Bisnis sejak SMP, Bikin Olahan Pisang Pengganti Nasi
Ide yang dituangkan Aqil Zulkaisi Arijuddin dalam proposal bussines plan bisa menjadi solusi atas melonjaknya harga beras. Itu jika inovasinya tentang olahan pisang menjadi pengganti nasi diterapkan masyarakat.
FAJAR ANDRE SETIAWAN
SENYUM Aqil Zulkaisi Arijuddin terus mengembang. Mahasiswa jurusan matematika Universitas Negeri Malang (UM) itu meraih hadiah Rp 3.000.000 setelah dinobatkan sebagai juara I Bussines Plan 2023 yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang pada 2 November lalu.
Putra bungsu dari empat bersaudara itu berhasil keluar sebagai juara pertama berkat ide olahan pisang sebagai pengganti nasi. Ide itu dituangkan dalam proposal bussines plan. Meskipun tercatat sebagai mahasiswa MIPA, pria berusia 21 tahun itu tertarik bisnis sejak kecil. Bahkan SMP sudah menjalankan bisnis kecil-kecilan. “Sebenarnya nggak nyambung dengan jurusan saya,” ujar Aqil kemarin.
Saat itu, dia coba-coba berjualan. Aqil mengambil produk makanan ringan langsung dari produsen, seperti mie lidi, makroni beraneka rasa, dan bakso goreng (basreng). Kedua dia memasarkan melalui media sosial (medsos) facebook.
Selain itu, dia juga membawa barang dagangannya ke sekolah untuk tawarkan ke teman-teman sekolahnya. “Setiap hari saya membawa 15 picis. Harganya Rp 12 ribu per picis,” ucapnya.
Itu pun tak selalu habis. Normalnya orang berjualan, kadang ramai, tapi kadang juga sepi. Namun malam membuat Aqil semakin terpacu untuk membuat barang dagangannya laku keras. Ketika masuk SMA, dia merambah marketplace.
Dari situlah awal mula bisnisnya berkembang. Hingga kini bisnis tersebut masih dijalankan. Permintaan yang terus meningkat membuat Aqil terus berpikir untuk mengembangkan bisnisnya. Salah satunya dengan bekerja sama dengan pusat oleh-oleh untuk menitipkan produk makanan ringan yang ia jual.
Aqil sadar dengan besarnya kekuatan digital marketing. Sebab, dari situlah bisnis kecilnya berkembang. Itu pula yang mendorong dia untuk mengikuti ajang bussines plan. Misalnya ajang Bussines Plan 2023 yang digelar OJK Malang di Jalan Kertanegara, Kota Malang pada 2 November lalu. Ide membuat olahan pisang menjadi pengganti nasi memang membuat juri tertarik. Dinilai menjadi solusi atas melonjaknya harga beras belakangan ini.
Ide tersebut muncul tak serta merta. Lebih dulu mahasiswa asal Pasuruan itu melihat potensi pisang di Kabupaten Malang yang cukup tinggi. Harganya juga relatif murah, sehingga dia optimistis bisa menjadi solusi masyarakat.
Kendati begitu, Aqil mengaku proposal yang diikutkan lomba merupakan hasil pengembangan. Sebab, dia dan timnya sebelumnya pernah mengikuti lomba serupa dengan pemanfaatan potensi pisang sebagai inovasi bisnis dalam bidang pangan. Tepatnya tiwul.
Untuk kesempurnaan idenya, dia mendapat masukan dari dewan juri. ”Juri menyarankan agar dibuat menjadi olahan yang bisa menggantikan nasi. Dari olahan manis menjadi olahan gurih,” ucapnya. Aqil hanya butuh waktu 2 minggu untuk menggarap proposal tersebut. Kini kerja kerasnya berbuah manis.
Penghargaan tersebut bukan yang pertama bagi Aqil. Sebelumnya dia menyabet juara dua di ajang Produk Marketing Evaluasion. Saat itu dia mengangkat tema evaluasi pemasaran. Fokusnya pada pentingnya peran digital dalam memasarkan produk usaha. “Sasarannya pada UMKM. Saya melihat bagaimana strategi-strategi pemasaran yang dipakai,” ucapnya.
Dia menyadari, satu hal yang kerap menjadi kendala pengusaha kecil. Yakni literasi digital untuk penggunaan marketplace. Kepiawaian Aqil dalam membuat bussines plan tidak lepas dari figur sang ayah yang juga pengusaha beras.(*/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana