Sempat Depresi dan Masuk RSJ, Kini Kembangkan Bakat Multimedia
Dampak perundungan begitu membekas dalam kehidupan Danish. Dia sempat depresi hingga menjalani perawatan dua pekan di rumah sakit jiwa (RSJ). Remaja 15 tahun itu juga lebih senang menyendiri dan berkarya menggunakan gadget.
FAJAR ANDRE SETIAWAN
BEKAS luka di jari tangan kanan Danish masih tampak jelas. Garis-garis kecil berwarna putih susu seperti membuat motif tak beraturan di punggung telapak tangan kanannya. Remaja berkaca mata itu masih ingat betul penyebab luka tersebut.
”Waktu itu saya tiba-tiba marah dan tidak bisa mengendalikan diri. Tapi tidak tahu apa yang membuat saya marah,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Malang. Dalam kondisi penuh emosi, Danish mengepalkan tangan kanannya. Kemudian mengarahkan pukulan ke kaca lemari pakaian di rumah. Kaca itu pecah. Tangan kanannya bersimbah darah.
Hari itu, luka di tangan seolah tak terasa. Justru penderitaan yang dia alami sebelumnya lebih menyayat dan memberikan rasa perih tak terkira. Mulai kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga perundungan yang dilakukan teman-temannya di sekolah.
Danish mengaku mengalami gangguan emosi akibat KDRT. Ketika emosi, remaja asal Kecamatan Blimbing itu kerap kewalahan dalam mengendalikan diri. Dia cenderung melampiaskan kemarahan dalam bentuk tindakan-tindakan agresif. Tindakan itu tidak hanya bisa melukai orang lain, tapi juga membahayakan dirinya sendiri.
Kondisi tersebut diperparah ketika dia menjadi korban bullying di sekolahnya. Kala itu dia menjadi siswa di salah satu sekolah swasta di Kecamatan Blimbing. Setahun berjalan, Danish tidak kuat bertahan karena perlakuan negatif dari teman-temannya.
Pemicu perundungan yang dialami Danish sebenarnya terkesan sepele. Salah satunya, pandangan mata Danish yang agak tidak fokus. Orang awam menyebutnya dengan istilah juling. ”Ya, saya sering dikata-katain juling,” ucapnya.
Ketidakmampuan Danish dalam berbahasa Jawa juga sering menjadi bahan olok-olok temannya. Sejak SD dia memang menetap di Jakarta bersama ayah dan bundanya. Setelah lulus SD baru kembali ke Malang. Itu seiring dengan kondisi sang nenek yang sudah membutuhkan keluarga untuk merawat. Ketika kembali ke Malang, Danish selalu bicara dalam Bahasa Indonesia dan kesulitan dalam berbahasa Jawa.
Pernah suatu ketika, Danish ditelanjangi di depan teman-teman perempuan di kelasnya. Sayangnya, perundungan semacam itu tidak mendapat penanganan yang sesuai harapan. Ketika mencoba melaporkan kejadian itu ke pihak sekolah, Danish malah dituding melebih-lebihkan cerita. ”Katanya lebay gitu,” ungkapnya.
Danish juga sering dituding sebagai anak yang kecanduan gadget. Padahal itu dia lakukan sebagai pelarian akibat kondisi lingkungan yang tak nyaman. Kebetulan SMP tempatnya sekolah dulu memperbolehkan siswa membawa gadget. Itu sangat membantunya untuk mengabaikan cemoohan siswa lain.
Akhirnya, Danish tidak menemukan jalan keluar selain diam dan menarik diri dari lingkungan sekolah saat itu. Ketika di rumah, efek bullying di sekolah membuatnya banyak menghabiskan waktu sendirian di dalam kamar. Danish menjadi tidak selera untuk bertemu orang.
”Saya merasa lebih aman saat sendirian. Apalagi saya bisa lebih fokus mengerjakan apa pun yang ia suka,” tutur remaja yang hobi editing menggunakan smartphone tersebut.
Hobi itu lantas dia manfaatkan untuk membuat konten-konten video di TikTok. Beberapa konten malah masuk dalam for your page (FYP) atau direkomendasikan oleh TikTok di beranda pengguna lain. Salah satunya konten komedi yang dia buat dengan mengedit logo salah satu aplikasi transportasi online menjadi plesetan.
Namun hingga kini Danish mengaku belum paham algoritma TikTok. Sering kali konten-konten yang dia garap dengan serius malah tidak terangkat. Justru konten-konten yang dibuat asal-asalan mampu mendulang viewer hingga belasan ribu.
Tapi kondisi itu tetap membuat Danish senang. Terlebih ketika dia memutuskan untuk tidak sekolah lagi. Waktunya bisa dimanfaatkan untuk menyalurkan bakat di bidang editing.
Saat ini Danish memilih untuk menempuh pendidikan nonformal di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Ki Hadjar Dewantara. Dia merasa lebih nyaman belajar di lembaga itu. Sebab teman-temannya tak sebanyak di sekolah formal. Yang paling penting, tidak ada yang melakukan perundungan lagi terhadap dirinya.
Kenangan lain yang tidak bisa dilupakan Danish adalah ketika menjalani perawatan di RSJ Lawang awal tahun ini. Sebelumnya dia tidak pernah membayangkan bakal masuk, apalagi menjadi pasien di rumah sakit semacam itu. Tapi, demi kebaikan dirinya, Danish memutuskan untuk ikhlas menjalaninya.
Tak banyak kegiatan yang bisa dia lakukan saat menjalani perawatan di RSJ Lawang. Selain terapi, Danish lebih banyak membaca buku-buku yang dibawakan sang bunda dari rumah. Seusai menjalani perawatan, Danish kembali fokus mengembangkan bakatnya di bidang multimedia.
Selama berbincang dengan Jawa Pos Radar Malang, Danish sebenarnya menunjukkan kemampuan lebih dibanding dengan anak-anak normal seusianya. Anak tunggal itu sangat komunikatif, bahkan visioner. Kelak dia ingin kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk memperdalam kemampuan di bidang multimedia. ”Kalau tidak di sana, saya ingin kuliah di Harvard University,” ucapnya mantap. (*/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana