Keliling Indonesia untuk Edukasi Masyarakat
Saat kecil dilarang orang tuanya bermain musik, kini Joko Prihatin Gusindra justru mengoleksi ratusan alat musik tradisional. Dia aktif berkeliling berbagai daerah di Indonesia untuk mengedukasi warga agar mengerti musik. Juga membantu menciptakan mars di sekolah-sekolah.
NABILA AMELIA
RATUSAN alat musik dari berbagai daerah terpajang di salah satu ruangan di kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari, Kabupaten Malang.
Mulai gitar, kendang, suling, selompret, kecapi, dan sape.
Semua alat musik tersebut merupakan koleksi pribadi Joko Prihatin Gusindra atau biasa disapa Aak Agus Wayan.
Itu baru sebagian saja.
Di rumahnya masih banyak lagi.
Harga alat-alat musik miliknya beragam.
Yang paling mahal adalah sitar India, yakni Rp 8 juta.
Kemudian panting karangasem Bali seharga Rp 3,7 juta.
Tapi yang paling langka dan sulit dicari adalah kedirek dari Kalimantan Selatan.
Harganya Rp 2 juta.
Kebanyakan alat tersebut diperoleh Aak saat manggung bersama musisi dari berbagai daerah di Indonesia.
Alat musik pertama yang dimilikinya adalah kendang Sunda.
"Waktu itu saya sepanggung dengan orang Sunda. Lalu saya beli alat musiknya," katanya.
Hampir semua alat musik koleksinya tidak ada yang baru.
Rata-rata bekas.
Ini karena alat musik dengan pemakaian pribadi sudah tersetting dengan baik dan suaranya sudah terkondisikan.
"Setiap beli bisa bermacam-macam. Selain itu, saya memang selalu beli dari teman agar mereka tidak membawa beban berat saat kembali ke daerahnya," ujarnya.
Selain mengoleksi, Aak juga jago memainkannya, baik saat manggung seorang diri maupun bersama grup musik.
Salah satunya grup musik Arca Tatasawara.
Dulu tak pernah tebersit di benaknya untuk mengoleksi alat musik.
Maklum, semasa kecil pria asal Desa Sumberagung, Pasuruan, itu dilarang bermain musik.
Kedua orang tuanya, almarhum Suprapto dan Ida Sugiati tidak mengizinkan dia bermusik.
Sebenarnya, keluarganya suka musik seperti dangdut.
Namun pada era 199-0an, ada stigma negatif yang melekat untuk kalangan musisi.
Misalnya gemar menenggak minum alkohol (minol), mengonsumsi narkoba, hingga selalu begadang.
"Dulu, marak pemusik yang suka minum pil koplo, pil kodek, dan lainnya. Jadi orang tua tidak memperbolehkan saya menekuni musik," kenangnya.
Namun Aak berupaya membuktikan bahwa bermusik tak selalu negatif.
Ketika masih SMP, dia bersama teman-temannya menyewa studio musik untuk berlatih.
Mereka patungan untuk membayar biaya sewa R 15.000 per jam.
Aak berlatih bersama teman-temannya setiap pulang sekolah.
Setiap membeli alat musik seperti gitar pun tidak dibawa pulang.
Selalu dia dititipkan ke temannya.
Dia tahu kalau ketahuan bisa dibanting oleh orang tuanya.
Usaha Aak membuahkan hasil.
Saat mengikuti lomba musik indie pada 1990-an, dia mendapatkan juara satu.
Sejak saat itu, orang tuanya mengizinkan, bahkan mendukung Aak bermusik.
Dia juga langganan juara atau menduduki peringkat tiga besar setiap lomba musik.
Kemudian pada 2007, Aak mulai keliling Indonesia untuk manggung sekaligus mengedukasi masyarakat soal musik.
Hampir seluruh daerah pernah dikunjungi, kecuali Papua.
Namun suatu saat Aak ingin main musik di Papua.
"Setiap panitia yang mengundang, saya minta untuk mencarikan sekolah atau komunitas anak untuk saya edukasi sekaligus berkolaborasi bersama seniman lokal," ceritanya.
Kegiatan seperti itu tetap dilakukan hingga sekarang, termasuk selama pandemi Covid-19.
Ketika kebanyakan seniman mengeluh lantaran tidak punya penghasilan, Aak yang juga pengajar di Jurusan PGMI Fakultas Tarbiyah UIN Malang sejak 2019 itu berupaya membuat program sosial.
Yakni seniman bersosial dengan cara memberikan pelatihan bermusik.
Edukasi yang dilakukan pun gratis.
"Salah satu masyarakat yang menerima saya adalah lansia di Wonosari. Mereka mau saya beri pelatihan karena tidak hanya sebagai edukasi, tapi juga senang karena menjadi hiburan selama pandemi yang mencekam," terangnya.
Para lansia itu akhirnya membentuk grup dengan nama Dewi Godong 19.
Berkat bimbingan Aak, mereka sudah mandiri bermusik dan banjir job.
Di samping itu, dia juga membantu menciptakan lagu atau mars di sekolah-sekolah.
"Sekarang aktif bermusik dengan grup Arca Tatasawara," sambung Aak.(*/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana