Usai Selamatkan Bawahan, Terjebak di Tengah Kobaran Api
Menjadi salah satu personel senior, Anang Yuwono melewati berbagai halangan dan rintangan ketika memadamkan kobaran si jago merah. Nyawanya nyaris melayang tatkala dia menyelamatkan bawahannya yang terjebak di tengah kobaran api.
ANDIKA SATRIA PERDANA
SUASANA Markas Komando (Mako) Pemadam Kebakaran di Jalan Bingkil, Kota Malang, sepi. Seorang personel berseragam dinas sedang siaga.
Dialah Anang Yuwono.
Jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran, dia bertugas membunyikan lonceng.
Ketika lonceng penanda terjadinya kebakaran berbunyi, personel langsung merapat, kemudian menuju ke lokasi.
Anang adalah komandan regu 2 sekaligus personel pemadam kebakaran (damkar) paling senior.
”Sepuluh tahun lebih saya bertugas menjadi pemadam kebakaran,” kata Anang di sela-sela berjaga kemarin (30/10).
Sebelumnya, Anang merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas di Kelurahan Balearjosari.
Kemudian pada 2013 dia dimutasi ke UPT Damkar Kota Malang, yakni unit teknis yang berada di bawah Naungan Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang.
Dia merasa akan bertugas di damkar hingga pensiun pada 2033 mendatang.
”Kemungkinannya kecil sekali dipindah ke PD (perangkat daerah) lain,” kata Anang.
”Karena mau jadi pemadam kebakaran itu harus diklat dulu, sementara personel sedikit," tambah pria berusia 48 tahun itu.
Setahun bertugas UPT Damkar Kota Malang, Anang mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar (diklatsar) pemadam kebakaran di Ciracas, Jakarta.
Selama tiga bulan dia ditempa untuk menjadi pemadam yang tangguh.
"Seharusnya enam bulan, tapi pelatihnya hanya memberi waktu tiga bulan. Alasannya kami dinilai sudah paham dasar-dasarnya" kata pria kelahiran 1975 tersebut.
Kemudian pada 2015, Anang sempat akan ditarik menjadi personel damkar di DKI Jakarta, wilayah penugasan Jakarta Timur.
Sebab ketika ada kejadian kebakaran di Kemayoran, Anang membantu petugas setempat.
Padahal waktu itu, dia sedang menjalani cuti.
"Pas cuti, saya berada di rumah saudara. Ternyata di dekat rumahnya ada kebakaran. Asapnya tebal. Saya langsung datang dan membantu,” ungkapnya.
Pada kejadian itu, Anang melihat satu selang dipegang tiga sampai empat personel.
Bagi dia, itu tidak efektif. Kemudian dia mengambil selang yang masih tersisa dan hanya dipegang sendirian.
Tim damkar setempat kagum dengan kepiawaian yang diperlihatkan Anang.
"Setelah selesai pemadaman, saya diangkat-angkat. Kemudian diminta gabung di Jakarta. Tapi pak wali kota Malang saat itu tidak mengizinkan. Istilahya digandoli," tuturnya.
Sepuluh tahun bertugas, dia merasakan suka-duka menjadi personel damkar.
Ketika Malang Plaza mengalami kebakaran awal Mei lalu, dia nyaris kehilangan nyawa.
”Itu merupakan kebakaran terhebat yang pernah saya tangani. Dibanding kebakaran Pasar Besar, Malang Plaza lebih parah dan ngeri," ucap Anang.
Tepat pada 3 Mei lalu, sekitar pukul 03.00, Anang mengetahui ada tiga juniornya dan satu armada terjebak di area parkir Malang Plaza.
Sebagai komandan, Anang merasa bertanggung jawab menolong anak buahnya.
Ketika personel lain berhasil dikeluarkan dengan selamat, Anang justru tertinggal dengan satu mobil pemadam.
Dia terjebak di tengah kobaran api.
Untuk menyelamatkan diri, dia memasuki mobil.
”Saya ingat sekali, pas ada api, saya sembunyi di bagian penyimpanan selang di dalam mobil. Api sempat menyambar gas, ada ledakan kecil. Beruntung saya di dalam mobil. Kalau di luar mobil, mungkin saya sudah tidak ada (meninggal dunia)," ungkapnya.
Meski sudah berada di dalam mobil dan dia memakai baju anti-panas disertai masker, Anang masih merasakan panas.
"Dalam kondisi itu saya sudah pasrah. Teringat anak dan istri di rumah. Dalam hati, saya sudah pamit dan minta maaf kepada keluarga," kata Anang sambil matanya berkaca-kaca.
Kala itu dia sempat putus asa karena terjebak selama lima menit di dalam mobil.
Akhirnya dia berdoa.
Dia ikhlas jika ditakdirkan meninggal dunia dalam bertugas.
Tapi jika masih diberi kesempatan hidup untuk kedua kalinya, dia ingin diselamatkan seperti Nabi Sulaiman.
”Saya berpikir mungkin sudah waktunya, tapi tetap teringat keluarga di rumah. Akhirnya hawa panas itu hilang dan saya diselamatkan teman-teman,” tutur kenang dia.
Ketika keluar dari tempat parkir, seragam oranye yang dikenakan Anang sudah lusuh dan menghitam.
Wajahnya juga ikut menghitam.
Namun karena api masih belum padam, dia langsung bergegas kembali untuk menjinakkan si jago merah.
"Mungkin hanya istirahat 15 menit, setelah itu balik lagi bertugas. Keesokan hari sekitar pukul 07.00, saya baru merasa tubuh kekurangan oksigen. Sempat dibantu dengan tabung oksigen. Orang-orang di sekitar itu sudah menangis mungkin kasihan," terang Anang sembari menunjukkan video ketika dia mendapatkan bantuan oksigen dari petugas medis.
Selain kebakaran Malang Plaza, dia juga masih ingat ketika memadamkan kebakaran di Pasar Besar pada 2016 silam.
Bukan pengalaman yang hampir merenggut nyawanya, melainkan cerita mistis.
”Saya melihat ada anak kecil berlari. Karena wilayah berbahaya, saya menyuruhnya keluar. Namun setelah dikejar, ternyata sosok itu tidak ada,” kata dia.
Dalam penanganan kebakaran, utamanya pada malam hari, Anang kerap bersentuhan dengan hal-hal gaib.
”Ketika memadamkan kebakaran di Poncokusumo membantu juga begitu. Ada hawa mistis,” kata dia.(*/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana