Bertemu di LSM, Sekarang Punya 78 Keluarga Binaan
Noor Choirullah bertemu dengan Abyz Wigati saat sama-sama bekerja di sebuah lembaga nonprofit. Keduanya lantas menikah dan berjuang bersama di bidang kemanusiaan. Mengelola sekolah gratis hingga foster care (pengasuhan anak).
NABILA AMELIA
SENIN pagi (30/10), M. Noor Choirullah alias Rulli tampak menyambut tujuh bocah di kantor sekaligus lembaga pendidikan nonformal miliknya, Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Harapan Ummat. Tujuh anak itu rutin datang untuk belajar setiap Senin hingga Kamis. Usia mereka sekitar enam tahun atau prasekolah. Selain mereka sebenarnya masih ada 71 anak binaan lainnya.
Pria berusia 49 tahun itu lantas membimbing anak-anak binaannya untuk duduk sembari menunggu kesiapan staf pengajar bernama Dila dan Balqis. Setelah itu, Rulli mengajak wartawan koran ini berbincang mengenai perjalanan LKSA yang dia kelola bersama istrinya, Abyz Wigati.
Ingatan keduanya lantas melayang ke tahun 1997. Kala itu Abyz baru lulus dari Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Institut Pertanian Malang. Dia kemudian bekerja sebagai koordinator program untuk sebuah lembaga sosial masyarakat (LSM) di Sidoarjo. Tugasnya menjadi penyuluh keluarga petani di Desa Blembem, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo. Namun yang dia temukan justru lebih banyak masalah di luar ilmu pertanian.
Sebagian besar istri para petani di desa itu bekerja sebagai buruh migran di luar negeri. Anak-anak mereka menjadi cenderung tidak terurus. Para suami malah sibuk menghibur diri dan kurang mampu mengelola uang yang dikirimkan istri mereka. ”Kalau soal pertanian, mereka sudah jauh lebih mahir,” ujarnya.
Abyz yang saat itu masih single harus mendengar keluh kesah petani yang sudah lebih dulu mengarungi bahtera rumah tangga. Dia sempat merasa tidak siap. Tapi karena sudah menandatangani kontrak pekerjaan, maka tak ada pilihan selain menjalani tugas itu.
Abyz lantas mencoba beradaptasi dengan mengajarkan anak-anak petani di Desa Blembem mengaji. Perlahan dia juga membantu petani untuk mengelola keuangan, membuat kelompok usaha kecil, dan mengepul hasil bumi.
Dua tahun berselang, tepatnya pada 1977, Rulli bergabung dengan tim yang dipimpin Abyz. Kala itu Rulli baru saja lulus dari Jurusan Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya. Keduanya sama-sama merasa tersentuh dengan permasalahan para petani di desa terpencil itu yang cenderung kompleks. Beruntung para petani itu masih memiliki keinginan berbenah.
”Dari sana saya merasa dunia saya memang mendidik anak. Kemudian kami menikah pada tahun 2000,” imbuh Abyz. Setelah menikah, Rulli sempat pindah pekerjaan ke beberapa lembaga yang bergerak di bidang sosial. Seperti lembaga zakat, lembaga dakwah, dan lembaga yang berafiliasi dengan Timur Tengah.
Tahun 2004, Rulli mendapat keluhan dari salah satu tokoh masyarakat di Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Isinya tentang banyak anak yang tidak lolos masuk SD karena gagal tes calistung. Penyebabnya bervariasi. Mulai dari orang tua yang buta huruf hingga kondisi sosial ekonomi yang tertinggal, sehingga membuat mereka tidak mampu mendaftarkan anak-anak ke TK.
Keluhan itu mendorong Rulli untuk membuat sekolah gratis sebagai lembaga pendidikan alternatif. Dengan jejaring yang luas, Rulli sempat menerima tawaran donasi dari beberapa lembaga zakat. Abyz juga siap membantu menyusun kurikulum pendidikan.
Namun, saat keduanya telanjur all out, lembaga-lembaga itu justru enggan diajak berkomitmen. Mereka terpaksa door to door mencari donatur. Pasutri itu juga rutin berkunjung ke rumah warga kurang mampu untuk mengajak anak mereka bergabung di sekolah gratis. ”Kami malah sempat dikira caleg yang mempromosikan diri,” kelakar Abyz.
Perjuangan keduanya perlahan membuahkan hasil. Pada angkatan pertama terkumpul 20 anak. Terdiri dari 10 anak TK A dan 10 anak TK B. Lalu pada 2006 mereka juga menyasar anak-anak di Jalan Muharto. Lima tahun kemudian merambah Kelurahan Gadang. Dua kawasan itu dipilih berdasar rekomendasi dari donatur.
Abyz teringat kasus anak perempuan usia 7 tahun yang gagal masuk SD karena tes calistung. Anak tersebut sebenarnya pintar. Tapi orang tuanya sering melontarkan kata-kata negatif, seperti ”goblok”. Dengan bimbingan yang telaten, anak itu akhirnya berhasil menjalani pendidikan hingga tuntas. Bahkan mendapat beasiswa di salah satu sekolah elite hingga lulus dari Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Malang.
”Kabar terakhir, saya mendengar dia membuka layanan home visit. Kami jadi semakin yakin, dengan pendidikan yang positif, seorang anak mampu berkembang dengan baik,” tegas ibu tiga anak tersebut. Keduanya pun berkesimpulan bahwa mendidik orang tua juga penting. Lalu dibuatlah pondok parenting untuk para ibu setiap Jumat.
Pada 2014, lembaga binaan Rulli dan Abyz dikukuhkan menjadi Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA). Itu setelah ada pertemuan dengan Kementerian Sosial tahun 2013. Saat itu, Kemensos sedang mencari role model setelah pemerintah membuat kebijakan mengenai Standar Nasional Pengasuhan Anak (SNPA). Di dalam kebijakan tersebut tercantum soal pengasuhan anak hingga klausul foster care.
Berbeda dengan adopsi, foster care mengutamakan agar anak-anak yang bermasalah tetap bisa kembali ke keluarga. Tentunya setelah kondisi mereka benar-benar pulih dan keluarga biologis dinilai mampu merawat kembali anak mereka. ”Fokusnya memang mencegah keterpisahan anak dengan orang tua,” kali ini Rulli yang angkat bicara.
Sebelum anak dipisahkan, pihak terkait harus terlebih dahulu mencari opsi kerabat dekat, foster care, atau keluarga di luar keluarga biologis, perwalian, adopsi, dan panti sebagai alternatif paling akhir. ”Kami baru berpikir untuk menjalankan foster care setelah landasan hukumnya lengkap tahun 2020,” imbuhnya.
Rulli teringat salah satu anak binaan yang memiliki inisial ARA. Dia datang dari keluarga dengan ibu yang mengalami depresi dan ayah yang baru kehilangan pekerjaan. Si anak juga mengalami kekerasan dalam rumah tangga dengan bukti luka-luka di tubuh bagian belakang.
Bersama Abuz, dia memisahkan ARA dari orang tuanya sembari berupaya melakukan mediasi. Saat itu ARA dititipkan ke tetangga yang memang terbiasa merawat ARA. Bahkan, tetangga itu sempat hampir menjadi orang tua asuh. Setelah kondisi membaik, ARA dikembalikan ke keluarganya dan tetap berada di bawah pantauan LKSA Harapan Ummat.
”Sekarang kami sudah memiliki 20 keluarga yang mendapat SK sebagai orang tua asuh. Lalu, satu keluarga masih calon orang tua asuh (COTA). Mereka berasal dari Kota Malang, Pasuruan, Blitar, dan Ponorogo,” ujarnya.
Saat ini, di Jawa Timur baru LKSA Harapan Ummat yang didapuk untuk foster care. Rulli dan Abyz berencana melebarkan sayap foster care yang dia kelola ke Ponorogo. ”Pemerintah di sana memberi dukungan berupa anggaran senilai Rp 15 miliar untuk LKSA. Forum LKSA di Ponorogo juga sangat well-informed dan mau menerima pengetahuan-pengetahuan baru,” tandasnya. (*/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana