinobatkan sebagai juara nasional hingga internasional.

DANANG PRIAMBODO

TANGAN kiri Bintang memegang busur, sementara pandangan mata fokus ke arah target.

Beberapa detik kemudian, anak panah melesat tepat sasaran.

Gadis berusia 21 tahun itu memang istimewa.

Dia merupakan atlet panahan dengan disabilitas rungu wicara.

Meski fisiknya mengalami keterbatasan, perempuan asal Desa Segaran, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang itu berhasil mengukir prestasi.

Bidikannya nyaris selalu presisi.

Pantas saja dia kerap menjuarai berbagai kompetisi, baik tingkat daerah maupun internasional.

Pada 2017 misalnya, dalam setahun dia meraih juara tingkat regional, nasional, hingga internasional.

Untuk juara nasional diraih saat mengikuti kejuaraan jarak 30 meter beregu yang digelar oleh Perpani Jogjakarta.

Bintang meraih juara 3.

Kemudian juara 3 internasional untuk jarak 30 meter beregu standar bow putri yang digelar Perpani Jatim.

Tahun-tahun berikutnya juga masih kerap mendulang medali, baik tingkat kabupaten/kota, provinsi, dan nasional.

Sejak kecil, Bintang mengalami gangguan pendengaran dan bicara.

Kedua organ tersebut tidak berfungsi, sehingga dia masuk kategori disabilitas rungu wicara.

Kemampuan Bintang di olahraga panahan bukanlah hal yang mengagetkan, meski bukan dari keluarga atlet panahan.

Sejak tujuh tahun silam, ayahnya, Heri Prasetyo sudah memproyeksikan olahraga yang bisa ditekuni anaknya.

”Sejak awal SMP sudah menekuni panahan. Karena cocok, akhirnya berhasil dan mulai mengikuti lomba,” kata Heri Prasetyo yang mendampingi Bintang, kemarin.

Saat itu, menjelang Bintang masuk SMP, Heri mulai mencarikan olahraga yang tepat untuk penyandang rungu wicara.

Dia sadar, Bintang mengalami keterbatasan fisik, sehingga pendidikannya harus ditunjang prestasi non-akademis seperti panahan.

Gayung bersambut, Heri yang kala itu masih bekerja di Blitar bertemu dengan salah seorang temannya yang merupakan atlet dan pelatih olahraga panahan.

Akhirnya ia mencoba mengenalkan olahraga panahan itu kepada Bintang.

Tak mau melewatkan kesempatan, Bintang pun menerima tawaran ayahnya.

Enam bulan pertama, Bintang yang saat itu masih kelas satu SMP berlatih panahan tiap minggu.

Padahal lokasi latihannya terbilang jauh, yakni di Blitar.

Dengan demikian, setiap minggu sekali dia bolak-balik Malang-Blitar.

Lalu dia berlatih di Kabupaten Malang dengan didikan Joko Sutrisno.

Bukan perkara mudah bagi Bintang dalam mengikuti setiap kompetisi.

Walau disabilitas dia selalu masuk dalam kategori umum di kompetisi.

Dan bertarung melawan atlet dengan kondisi normal.

Sebagai seorang atlet panah profesional, dia harus mengikuti aturan yang berlaku.

Dengan keterbatasannya, kendala yang dihadapi dalam kompetisi cukup sulit.

Seperti harus mendengar aba-aba/instruksi dari wasit atau sekadar mendengar tanda pertandingan dimulai.

Meski kerap bermain di kategori umum, Bintang selalu tertantang untuk menyuguhkan kemampuan terbaiknya.

Namun, masih ada kendala lain seperti komunikasi dengan panitia atau sekadar berbincang dengan atlet yang lain.

Beruntung, Bintang mempunyai ayah yang selalu menemaninya di mana pun bertanding.

”Ayah memberikan kode kecil dari samping. Misalnya ketika pertandingan dimulai. Atau informasi lain arah angin atau penerjemah,” tambah Heri menerjemahkan maksud Bintang.

Tidak mau bergantung latihan formal, perempuan yang mengidolakan atlet panahan Diananda Choirunisa itu berlatih setiap hari di halaman rumahnya.

Setidaknya 100 anak panah ditarik dari busur.

”Latihan setiap hari di rumah. Tapi kalau Minggu di Ngebruk (Sumberpucung),” terangnya.

Bintang Riviasasti Yudhistira (tengah) ditemani ayah dan pelatihnya usai memenangkan kejuaraan.
Bintang Riviasasti Yudhistira (tengah) ditemani ayah dan pelatihnya usai memenangkan kejuaraan.

Dalam pekan olahraga provinsi (Porprov), Bintang yang mewakili Kabupaten Malang gagal masuk 16 besar.

Dia berjanji akan terus berlatih keras untuk mempersiapkan diri di event selanjutnya.

Meski begitu, anak kedua dari tiga bersaudara itu lebih cakap dari penyandang rungu wicara lainnya.

Pasalnya, sejak kecil Bintang sudah rutin mengikuti terapi wicara.

Sehingga dia bisa membaca gerak bibir lawan bicara tanpa mendengar atau tanpa harus menggunakan bahasa isyarat.

Bahkan SD dia bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB), namun karena dianggap cakap, akhirnya dia berpindah ke SD Negeri.

Kini dia terus berfokus ke Olahraga Panahan.

Wanita yang punya hobi merajut ini tetap memprioritaskan pendidikan dengan menempuh pendidikan S1 jurusan Perpustakaan di Universitas Terbuka.(*/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#gondanglegi malang #Panahan #Atlet disabilitas