Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kisah Lutfi Zibahnul Aziz, Dalang Muda Terbaik se-Jawa Timur 2023

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Rabu, 6 Desember 2023 | 23:00 WIB

Lutfi Zibahnul Aziz menerima penghargaan dalam Festival Dalang Muda se-Jawa Timur 2023
Lutfi Zibahnul Aziz menerima penghargaan dalam Festival Dalang Muda se-Jawa Timur 2023

Sisihkan Ribuan Peserta, Mengajar pun Pakai Wayang

Bumi Arema punya dalang muda terbaik. Dialah Lutfi Zibahnul Aziz. Pemuda asal Sumberejo, Kota Batu itu baru saja dinobatkan sebagai Dalang Muda Sabet Terbaik se-Jawa Timur, November lalu. Siapa sebenarnya sosok Lutfi?

AFIFAH RAHMATIKA FURZAEN

KAIN putih membentang di ruang tamu rumah Lutfi Zibahnul Aziz, Dusun Santrean, Desa Sumberejo, Kota Batu. 

Di sudut ruangan terdapat wayang berserakan. 

Kondisi wayang yang tak tertata rapi itu menandakan baru saja dipakai.

Di ruang itulah Lutfi biasa menghabiskan waktu untuk mendalang. 

Selain untuk mengasah kemampuan mendalang, bagi dia mendalang adalah hiburan. 

”Sejak SD saya sudah belajar mendalang. Membuat wayang dari kertas kalender. Kadang juga memakai kardus, kemudian dipasangi lidi,” ujar Lutfi sembari mengambil beberapa wayang lantas ditunjukkan kepada Jawa Pos Radar Malang, beberapa waktu lalu.

Meski cara mendalang Lutfi kecil masih asal-asalan, tapi bakatnya sebagai dalang sudah terlihat. Setidaknya melalui kecintaannya terhadap profesi dalang.

Darah seni, khususnya pedalangan mengalir dari kakek buyutnya. 

Sementara kedua orang tuanya adalah petani. 

Semasa anak-anak, Luthfi kerap melihat kakeknya mendalang. 

Hari-hari Lutfi kecil yang dipenuhi aktivitas wayang itu lantas membuat dia gandrung dengan dunia pedalangan. 

Aktivitas tersebut terus berjalan hingga kelas V SD. 

Kemudian pada 2012, Lutfi yang memasuki kelas VI SD itu bergabung ke Sanggar Seni Kridha Manggala Laras (KML). 

Padahal, kala itu sanggar tersebut baru berdiri dua tahun. 

Selama bergabung di Sanggar KML Kota Batu, Lutfi semakin tertarik dengan dunia pedalangan hingga duduk di bangku SMPN 2 Kota Batu. 

"Awalnya saya tidak langsung bisa memegang wayang. Mulai belajar menabuh gamelan atau iringan saja," ucap pria yang lahir di hari Pahlawan itu.

Dalam waktu bersamaan, Lutfi juga belajar suluk. 

Yaitu, lagu vokal yang dilantunkan oleh dalang dalam mengawali pertunjukan wayang. 

Suluk berisi tembang - tembang dalam bahasa Jawa. 

Pada 2016 ketika Lutfi masuk SMA, dia memberanikan diri untuk mengikuti Festival Dalang Remaja di Kota Surabaya. 

Melihat kemampuan Lutfi sebagai dalang terus meningkat, pihak Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Kota Batu langsung mendaftarkannya. 

Festival Dalang Remaja 2016 adalah kompetisi pertama bagi Lutfi. 

Saat tampil selama 50 menit, dia sempat nervous karena harus menampilkan cerita satu lakon padat di hadapan para juri. 

"Agak minder karena kemampuan juri pasti luar biasa. Bahkan ada juri dari pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta," kata dia.

Meski sempat nervous, dia berhasil masuk dalam 5 Dalang Favorit Kategori Non-Ranking. 

Perjuangan menjadi dalang benar-benar tidak mudah bagi Lutfi. 

Sebab, dia seringkali diremehkan orang di sekitarnya. 

"Orang lain selalu bilang wong bocah kok neko-neko (anak kecil kok aneh-aneh). Tapi, saya tetap menguatkan hati untuk tetap belajar teori pedalangan. Saya percaya bahwa generasi milenial perlu menjunjung nilai budaya dan karakter," papar dia. 

Berkat keseriusan Lutfi untuk terus belajar, dia kembali dipertemukan dengan ajang lebih tinggi yakni Festival Dalang Muda 2023. 

Event tersebut diprakarsai oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim. 

Acara tersebut bekerja sama dengan PEPADI Jatim. 

Setiap peserta Festival Dalang Muda di Jatim harus mengirimkan video berdurasi 45 menit. 

Video tersebut berisi penampilan masing-masing peserta mendalang. 

Lazimnya peserta lain, Lutfi pun membuat video mendalang. 

Dia mengangkat tokoh Werkudara, khususnya tentang Dewa Ruci (nama dewa kerdil yang dijumpai oleh Werkudara atau Bima) dalam sebuah perjalanan mencari air kehidupan. 

Cerita ini berisi ajaran moral dan filsafat hidup orang Jawa. 

"Tokoh wayang favorit saya sejak kecil sampai sekarang adalah Werkudara. Alasannya, dia punya karakter yang patuh terhadap gurunya," tuturnya sambil memainkan wayang Werkudara. 

Berkat video yang dikirimkan, nama Lutfi Zibahnul Aziz diumumkan masuk dalam ajang Festival Dalang Muda 2023. 

Dari ribuan peserta se-Jatim, hanya ada 10 nama yang dapat tampil di hadapan para juri. 

Dari Malang Raya hanya perwakilan Kota Batu yang terpilih. 

Sedangkan, 9 dalang milenial lainnya dari kabupaten/kota lain di Jatim.

Dari 10 nama tersebut, dia meraih penghargaan dalang kategori Sabet Terbaik se-Jatim. 

Ada 3 orang yang menyandang sabet terbaik. 

Di antaranya Kota Batu, Jember, dan Sidoarjo. 

Selain menjadi dalang, pemuda 24 tahun itu juga guru mata pelajaran bahasa Jawa di SMP Raden Fatah Kota Batu dan SMPN 1 Pujon, Kabupaten Malang. 

Dengan pembagian waktu Senin-Rabu mengajar di SMP Raden Fatah dan Kamis-Sabtu di SMPN 1 Pujon. 

"Bagi saya, mengajar itu seperti mendalang. Keduanya punya tujuan yang sama. Yaitu menyampaikan pembelajaran yang baik," katanya. 

Ada salah satu momen yang tidak bisa dilupakan. 

Ketika mengajar bahasa Jawa tiba-tiba ada seorang pelajar bertanya mengapa wayang wajahnya sama semua? Atas pertanyaan itu, Lutfi berinisiatif membawa koleksi wayangnya ke ruang kelas. 

”Kalau pas materi soal cerita pewayangan ya saya menjelaskan sambil memainkan wayang. Karena saya ingin pelajar dapat memetik nilai-nilai karakter yang mulia,” pungkasnya. (ifa/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#dalang muda #jawa timur