Kota Malang punya bibit pebulu tangkis menjanjikan. Namanya Sherly Salsabilla Novitasari. Pemain nomor tunggal putri itu sudah teruji di tiga kejuaraan.
Galih R Prasetyo
Sherly tampak terbata-bata saat harus menceritakan perjalanan hidupnya.
Dari gesturnya terlihat ada rasa malu dan bingung harus memulai cerita dari mana.
Mengerti dengan situasi itu, Sri Suhartini, ibunya, langsung membuka perbincangan pada Kamis malam itu (19/10).
Hanya selang beberapa detik, suasana di rumah di Jalan Kedawung, Kecamatan Lowokwaru itu akhirnya mencair.
Sherly lebih lancar bercerita tentang perjalanan kariernya sebagai pebulu tangkis.
Dia juga tidak canggung menunjukkan bagaimana bentuk fisiknya yang berbeda.
”Tangan kanan saya ini tidak bisa lurus mas. Jadi apabila buat pemanasan (sembari merentang tangan ke atas) malah berbentuk huruf O, bukannya lurus,” selorohnya sembari tersenyum.
Remaja kelahiran 14 November 2006 itu kini sudah bisa berdamai dengan kondisinya.
Namun, di beberapa momen dia masih malu-malu bercerita atau menunjukkan kepada orang.
Alasannya karena dia takut pengalaman saat duduk di bangku SD terulang kembali.
Saat itu, hari-harinya ketika menimba ilmu terasa tak mudah.
Dia sering menjadi sasaran bully dari teman-temannya.
Kekurangan fisiknya lah yang paling sering ’diserang’.
Keterbatasan itu juga membuat dia kesulitan saat ikut pelajaran olahraga.
”Sedih Mas apabila harus mengingat momen itu,” kata dia.
Pelajar yang kini duduk di kelas 2 SMA itu masih di-bully sampai kelas 6 SD.
Beberapa kali juga masih terulang saat dia duduk bangku sekolah menengah pertama.
Saat ini mulai berkurang kalimat-kalimat ejekan kepadanya.
Sering mendapat perlakuan kurang mengenakkan, Sherly sempat berubah.
Dia sering tiba-tiba marah saat berada di rumah.
Mood yang buruk juga berpengaruh kepada nafsu makannya.
Akibat faktor itulah karier bulu tangkisnya bisa dibilang terlambat.
Sebab tidak bisa dia mulai saat kecil.
Sherly mulai menggeluti olahraga tersebut saat akhir-akhir SMP.
Sebetulnya, saat dia SD sudah ada tawaran yang datang.
Namun keluarga dan Sherly belum bisa menerimanya akibat kondisi fisik tersebut.
Tapi, berkat support keluarganya, dia perlahan-lahan bisa berdamai dengan kondisinya.
Kata-kata ibunya lah yang membuat dia tersadar.
Saat itu Sherly diberi tahu bila banyak disabilitas yang lebih menderita dari dirinya.
”Dari sana akhirnya saya berusaha menguatkan diri,” paparnya.
Tercatat, dia mulai menggeluti cabang olahraga (cabor) bulu tangkis pada bulan Maret 2021.
Saudaranya lah yang mendorong dia untuk terjun di olahraga tersebut.
Namun, tawaran tersebut tidak langsung dia terima.
Sherly butuh waktu dua minggu hingga akhirnya mencoba berlatih bulu tangkis.
Dia terdorong menggeluti olahraga bulu tangkis karena ingin membuktikan kepada orang yang sempat mem-bully dirinya.
”Saya tidak ingin dipandang sebelah mata lagi Mas,” jelasnya sembari memberikan tatapan tajam.
Di tengah-tengah menjalani rutinitas latihan bulu tangkis, dia juga tetap serius bersekolah.
Remaja asli Malang itu ingin membuktikan apabila dia mampu berprestasi di bidang akademik dan non-akademik.
Motivasi itu lah yang membuatnya bersungguh-sungguh menekuni bulu tangkis.
Atlet bulutangkis andalan National Paralympic Commite Indonesia (NPCI) Oddie Kurnia turun langsung menjadi mentornya.
”Saat itu supaya tambah cepat adaptasinya, saya memutuskan ikut klub bulu tangkis di Malang,” ucapnya.
Bergabung dengan klub bulu tangkis Snake, dia berlatih lebih keras.
Dalam sepekan, dia berlatih empat kali.
Selama menimba ilmu di sana, keluarga Sherly merogoh kocek secara pribadi.
Mereka mendukung penuh keinginan anaknya untuk menjadi atlet.
”Ibu percaya dari kegiatan itu, saya bisa lebih sehat secara fisik dan tidak terus-terus bermain handphone,” ucapnya.
Sekarang dia menjadi satu-satunya atlet bulu tangkis sektor tunggal dari Kota Malang.
Bergelut dengan latihan, Sherly sempat dihadapkan dengan rasa kurang percaya diri.
Itu karena hanya dia yang menjadi satu-satunya atlet bulu tangkis berkebutuhan khusus di klub Snake.
Dia tidak bisa mengikuti sejumlah latihan fisik.
Salah satunya yakni push-up.
Bermain di klub juga cukup melelahkan bagi dia.
Sebab, di sana dia harus menempa fisik dan teknik pukulan secara berulang-ulang.
”Yang paling sulit itu melatih pukul lob jauh, karena tangan yang bisa digunakan untuk latihan adalah bagian tangan kiri,” terangnya.
Setelah itu yang sulit yakni latihan footwork.
Setelah dua bulan berlatih intensif, Sherly terpilih tampil di ajang Pekan Paralimpik Provinsi (Peparprov) Jawa Timur 2021.
Tampil dengan rasa nervous dan melawan atlet berkebutuhan khusus lainnya yang lebih pengalaman, dia cukup sulit menang.
Tapi, di tengah upaya kerasnya, dia berhasil menjadi juara ketiga.
Setahun berselang, dia tampil di Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) 2022.
Di ajang keduanya itu, performanya lebih baik.
Dia yang lebih pengalaman dan sudah berlatih lebih rutin bisa menjadi juara pertama di ajang tersebut untuk nomor tunggal putri.
Track record yang positif membuat Sherly kembali ditunjuk tampil di multi cabang olahraga yang ditujukan kepada mereka yang berkebutuhan khusus pada 2023.
Dia tampil di Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) 2023 Palembang.
Di ajang tersebut, dia sukses menduduki peringkat ketiga.
Atlet berusia 17 tahun itu gagal melanjutkan capaian sebelumnya akibat persiapan yang kurang.
Latihannya kurang maksimal setelah Peparda.
Itu akibat dia kesulitan membagi waktu dengan sekolah.
Sherly tercatat hanya berlatih secara intens selama dua pekan.
Akibatnya, saat tampil di ajang yang digelar pada Agustus 2023 itu, fisiknya kurang maksimal.
Dari tiga laga yang dijalani, dia sekali menelan kekalahan.
”Cuaca di sana saat itu panas. Rasanya susah napas saat poin-poin akhir,” jelasnya.
Lawan yang dihadapi juga tambah berat.
Sebab, dia harus melawan atlet-atlet penjuru Indonesia.
Mulai dari wilayah Jakarta, Jawa Barat, sampai Sumatera.
Walaupun demikian, dia tetap bersyukur.
Pasalnya, dalam tiga tahun terakhir selalu dipercaya National Paralympic Commite Indonesia (NPCI) Kota Malang untuk tampil di event bulu tangkis.
Targetnya ke depan yakni bisa go-internasional seperti Oddie Kurnia. (*/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana