Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jatuh Bangun Djojosepoetro Bersaudara dalam Merajai Bisnis Bioskop di Malang Raya

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Selasa, 28 November 2023 | 17:10 WIB
PENGUSAHA BIOSKOP: Rudianto Djojosepoetro duduk di salah satu studio bioskop Mopic Cinema, Jalan Seokarno-Hatta, Minggu malam (26/11).
PENGUSAHA BIOSKOP: Rudianto Djojosepoetro duduk di salah satu studio bioskop Mopic Cinema, Jalan Seokarno-Hatta, Minggu malam (26/11).

 

Film ”Inem Pelayan Sexy” Jadi Pemantik Kejayaan

Perkembangan bisnis bioskop di Bumi Arema tidak lepas dari peran Djojosepoetro bersaudara. Mereka yang mendirikan bioskop sejak 1978, kemudian mengembangkannya.

NABILA AMELIA

RUDIANTO Djojosepoetro mengamati putri sulungnya, Rulya Febrina memberi arahan kepada sejumlah pegawai di Mopic Cinema, Minggu malam (26/11). 

Mereka memasang dekorasi seperti bola hingga slinger berwarna hijau untuk menyambut Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Ada kebanggaan yang dirasakan Rudi. 

Tidak hanya terhadap Rulya, tapi juga dua anaknya yang lain, yakni Wanda Juliant Djojosepoetro dan Della Fansiska Zagita Saputri. 

Sebab, setelah menekuni bisnis bioskop selama hampir setengah abad, kini Rudi bisa melahirkan generasi kedua. 

"Saya bangga. Meski bukan sarjana, tapi bisa mendidik mereka sampai tamat kuliah. Dua dari mereka sekarang juga mengelola bisnis bioskop," ucap dia. 

Perjuangan Rudi membangun bisnis bioskop menjadi motivasi bagi Rulya dan Wanda. 

Bermula dari himpitan ekonomi setelah ayah Rudi, Tio Sien Tjiang tutup usia pada 1978 silam karena kecelakaan. 

Kakaknya yang bernama Soetiono Djojosepoetro harus memutar otak agar keluarga mereka bisa bertahan hidup. 

Apalagi selain Rudi, masih ada ibu, Li Werry Nio, dan adik bungsu mereka, Sujanto Djojosepoetro.

Sebagai anak pertama, Soetiono dihadapkan pada dua pilihan berat. 

Antara melanjutkan sekolah penerbangan di Akademi Militer Nasional (AMN) atau bekerja.

Dengan berat hati, Soetiono terpaksa memutuskan untuk mencari pekerjaan.

Entah mengapa Soetiono mantap menjajal bisnis film. 

Ini setelah mendapat saran dari beberapa temannya. 

Namun, lelaki kelahiran tahun 1948 itu sempat bingung karena tak punya modal. 

"Mungkin karena bingung, kakak ke makam ayah untuk merenung," ujar Rudi.

Setelah merenung, terbersit di pikiran Soetiono untuk menggadaikan sertifikat rumah pacar yang kini menjadi istri Soetiono. 

Nilainya sekitar Rp 15 juta pada masa itu. 

”Awalnya tentu ada keraguan dari keluarga kakak ipar, tapi kakak meyakinkan hingga akhirnya bisa memulai usaha," kenang Rudi sembari tertawa.

Bermodal uang Rp 15 juta, Soetiono mulai merintis usaha. 

Kebetulan, dia diperbolehkan temannya untuk mengelola gedung Jelita Theatre di Lumajang.

Gedung dengan kapasitas 600 tempat duduk itu disulap menjadi bioskop.

Tak hanya mengelola gedung, Soetiono pula yang mencari film. 

Dari beberapa distributor film, pilihannya jatuh pada Metropolitan Film.

Oleh distributor film asal Surabaya itu, Soetiono mendapat tawaran menyewa satu roll film berjudul ” Inem Pelayan Sexy” yang memiliki durasi 20 menit.

Harga satu roll film mencapai Rp 5 juta dengan kontrak satu tahun.

"Keuntungan dari pemutaran film dibagi dua dengan distributor," kata Rudi.

Soetiono pun menimbang-nimbang untung dan rugi dari film yang ditawarkan Metropolitan Film.

Sebagai jaminan, film tersebut diputar terlebih dulu di bioskop President Theatre untuk melihat animo penonton. 

Ternyata, banyak orang yang suka dengan film Inem Pelayan Sexy. 

Kecantikan aktris Doris Callebaut dan mantan calo tiket Jalal yang menjadi bintang utama sukses menarik menonton ke bioskop.

Melihat peluang itu, Soetiono pun membawa film Inem Paling Seksi agar diputar di Jelita Theatre. 

Di sana, film tersebut diputar dalam tiga kali show. 

Harga tiketnya bervariasi antara Rp 150 sampai Rp 350. 

Lalu ada harga tiket berdasarkan kelas 1, 2, dan 3, serta harga pada waktu akhir pekan. 

Sama dengan di Surabaya, Inem Paling Seksi juga sukses menarik perhatian masyarakat Lumajang.

Setelah sukses dengan film Inem Paling Sexy, Metropolitan Film juga menawarkan film lainnya.

"Karena sudah sampai ke luar kota, kakak perlu banyak tenaga. Saya yang waktu itu masih SMA diminta menjadi pengawas lapangan," cerita Rudi. 

Alumni SMA Dempo Kota Malang itu akhirnya ikut menyudahi pendidikan saat duduk di kelas dua SMA.

Demikian pula Sujanto. 

Ketiganya juga mengajak saudara dekat maupun kerabat lain untuk mengelola bisnis bioskop.

Soetiono kemudian membeli dan menyewa aset di sejumlah kota. 

Oleh sang kakak, Rudi ditunjuk langsung untuk melakukan survei lapangan. 

Dari riset yang dilakukan, Rudi melihat selain Surabaya, Malang menjadi lokasi yang menjanjikan untuk bisnis bioskop. 

Aset pertama yang dikelola di Malang adalah Malang Theatre (kini gedung Bank BTN) di Jalan Ade Irma Suryani. 

Saat pindah ke Malang untuk mengelola aset sang kakak, Rudi sempat kos di Jalan Cucakrowo.

Antara tahun 1980 sampai 1982, bisnis bioskop mereka merambah ke lokasi lain seperti President Theatre yang kini menjadi Hotel Savana, Mutiara Theatre yang dulu di Jalan Trunojoyo, Mulia Theatre di Jalan Laksamana Martadinata, Ria Theatre, Sukun, Dinoyo, Jalan Tenaga, Kebalen, Misbar di Jalan Kelud, Kebonagung, Borobudur, dan banyak lainnya.

Manajemen Mopic Cinema bersama para staf berfoto di studio
Manajemen Mopic Cinema bersama para staf berfoto di studio

Aset tersebut belum termasuk yang ada di luar kota.

Misalnya bioskop di Tuban, Bojonegoro, Jember, Blitar, Surabaya, hingga Kupang di Nusa Tenggara Timur. 

Tiga bersaudara itu merajai bisnis bioskop di tanah air. 

”Salah satu yang memiliki sejarah adalah Bioskop Mandala di Malang Plaza. Karena pada waktu diresmikan tahun 1986, dihadiri oleh Walikota Soesamto, Pangdam Soelarso, hingga Gubernur Basofi," ungkapnya. 

Karena itu, saat terjadi kebakaran di Malang Plaza pada Mei 2023 lalu, keluarga mereka begitu terpukul. 

Terutama sang kakak.

Meski sempat berjaya, memasuki tahun 1998 keluarga mereka terdampak krisis moneter.

Beberapa aset ditutup dan pegawai diberhentikan. 

Yang masih tetap beroperasi hanya Bioskop Mandala di Malang Plaza dan bioskop di Mal Sarinah. 

"Waktu itu saya sudah berkeluarga. 

Anak sudah dua.

Karena harus bertahan hidup, saya izin ke kakak untuk mencari pekerjaan ke Amerika," ungkap Rudi. 

Sang kakak pun memperbolehkan.

Dengan berat hati, Rudi akhirnya pergi ke luar negeri sebagai imigran gelap.

Di sana dia kucing-kucingan dengan petugas imigrasi, persis seperti di film yang pernah dilihatnya.

Pelarian Rudi ke Amerika berlangsung hingga tahun 2000-an.

Setelah kondisi Indonesia lebih baik, Rudi kembali ke tanah air untuk membantu sang kakak menghidupkan bisnis bioskop.

Saat itu, Mira Lesmana melalui production house miliknya membuat film Petualangan Sherina yang akhirnya membuat kondisi dunia film perlahan pulih.

Masyarakat kembali menonton di bioskop meski film yang ada masih terbatas.

Aset bioskop di beberapa kota juga diaktifkan kembali. Misalnya di Madiun, Jember, dan Pasuruan.

Setelah berhasil melalui krisis moneter, usaha mereka kembali diuji dengan masifnya teknologi tahun 2010.

Banyak orang yang mulai menonton menggunakan hard disk.

Namun, hal itu tidak membuat Rudi bersama keluarganya goyah.

Tapi pada 2019 masih bisa mendirikan bioskop di Lumajang.

Baru saja membuka, bisnis mereka dihantam pandemi.

Kemudian 2023 membuka Mopic Cinema. Pada bioskop tersebut, mereka menerapkan teknologi laser untuk pemutaran film.

"Saya hanya mengawasi. Mereka yang meyakinkan kakak saya kalau penggunaan laser memiliki keuntungan," jelasnya.

Di sela-sela mengelola bioskop dengan konsep yang lebih modern, Mei 2023 lalu keluarga mereka kembali mendapat cobaan karena kebakaran di Malang Plaza.

Seluruh aset di Malang Plaza habis tak bersisa.

"Kalau diperkirakan kerugiannya mungkin lebih dari Rp 15 miliar. Belum lagi, bioskop itu punya nilai historis, sehingga kami pun masih berharap bisa dibangun kembali," imbuh Rudi.

Meski beberapa kali diterpa ujian, tapi semangat Rudi, kakak, dan keluarganya yang lain tetap ada.

Rudi optimistis bahwa bisnis bioskop tetap memiliki segmen sendiri di tengah gempuran film-film yang ditayangkan secara online. (*/dan)

 

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#bisnis #bioskop malang