PANGGILAN untuk kemanusiaan terjadi pada momen yang tidak terduga.
Itulah yang dialami Sarjono, Nur Cholis, dan Sri Subekti.
Disiplin keilmuan ketiganya bukan soal kebencanaan.
Namun mereka terketuk untuk menolong korban bencana.
Sarjono misalnya.
Sebelum mendirikan SAR Trenggono bersama beberapa rekannya, dia merupakan staf bidang kesehatan masyarakat di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang.
Suatu hari ketika Sarjono baru pulang dari bekerja, ngopi bersama tiga temannya di dekat Jalan Ade Irma Suryani, Kota Malang.
Saat itu jam menunjukkan hampir pukul 01.00 dini hari.
Karena lapar, keempatnya memesan rawon tak jauh dari tempat ngopi.
"Waktu menunggu, saya mendengar ada suara anak menangis. Lalu saya cari ke sumber suara," ceritanya.
Ternyata tangisan itu berasal dari boks yang ditempati oleh anak berusia 5 tahun.
Dia berbaring di dalam boks ditemani ibunya yang sedang hamil tua.
Sarjono mengecek kondisi anak perempuan tersebut.
Tubuhnya panas dan perutnya kembung.
"Kemudian saya tanya ibunya. Ternyata anaknya tidak makan sejak siang," ungkap Sarjono.
Perasaannya terketuk.
Mereka lantas membawa ibu dan anak tersebut ke RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA).
Setibanya di RSSA, perawat sempat menolak ibu dan anak itu.
Mereka khawatir tidak ada yang bertanggung jawab atas pembiayaan.
“Saya bilang bahwa saya yang akan bertanggung jawab,” kata dia.
Sarjono akhirnya mengetahui bahwa ibu dan anak itu datang dari Lampung.
Ini karena sang anak rindu dengan ayahnya yang mengaku berdomisili di Malang.
Namun keduanya tidak tahu lokasi tepatnya.
Dari kejadian itu, Sarjono semakin terketuk untuk membantu sesama di bidang sosial.
Pada 2008 lalu, Sarjono bersama beberapa rekannya membentuk SAR Trenggono.
Nama Trenggono merupakan pemberian mantan Kepala Satpol PP Kota Malang Bambang Hariadi.
Diambil dari nama sultan yang dikenal suka membantu rakyatnya.
Total, ada 72 orang dari lintas sektor yang bergabung dalam misi kemanusiaan, terutama para petugas keamanan.
"Saat awal terbentuk, kami hanya bermodal niat," ungkap dia.
Dari segi peralatan, mereka juga hanya punya seadanya.
Salah satunya berupa ban dalam mobil sebanyak 10 unit yang digunakan untuk pelampung.
Kemudian, helm pengaman yang merupakan milik masing-masing.
Bahkan, kantong jenazah juga dibuat dari banner yang dijahit dan diberi resleting.
Beruntung, beberapa anggota SAR Trenggono memiliki latar belakang TNI.
Sehingga untuk meningkatkan keterampilan dalam penyelamatan, mereka sering berlatih bersama.
"Kami sering berlatih water rescue, hard rescue, hingga jungle. Minimal satu bulan sekali," bebernya.
Selama bergerak di bidang kemanusiaan, berbagai pengalaman menarik dia rasakan.
Salah satunya saat melakukan evakuasi korban kecelakaan laut di Pantai Kondangmerak.
Saat itu, ada lima orang yang terseret ombak.
Dalam empat hari, empat orang berhasil diselamatkan.
Namun, satu orang baru ditemukan pada hari kesepuluh pencarian.
Selain Sarjono, ada Nur Cholis.
Berbeda dengan Sarjono, pendiri dari SAR Samudra 888 itu sudah berkecimpung di bidang kemanusiaan sejak usia 11 tahun.
Tepatnya pada 1982 silam, Cholis yang saat itu masih duduk di bangku SD mendapat informasi bahwa adik temannya tenggelam di Taman Harjo, Singosari.
Setelah kejadian tersebut, Cholis mampir ke Brimob Malang.
Kebetulan, salah seorang kakak tingkatnya, Ali Sukoco, yang menjadi pembina pramuka di STM juga mengajaknya berkunjung ke Brimob Malang.
Mereka diajak oleh Brimob bantu-bantu dan diberi pelatihan SAR secara sederhana.
Hingga akhirnya tahun 1985, Cholis direkrut menjadi anggota SAR Brimob Malang hingga tahun 1990.
Pada 2017 Cholis mendirikan SAR Samudera 888.
Selama hampir 40 tahun menekuni dunia SAR, pria 53 tahun itu merasakan banyak pengalaman menarik.
Salah satu pengalaman yang masih diingat Cholis adalah evakuasi kerabat dari salah satu anggota DPRD di bendungan Karangkates yang tenggelam setelah bermain jet sky.
"Waktu habis evakuasi, saya ngopi di warung bersama teman. Posisi sudah ganti baju biasa," cerita Cholis.
Tak hanya para lelaki, dunia kemanusiaan juga sering melibatkan perempuan.
Salah satunya adalah Sri Subekti atau akrab disapa Yuk Sri dari SAR Pakem.
Perempuan kelahiran 1964 itu berkecimpung di dunia kemanusiaan sejak sebelum menikah.
Meski perempuan, Sri dijuluki 'ratu tega' oleh rekan-rekannya.
Ini karena Sri tidak segan-segan mengambil bagian tubuh yang tercecer dari jasad hingga penyisiran ke sungai untuk mencari jenazah.
Namun, belakangan Sri banyak aktif di dapur umum untuk posko evakuasi.
"Agar teman-teman garda depan mendapat asupan makanan, saya berkoordinasi dengan perangkat setempat seperti BPBD, kelurahan, dan RW," ujarnya.
Sama seperti Sarjono dan Cholis, saat evakuasi, Sri kerap merogoh kocek pribadi.
Salah satu yang paling diingat saat Sri membantu evakuasi anak sopir ambulans di SAR Pakem.
Pada 2016 silam, anak sopir tersebut tenggelam di Pantai Bajulmati.
"Waktu itu teman-teman mau berangkat, tapi tidak ada uang. Akhirnya, saya bilang tunggu," ceritanya.
Tanpa sepengetahuan teman-temannya, Sri menjual dua cincin miliknya.
Cincin tersebut laku Rp 1,5 juta dan dipergunakan Sri untuk membantu menambah logistik selama proses evakuasi.
"Prinsipnya, saya ini orang tidak mampu. Saya cuma bisa melakukan hal-hal ini sebagai ladang ibadah," tandasnya. (mel/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana