Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Perjuangan Dzaky Pratama Ahmad Dani Meraih Juara Karate Internasional  

Mahmudan • Selasa, 3 Oktober 2023 | 00:05 WIB

 

 

BERPRESTASI: Dzaky Pratama Ahmad Dani menunjukkan medali yang diraih usai memenangkan kejuaraan karate, baik nasional maupun internasional.
BERPRESTASI: Dzaky Pratama Ahmad Dani menunjukkan medali yang diraih usai memenangkan kejuaraan karate, baik nasional maupun internasional.

 

 

Dzaky Pratama Ahmad Dani termasuk atlet karate asal Kota Batu yang moncer. Tiga kali bertanding di ajang internasional, dua di antaranya meraih medali. Bagaimana perjuangannya?

 

GALIH R. PRASETYO

DZAKY memasang kuda-kuda. Setelah wasit memberi aba-aba tanda dimulainya pertandingan, dia langsung menyerang. Siswa kelas II MAN Kota Batu itu berusaha tampil maksimal karena ingin meraih emas di ajang Shitoryu Karatendo International Championships 2023, Minggu lalu (24/9). ”Saya berpikir bahwa ini menjadi momentum untuk mendapatkan sesuatu yang lebih,” ujar atlet berusia 17 tahun itu, Rabu lalu (27/9).

Di babak final itu, dia melawan atlet karate asal China Taipe. Anak pertama dari dua bersaudara itu all out karena lawan yang dihadapi lebih berpengalaman. Setidaknya, lebih banyak bertanding di event internasional.

Sebelumnya, Dzaky memang sudah dua kali mengikuti event serupa. Yakni di Banyuwangi pada Juli lalu dan Jogjakarta pada Agustus, namun hanya meraih medali perunggu.

Karena itu, dia ingin mendapatkan emas skala internasional untuk pertama kalinya. Namun perjuangan Dzaky tidak membuahkan hasil maksimal. Pada akhir pertandingan dia harus rela mengakui keunggulan telak atlet Tiongkok itu. Dzaky kalah dengan skor 0-5. "Namun saya tetap bersyukur dengan hasil itu. Karena medali yang didapatkan lebih baik dari dua event sebelumnya," kata Dzaky yang meraih medali perak itu.

Dia berhasil menembus babak final setelah mengalahkan atlet karate dari India dan Meksiko. Padahal secara fisik keduanya lebih kuat dibanding Dzaky. ”Mereka unggul secara fisik. Jadi, saya sudah kerja keras sebelum pertandingan lawan Tiongkok,” paparnya.

Ketika lawan atlet India misalnya, dia benar-benar diuji kesabarannya karena atlet dari negara itu bertanding dengan terus menekan. Namun dengan ketenangan dan mengontrol diri, Dzaky menang di laga tersebut.

Padahal Dzaky tidak punya persiapan khusus di ajang internasional itu. ”Karate merupakan olahraga yang tidak terukur. Persiapan tidak bisa dilakukan 1-2 hari," ucapnya.

Selama gelaran, dia harus menjaga berat badan di bawah 75 kilogram. Sedangkan untuk latihan, dia tidak pernah off selama seminggu. Sebab, saat di dojo (klub, Red) libur, dia terbiasa menambah latihan secara mandiri. "Latihan dengan di dojo itu empat kali, lalu yang tiga hari berlatih mandiri," terangnya.

Usaha keras itu dilakukan lantaran demi menjaga kondisi dan mempertajam teknik-tekniknya. Saat melakukan aspek terakhir itu, dia kerap memanfaatkan beban yang diletakkan di bagian tangan dan kakinya. Di mana untuk bagian tangan ada pemberat 1 kilogram. Sedangkan di kaki 2 kilogram.

Lalu waktu latihan kerap lebih lama dari saat di dojo. Sebagai informasi waktu dia berlatih di dojo itu adalah 2 jam saja.  

Selama ada pemberat tersebut, dia wajib melakukan latihan tendangan dan pukulan secara normal. Pukulan wajib keras dan lurus. Selain itu, tendangan juga harus seperti itu juga. Alhasil, tidak ada keringanan dengan pemberian beban di tangan dan kakinya itu.

Melakukan hal tersebut bukan tanpa alasan. Itu adalah cara agar pukulannya lebih  cepat. "Di karate, berpikir lebih dari 5 detik itu sudah terlalu lama. Lalu untuk menembus pertahanan lawan juga butuh gerak yang cepat,"  papar atlet asal Beji, Kota Batu itu.

Apabila tidak mempunyai kecepatan, maka sulit menang. Hal tersebut dirasakan saat tampil melawan China Taipe. Dia yang terlalu lama berpikir gagal menangkis tendangan lawan, sehingga dia kehilangan poin.

Meski latihan berat, alumnus MTSN Batu itu tidak pernah mengeluh. Itu karena dia sudah mencintai karate sejak kecil. "Saya itu terjun di olahraga ini sejak TK," paparnya. Ayahnya yang menyukai karate mendorongnya menekuni olahraga itu.

Saat masih kecil, cedera atau lecet sudah menjadi makanan sehari-hari. Pernah kakinya retak. Namun, karena merasa tertantang, dia terus menekuni karate. Selama waktu itu, pada usia 9 tahun dia tambah yakin terjun di karate. Itu menyusul mendapatkan gelar juara. Setelah itu terus mendapatkan prestasi.(*/dan)

 

Editor : Mahmudan