Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Gaya Santai Ayu Intan Permatasari Menjalankan Passion di Bisnis Fashion

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Rabu, 13 Desember 2023 | 17:51 WIB

 

Ayu Intan Permatasari
Ayu Intan Permatasari

Hanya Mengisi Waktu Luang, Produknya Malah Laris di Mancanegara

Alih-alih menuruti keinginan ibunya agar menjadi PNS, Ayu Intan Permatasari malah memilih menjadi pengusaha fashion. 

Tanpa modal dan mengandalkan sistem pre order pada awal membangun bisnis, kini Intan bisa mempekerjakan 50 karyawan dengan omzet ratusan juta rupiah per bulan. 

DUROTUL KARIMAH

BERBAGAI model pakaian wanita menggantung di butik Intalicious Project yang buka perdana di Mal Malang Olympic Garden (MOG) beberapa waktu lalu.

Warna-warnanya cerah dan cenderung berani. 

Seperti kuning, merah muda, biru muda, hingga oranye. 

Perpaduan warna itu terkesan bertabrakan. 

Tapi justru menjadi ciri khas dari desain-desain pakaian tersebut. 

Permainan pattern atau pola juga mendominasi di setiap modelnya.

Saat ini, Intaliciuous Project sudah menjadi brand fashion lokal yang banyak digemari oleh pecinta fashion di Indonesia. 

Berdiri pada 6 tahun lalu, produk fashion tersebut awalnya hanya dijual melalui platform online

Seperti website, Instagram, dan juga marketplace

Baru pada akhir tahun ini membuka butik di Kota Malang. 

Saat ditemui Jawa Pos Radar Malang di butiknya, Intan tampak selalu fokus mengawasi penataan display barang agar tampak menarik.

Ketelitian semacam perlu untuk mendukung agar usaha yang dirintis sejak di bangku kuliah tersebut semakin berkembang pesat. 

”Saya memang hobi menggambar baju sejak masih kecil. Dulu sering menjahit hasil desain sendiri untuk dipakai sendiri juga,” tutur perempuan yang kini berusia 29 tahun tersebut.

Jalur pendidikan yang ditempuh Intan sebenarnya juga tidak terlalu connect dengan dunia fashion

Dia merupakan lulusan Prodi Ilmu Gizi Politeknik Negeri Jember. 

Tapi, saat kuliah di kampus itulah, tepatnya pada 2013, jiwa bisnis Intan di bidang fashion terbentuk. 

Banyak teman-temannya yang tertarik pada pakaian yang sering dia pakai. 

Saat kuliah, Intan memang sering mendesain sendiri pakaiannya dengan model blouse dan juga tunik. 

Tambahan motif bunga-bunga pada desain pakaian yang dia pakai makin menarik perhatian teman-temannya. 

Karena banyak yang bertanya, Intan akhirnya menawarkan untuk menjual pakaian karyanya tersebut. 

“Waktu kuliah itu aku belum punya modal. Jadi pakai sistem pre order,” kata Intan. Teman-temannya yang pesan harus membayar terlebih dahulu. 

Uang pre order itu kemudian dia gunakan untuk belanja bahan pakaian. 

Semakin banyak yang pre order, semakin mudah pula bagi Intan untuk memutar uang dan mengumpulkan modal. 

Bisnis itu sempat terhenti karena Intan memilih melanjutkan S2 prodi yang sama di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS). 

“Karena mama saya mendorong saya jadi PNS dan dosen,” ungkap bungsu dari tiga bersaudara tersebut. 

Intan juga belum kembali menekuni bisnis hingga menikah dan tinggal di Kabupaten Probolinggo, mengikuti tempat kerja suaminya yang seorang dokter. 

Saat itu sebenarnya Intan sudah sangat ingin bekerja menjadi dosen PNS. 

Tapi di tempat tinggalnya tidak ada perguruan tinggi yang sesuai dengan disiplin ilmu gizi. 

Untuk mengajar di luar kota, suaminya merasa keberatan jika mereka harus menjalani long distance marriage.

Sempat muncul pikiran bahwa menjadi perempuan yang murni ibu rumah tangga saja bukanlah masalah. 

Tapi pikiran semacam itu hanya muncul sesaat. 

Intan merasa seorang istri juga harus produktif, agar tidak muncul rasa minder dalam dirinya. 

Saat itulah, Intan memulai mendesain baju kembali dan menjualnya melalui Instagram

Bersamaan dengan merebaknya virus Covid-19, produk yang dia jual malah semakin laris. 

Orang-orang lebih banyak melakukan belanja secara online. 

Brand miliknya pun mulai banyak dikenal. 

”Semua kembali ke passion. Karena sudah hobi, akhirnya tidak terasa capek. Aku merasa kerja sambil seneng-seneng,” terang Intan. 

Tahun 2020 terasa sangat menyenangkan bagi Intan. 

Sebab, suaminya dipindah tugas ke salah satu rumah sakit di Kota Malang. Kesempatan untuk mengembangkan bisnis pun semakin terbuka. 

Sebab, saat tinggal di Probolinggo, biaya kirim produk tergolong cukup mahal dibanding di Kota Malang. 

Saat ini, setidaknya 2.000 hingga 5.000 pcs pakaian terjual setiap bulan. 

Bahkan 20 persen langganannya merupakan customer luar negeri.

Seperti Singapura, Malaysia, Aljazair, Turki, hingga Meksiko. 

”Karena di sana warna-warna terang dan ramai banyak disukai,” imbuhnya

Bahkan customer dari Malaysia dan Singapura ada yang menjadi reseller

Mereka memesan langsung hingga 500 pcs untuk dijual kembali di negara masing-masing. 

Sejak awal Intan mengaku sangat hati-hati dalam menentukan kualitas produknya. Bahan dan kualitas jahitan selalu dijaga. 

Para pekerjanya juga memiliki kompetensi yang sesuai. 

Sebanyak 52 penjahit yang bergabung merupakan lulusan SMK jurusan tata busana di Jember dan Surabaya. 

”Aku juga bekerja sama dengan para guru SMK di sana untuk memantau produksi tersebut. Jadi bisa sesuai dengan kualitas yang sudah ditentukan,” imbuh perempuan kelahiran Jember tersebut. 

Karena kantor dan butiknya berada di Malang, semua bisa dikendalikan sendiri. 

Dia juga tidak pernah resah ketika penjualan produknya mengalami sedikit masalah atau penurunan. 

Sebab, bisnis itu dijalankan untuk mengisi waktu luang. 

”Semua bisa dijalani dengan tenang,” pungkasnya. (*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#bisnis fashion #Kota Malang