SEKITAR tahun 2005 lalu, Gagah Eko Wibowo sempat terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Teknik Sipil di Universitas Narotama, Surabaya. Tak hanya berkuliah, saat itu dia juga sudah bekerja. Namun, tuntutan pekerjaan membuat mobilisasi Gagah ke luar kota cukup tinggi.
Itu membuat dia terpaksa berhenti kuliah saat menginjak semester lima. Meski gagal menyelesaikan studinya, dia tetap yakin pada kemampuan dan kerja kerasnya. ”Menurut saya ilmu dari sekolah atau kampus itu perlu eksekusi yang bagus juga. Jadi harus seimbang,” kata dia.
Ya, hari-harinya pasca lulus dari SMA di Sidoarjo pada 2004 memang banyak diisi dengan bekerja. Pasca lulus sampai 2006, dia bekerja serabutan. Sementara mulai 2006 sampai 2008, dia bekerja di sebuah perusahaan sebagai staf konstruksi.
Setelah itu, dia mulai berbisnis sendiri. Gagah kini merambah bisnis properti hotel. Pria asli Malang itu menjadi owner dari enam hotel yang berdiri gagah, seperti namanya. Bisnisnya itu tersebar di beberapa daerah. Mulai dari Surabaya, Solo, Yogyakarta, hingga Bogor.
Pada 16 September lalu, Gagah me-launching The Alana Hotel Malang di Jalan Ahmad Yani Nomor 12, Kelurahan Blimbing, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Kini total ada enam bisnis properti hotel yang dia jalankan. Sebelum berada di posisi sekarang, ada proses panjang yang dia lalui.
Awalnya, keinginan ayah dari tiga anak itu untuk menjalankan bisnis tidak hadir karena inisiatifnya. Melainkan karena keterpaksaan. Sebab, perusahaan tempatnya bekerja saat itu bangkrut. Itu membuat Gagah harus rela kehilangan pekerjaan yang cukup menjanjikan.
Akhirnya, berbekal pengalaman lapangan yang minim, dia memberanikan diri untuk menjalankan bisnis konstruksi sendiri. Awalnya dia tak begitu kesulitan menjalankan bisnisnya. Sebab, dia telah punya jejaring dari tempat kerja sebelumnya.
Hingga suatu ketika dirinya pernah banjir proyek. Proyek konstruksi di beberapa daerah dia pegang dalam satu waktu. ”Dulu kalau tidak salah ada di Madiun, Bojonegero, Pacitan, dan beberapa daerah lainnya,” ucapnya. Sayang, pengalaman tak bisa dibohongi. Waktu dua tahun ternyata tak cukup untuk memahami bisnis konstruksi secara utuh.
Alhasil, proyeknya tak jadi untung malah rugi. Saat itu Gagah harus menanggung kerugian hingga Rp 500 juta. ”Mungkin karena pengalaman masih minim. Terlalu berani mengambil banyak proyek sekaligus. Jadinya kurang kontrol dan lain sebagainya,” kata pria yang hobi traveling itu.
Dari situ Gagah banyak belajar. Dia mengevaluasi banyak hal dari bisnis yang dia jalankan itu. Dia makin sering belajar dengan orang-orang yang berpengalaman. Hingga akhirnya bisnis yang dia rintis sejak 2008 itu berbuah manis sekarang. ”Semua saya coba yang penting bisa survive,” ucapnya.
Poin berikutnya yang tak kalah penting bagi Gagah yakni berani keluar dari kebiasaan dan zona nyaman. Dia teringat saat dirinya besar di sebuah permukiman padat di Jalan Kemirahan Gang 2, Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Saat itu dia diasuh oleh kakek dan neneknya.
Dia merasa nyaman meski tinggal di gang sempit yang hanya bisa dilalui sepeda motor. Dia juga punya banyak teman di sana. Namun, setelah lulus SD Gagah melanjutkan SMP dan SMA di Sidoarjo. Dia ikut dengan ibunya di sana. Baru lah perjalanan Gagah dimulai setelah lulus SMA. ”Jadi harus berani meninggalkan kampung halaman. Agar bisa tahu luasnya dunia,” ujarnya.
Kini, alumnus SDN Purwodadi 5 itu juga menjadi pebisnis satu-satunya di keluarga. Sebab, kebanyakan saudaranya berprofesi sebagai PNS. ”Ayah saya juga seorang prajurit TNI,” imbuhnya. Itulah yang dia sebut dengan keluar dari kebiasaan.
Gagah tidak mengikuti jejak ayahnya sebagai prajurit karena punya pilihan dan jalan hidup sendiri. Kini, dia berhasil membuktikan bahwa pilihannya tak salah. Gagah punya prinsip, sejauh-jauh merpati terbang, pasti dia akan pulang ke sangkarnya.
Itulah yang dia lakukan sekarang. Setelah sukses di daerah lain, dia kembali ke Malang. Menjalankan bisnis di Malang. Membuka lapangan pekerjaan di kota kelahirannya. Ke depan, Gagah juga berencana untuk membangun hotel di Kota Batu. Dia juga ingin mengembangkan kawasan wisata di sebuah wilayah yang masih dia rahasiakan. (dre/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana